
Seusai bercinta habis-habisan di dalam mobil yang serasa terbakar itu, akhirnya kami keluar dari garasi, menenteng pakaian kami sambil bergandengan tangan.
Di dalam, Daddy berkata dia ingin dibuatkan omelet gulung dengan sosis dan ekstra sayur. Dia tak ingin makan nasi katanya, dan sebagai gantinya dia minta dibuatkan omelet dalam porsi yang benar-benar mengenyangkan.
Sementara aku mengenakan kembali pakaian dalamku dan mulai menyiapkan telur dan bahan-bahan lain, Daddy bergegas mandi dengan cepat. Saat ia selesai mandi dan kembali ke lantai bawah dengan kaus dan celana pendeknya, aku tengah memecah telur dan mengocoknya, lalu memasukkan sayur-sayur yang sudah kupotong, Daddy sangat suka bawang bombay dan irisan kol di dalam omelet sayurnya, juga taburan keju serut di atasnya nanti.
"Kokiku yang seksi," komentar Daddy saat melihatku berdiri di depan counter dapur hanya dengan pakaian dalam. Suara langkah kakinya terdengar tepat di belakangku dan semakin dekat. "Butuh bantuan?"
Huh! Mengucapkan itu saja dia mesti berbisik di telingaku, membuatku bergidik. Apalagi merasakan napasnya yang hangat di tengkukku, lalu seperti kebiasaannya: ia mendaratkan ciuman mesra di bagian belakang leherku.
"Tidak perlu," kataku. Aku mulai menaruh lapis pertama omeletku dan sebatang sosis di atasnya, lalu menggulungnya perlahan dan menambahkan lapisan berikutnya.
Sambil menelusurkan telapak tangannya yang masih dingin ke punggung dan lekuk-lekuk tubuhku, aku tahu matanya tak lepas dari tubuhku. Yeah, aku memaklumi kelakuannya yang terlalu mengagumiku dengan semua cinta dan hasratnya.
"Aku lapar," katanya. "Benar-benar lapar. Bagaimana kalau kita matikan dulu kompornya? Kita bisa...."
Iyuuuh... aku tertawa geli dibuatnya. "Aku tahu kamu hanya menggodaku, ya kan?"
"Kalau kamu mau, kenapa tidak."
__ADS_1
"Memangnya belum puas? Kan--"
"Tidak akan pernah puas, Kejora."
"Hmm... kita sudah bercinta habis-habisan, dua kali malah."
"Lalu kenapa? Aku sanggup bercinta lagi." Lalu ia berbisik, "Gairah cintaku padamu tak akan pernah padam, Kejora."
Ih, gemas. Aku tahu gairahnya terhadapaku tidak akan pernah padam. Tapi kan...
"Segala sesuatu yang berlebihan itu tidak enak, Suamiku Sayang. Tak terkecuali bercinta. Besok lagi, ya. Oke?"
Dalam kelembapan subuh yang dingin, saat aku turun dari ranjang dan menyibukkan diri di dapur, dia yang baru terbangun langsung menyusulku.
Aku tengah memasukkan wortel dan kentang ke dalam panci. Semalam Daddy bilang dia kepingin sup spesial ala Oma. Jadi aku langsung memenuhi keinginannya pagi itu. Juga, keinginannya yang lain.
Saat ia turun dan masuk ke dapur, dia langsung memelukku, plus mendaratkan satu ciuman di leherku. "Selamat pagi, Sayang. Aku mencintaimu. Happy wedding yang ke tiga hari."
Ckckck! Lagi-lagi dia membuatku tertawa geli: bentuk kebahagiaan kecil yang ia salurkan kepadaku di pagi yang masih gelap ini. "Apa yang kamu inginkan? Hmm? Pasti ada maunya, ya kan?"
__ADS_1
Dia tidak menyahut, hanya langsung menurunkan ritsleting gaun tidurku dan melepas semua pakaian yang menempel di tubuhku.
"Apa yang kamu lakukan?"
"Jelas-jelas aku sedang membuatmu polos."
"Tapi aku sedang memasak...."
"Hanya tinggal menunggunya mendidih, kan?"
"Tapi garamnya belum."
"Itu bisa menyusul. Membahagiakanmu, itu yang utama."
Oh, Daddy... dia terlalu manis.
"Jangan tanya apa yang ingin kulakukan," bisiknya seraya mengajakku bergeser sedikit dari hadapan kompor yang menyala. Dengan terampil seolah dia memang ahlinya, dia membuatku mencondongkan tubuh dan memperlebar interval kakiku. Dengan memperdengarkan desisan tertahan, ia membenamkan diri dan menyalurkan kehangatan dari dirinya yang entah sejak kapan sudah on fire. Dia hidup, mendamba, dan dengan mudahnya menyelinap masuk ke dalam singgasananya. "Ukh...! Tak ada yang lebih nikmat darimu, Kejora. Kamu yang terbaik."
Oh, Tuhan... dia membuat dinginnya cuaca pagi ini menjadi sehangat belaian sinar mentari.
__ADS_1