
Aku melewatkan masa skors yang kujalani hanya dengan fokus belajar. Menuruti pesan Daddy yang tak ingin aku online, kutaruh jauh-jauh ponselku dari tempatku berada dan memasang deringnya keras-keras. Aku hanya akan menyentuhnya apabila ada panggilan telepon masuk atau sekiranya ada pesan yang penting. Tapi aku sudah meminta Dinda dan Tiara untuk langsung menelepon jika ada yang ingin dibicarakan. Dan, tanpa kuminta pun mereka pasti mengerti untuk tidak menyampaikan apa pun kepadaku tentang artikel sampah itu.
Entah kenapa aku bersyukur atas masa skors ini, aku jadi tak mesti pergi ke mana pun, apalagi bertemu Sandra, Rhere dan Riko. Toh, semua nilaiku bagus, nilai Tiara juga semuanya bagus, jadi kami tidak perlu ikut remidial satu mata pelajaran pun. Sedangkan, untuk tugas-tugas dan PR yang belum kami kumpulkan, aku dan Tiara menitipkan itu kepada Dinda melalui Pak Ujang.
Pada hari sabtunya, aku dan Tiara kembali masuk ke sekolah hanya untuk mengambil nomor peserta ujian, dan sepulang dari sekolah Oma mengizinkanku untuk menjemput Daddy di bandara.
Ah, pengertian sekali dia. Dan aku suka sekali momen ini, di mana aku akan bertemu pangeranku, si pria dewasa yang membuat hatiku dipenuhi rasa rindu yang menggebu-gebu.
Aku sudah menunggu Daddy di terminal kedatangan ketika ia tiba. Aku langsung melihatnya. Dia menjulang di atas orang lain, dan aku merasakan serbuan kebahagiaan karena akhirnya kami bertemu kembali. Priaku, yang amat kucintai dengan sepenuh hati.
__ADS_1
Kubuka maskerku dan aku berlari ke arahnya, lalu dia menggendongku sesaat bak adegan di dalam film. Setidaknya adegan ini lebih baik karena tidak ada sutradara yang menyerukan "cut!" ketika momen manis berlangsung.
"Aku sangat merindukanmu," katanya.
Uuuh... aku mendongak dan tersenyum. "Aku juga merindukanmu," kataku, lalu dia mencium keningku. "Ayo, kita ambil kopermu dan kita langsung pulang. Oma sudah menunggu kita di rumah."
Menyadari hal itu, aku baru hendak memasang maskerku kembali namun Daddy merebutnya dariku.
"Kejoraku cantik. Tidak perlu ditutupi," ujarnya.
__ADS_1
Aku terkejut, namun tidak bisa berbuat apa-apa.
"Tidak ada yang perlu ditakuti, Kejora. Ada aku di sini, dan semuanya akan baik-baik saja." Dia menggenggam tanganku dan menggandengku hingga ke parkiran.
Well, tidak perlu memakai masker. Sekarang yang harus kulakukan hanyalah menghadapi badai status selebriti mendadak yang tidak diinginkan.
Dan, gilanya, Daddy justru mengajakku berkeliling supermarket di salah satu mall besar di kota metropolitan ini. Awalnya aku menolak, tapi ia memaksa. "Latihan mental," katanya. "Kamu akan bertambah kuat dan tak akan pernah rapuh saat kita menikah nanti -- dengan kemungkinan akan ada banyak orang yang menghujat kita. Kamu tidak perlu menghindar. Hadapi dan tersenyumlah. Oke?"
Aku hanya bisa mengangguk.
__ADS_1