
Segera setelah aku merasa lebih baik sore itu, aku ingin lekas-lekas mandi. Daddy yang menggendongku ke lantai atas. Aku sudah bilang kalau aku sudah lebih baik, tapi dia tetap ngotot untuk menggendongku dan membantuku mandi.
Mandi membuatku segar. Daddy meninggalkanku sebentar sewaktu aku berpakaian dan kembali lagi ke kamar dengan secangkir cokelat hangat di tangannya. Sewaktu keluar dari kamar, dia berpesan bahwa aku tidak boleh ke mana-mana, jadi setelah berpakaian aku duduk saja di ranjang menunggunya kembali dari dapur. Selain secangkir cokelat panas, Daddy juga membawakan sepiring apel dan semangka segar yang sudah ia potong-potong dan aku tinggal menyantapnya.
"Terima kasih. Aku sangat beruntung," kataku.
Dia tersenyum kepadaku, dan masih dengan sabarnya, dia menanyakan bagaimana perasaanku.
"Aku sudah baik-baik saja, kok."
"Ingin menceritakannya sekarang?"
"Oh, soal itu...."
"Please?"
Mungkin memang sudah saatnya. Kuanggukkan kepalaku lalu memberitahu Daddy tentang semuanya, tentang Riko yang mengintaiku sampai di depan rumah, cara dia menatapku di sepanjang acara perpisahan sekolah, juga menunjukkan pesan whatsapp-nya yang sarat akan niat buruk -- yang hanya dia sendiri yang tahu, apakah dia akan merealisasikan niat buruknya itu ataukah sekadar iseng untuk menggodaku? Entahlah.
__ADS_1
"Blokir kontaknya," perintah Daddy. "Kalau dia nanti menghubungimu lagi dengan nomor lain, beritahu aku."
Aku mengangguk. Aku mesti menceritakan semua kekhawatiranku juga, pikirku. Seraya memejamkan mata, aku menarik napas dalam-dalam dan berkata, "Sebelum skandal foto kita viral waktu itu, Riko pernah memintaku menemaninya untuk satu malam, dengan timbal balik bahwa dia akan membantuku supaya foto kita tidak tersebar. Bahkan... waktu itu secara terang-terangan dia mengatakan kalau dia berharap kalau aku masih perawan. Aku rasa dia benar-benar masih terobsesi untuk...." Aku mengedikkan bahu. "Aku takut," kataku. "Aku takut kalau hidupku ini benar-benar akan seperti reinkarnasi dan mengalami hal yang sama. Aku...."
"Cukup!" Daddy memotong dengan nada dingin, lalu merangkulku. Aku bersandar di dadanya, menangis.
Sialan! Entah kenapa, aku tidak bisa menahannya. Tanpa kusadari kali ini aku bersikap tolol. Selain itu, aku membuat Daddy teringat masa lalunya, dengan rasa bersalahnya dan ketidakberdayaannya untuk menyelamatkan kekasih hatinya yang dulu.
Aku merasa serba salah. Tapi aku tahu, sebagai seorang istri aku wajib memberitahu suamiku apa pun yang terjadi kepadaku. Seburuk apa pun itu dan segala risikonya, termasuk kalau itu membuat hatinya tercabik-cabik oleh kenangan buruk, juga oleh rasa bersalahnya di masa lalu.
"Aku tidak tahu mesti mengatakan apa. Aku bahkan pernah memiliki kecemasan yang sama. Dan kukira setelah kita menikah... tidak, tidak. Jangan khawatir, ya. Tidak akan terjadi apa-apa. Kuncinya kamu jangan pernah sendirian, dengan begitu dia tidak akan melakukan apa pun padamu. Aku akan selalu menjagamu, Kejora. Aku akan menjamin keselamatanmu dengan nyawaku. Tenang, ya. Semuanya akan baik-baik saja."
Kami pun berpelukan untuk waktu yang cukup lama. Setelahnya, Daddy menyuruhku menghabiskan buah-buahan itu dan cokelat panasku, sementara ia pergi mandi. "Jangan ke mana-mana. Diamlah di situ. Oke?"
"Ya," kataku. "Aku tidak akan ke mana-mana." Aku tersenyum untuk meyakinkannya kalau aku sudah baik-baik saja, lalu ia menutup pintu di belakang punggungnya.
Sebenarnya, hari ini masa siklus bulananku sudah selesai, tapi suasana hatiku sangat buruk dan tubuhku sangat lelah. Aku tidak memberitahu Daddy tentang itu supaya ia tidak berpikir untuk mengajakku bercinta. Tubuhku butuh istirahat. Aku ingin adegan bercinta kami dimulai dengan perasaan penuh gairah. Dan kurasa besoklah saatnya. Malam ini aku harus mengistirahatkan tubuhku supaya besok aku kembali fit dan siap bercinta: seperti sepasang pengantin baru lagi.
__ADS_1
Ah, gesrek! Aku tersenyum sendiri. Pasti asyik, pikirku. Sudah seminggu absen, tentu saja Daddy akan kembali bergairah seperti kuda jantan yang liar. Dan aku sangat merindukan keperkasaannya.
Beberapa detik berikutnya, aku tengah menurunkan kakiku dari ranjang saat Daddy keluar dari kamar mandi. Dia sudah rapi dengan piyamanya dan tengah mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil di tangannya.
"Mau ngapain?" tanyanya.
"Mau menaruh ini ke--"
"Biar aku saja."
"Baiklah kalau begitu. Terima kasih, Daddy."
Dia menaruh handuk ke sandaran kursi kayu di depan meja belajarku, lalu lekas mengangkat nampan bekas buah dan cokelat itu dan menaruhnya ke atas meja. "Tidurlah," perintahnya padaku.
Aku pun merangkak ke bantal dan berbaring, disusul Daddy yang menyelimutiku dan memandangiku beberapa saat. "Selamat tidur," ucapnya. Dia tersenyum lalu mencium keningku dan mengelus rambutku dengan sayang. "Mimpi yang indah, ya."
Yeah. Aku bergelung di tempat tidur, meringkuk dan mengangguk. Tapi aku tak yakin akan mengalami mimpi yang indah.
__ADS_1
Tidak selama firasat buruk mendengung-dengung di dalam otakku.