
Aku bergerak-gerak gelisah, berusaha menemukan posisi yang nyaman. Kucoba untuk meletakkan lengan di bawah kepala untuk menyesuaikan posisi bantal, tapi tanganku tetap di tempat. Tak mau bergerak.
Sambil mengernyit, aku melihat ke sekeliling. Keadaan di kamar terlalu gelap sehingga aku tak bisa melihat apa pun. Rasa takut mulai merayapiku, cemas, panik, semua rasa menjadi satu. Kugerak-gerakkan bahu, kupaksakan tanganku bergeser. Tetap tidak bisa.
Aku mengernyit lagi, berusaha bangkit, berusaha fokus. Nihil.
Aku tetap tak mampu bergerak.
"Tolong!" Aku membuka mulut untuk membentuk kata itu tapi tidak ada suara yang keluar. Tenggorokanku meregang dan menyempit, tapi tidak ada suara.
Aku mencoba berteriak lagi. Terengah. Tapi tetap saja, tak terdengar apa-apa.
"Tidak ada yang dapat mendengarmu, bodoh!" kata suatu suara di telingaku. "Hanya ada kau, aku, dan cinta di sini."
Aku cemas. Aku merasa ada yang menghimpit tubuhku, lalu memaksa merenggangkan kakiku.
Aku bertahan. Kurapatkan kuat-kuat kakiku namun aku tak berdaya. Aku kalah. Kakiku terbuka.
"Aku sudah lama menunggumu. Menunggu momen manis ini," katanya mendayu-dayu sambil membelai kulitku. "Sekarang kita berbaring di sini, bersama. Kita akan memadu kasih. Akan kuberikan kau kenikmatan yang lebih daripada yang diberikan oleh suamimu yang tua itu."
Tidak! Tidak!
Aku menggeleng-geleng. Berusaha untuk bangkit. Rasa ingin menggapai-gapai, namun tak ada yang bisa kuraih.
Ini mimpi. Kau sedang bermimpi. Ini tidak nyata. Cukup buka matamu dan lihatlah sendiri. Ini mimpi. Hanya mimpi.
"Aku memujamu, Sayang. Kau begitu indah. Aku ingin merasakanmu, di sini." Dia mencumbu dadaku dengan lidahnya. "Nikmat sekali." Bibirnya menjumput, menarik-nariknya dengan kuat.
Jijik! Aku jijik!
Tolong! Siapa pun, lepaskan aku!
"Sayang...." Jemarinya menyelinap, masuk, dan mencapai dasar, lalu bergerak-gerak kasar dan kuat. Kepalan tangannya menghantam dinding luarku.
Sialan! Bedebah! Berengsek!
Aku menangis.
__ADS_1
"Apa kau menyukainya?" tanyanya. "Akan lebih menyenangkan kalau aku benar-benar masuk dan bersatu denganmu. Kau ingin merasakannya, kan? Aku akan turun, Sayang."
Oh, Tuhan... kenapa Kau jahat padaku?
Si bajingan itu turun ke pahaku. Wajahnya terbenam di sana. Mencicipi, menarik-narik beberapa kali hingga aku merasa tersedot di dalam mulutnya yang menjijikkan. Tapi aku mengg*linjang jua. Sialan!
"Nikmat, bukan?" Dia kembali naik, sejajar denganku. Lalu...
Lalu...
Dia memasukiku. Sedikit. Dia nyengir seperti setan.
"Satu...."
"Jangan...."
"Dua...."
"Kumohon...."
"Ti...."
Aku tidak bisa menahan jeritan ketakutan dan penderitaan saat itu. Dan akhirnya ada suara yang keluar. Tanganku terbuka, lalu mencengkeram seprai.
Bedebah! Dia berhasil masuk.
"Kau nikmat sekali, Kejora. Bahkan aku belum bergerak pun aku sudah bisa merasakan enaknya surgamu. Jepitanmu nikmat. Terasa menggigit-gigit."
Tubuhku terguncang oleh tangisan. "Keluar dari tubuhku! Bebaskan aku dari sini, Penjahat!"
Dia tertawa. Tawanya memenuhi benakku.
"Inilah saatnya, Sayang." Dia mengangkat pinggul, lalu....
Menghentakku.
Aku hancur.
__ADS_1
"Nikmat, kan?"
"Bajingan!"
"Bersikaplah manis, Kejora."
"Bajingan!"
"Baiklah kalau kau ingin aku bermain kasar."
"Akh! Hentikan!"
Plok!
"Hentikan!"
"Nikmati, Sayang."
"Berhenti, Bajingan...."
Tapi ia malah bergerak lebih cepat. Menyerangku membabi-buta. Gerakannya terasa sangat kasar. Seperti balok kayu yang menusuk-nusuk hingga aku kesakitan.
Aku menangis tersedu-sedu.
Namun, pada bagian terakhir itu aku baru menyadari tanganku terikat. Lalu terjadi keanehan, aku seolah datang dari arah yang lain.
Bagaimana bisa? Aku ada dua?
Lalu, siapa... siapa yang terbaring? Aku yang mana?
"Bagaimana? Kau puas?" Dia bertanya padaku yang terbaring. "Mari, kita lakukan lagi."
Berengsek!
Tiba-tiba aku berhasil mendapatkan kekuatanku. Aku bergerak, bergeser ke samping, dengan sepenuh kekuatan aku turun dari ranjang. Kemudian...
Bug!
__ADS_1
"Auwwwww!"
Aku tergeletak di lantai.