
Sepulang sekolah, Pak Ujang menjemputku. Itu berarti Daddy sudah sampai dan menggantikan Pak Ujang menunggui Oma di rumah sakit. Dan, di sepanjang perjalanan, hatiku berdebar -- sekaligus berbunga-bunga memikirkan keberadaannya yang sebentar lagi akan kutemui.
Ah, lagi-lagi aku mesti menegur diriku sendiri, mengingatkan kalau pertemuan ini dalam suasana yang cukup berduka.
Namun tetap saja, aku menghela napas dalam-dalam sewaktu kami berderu ke pelataran parkir dan membelok ke tempat kosong pertama. Begitu Pak Ujang mematikan mesin, aku keluar dari mobil dan berjalan cepat ke ruang rawat Oma. Di sana aku mendapati Daddy duduk di salah satu kursi di ruang tunggu dengan secangkir kopi di tangannya.
"Hai," sapaku.
Ya Tuhan, aku tak bisa mengontrol diri betapa aku senang melihatnya, dan betapa senyuman itu menggetarkan hatiku ketika ia menoleh. Ini berbeda rasanya ketika aku melihatnya via video call selama enam bulan terakhir. Apalagi tatapannya, jelas ada kerinduan di sana -- untukku.
"Sudah pulang?" tanyanya sambil berdiri dan memelukku sekilas.
Aku hanya mengangguk, mencium tangannya seperti kebiasaanku setiap kali ia pulang, lalu duduk di kursi besi -- persis di sampingnya. Dan mengenai pertanyaan itu, itu pertanyaan yang tak membutuhkan jawaban.
"Bagaimana kabar Oma?" tanyaku.
"Katanya sudah lebih baik. Sudah sempat bangun juga tadi. Sudah makan dan minum obat."
"Syukurlah. Aku merasa bersalah atas semua ini. Maaf, ya? Aku tidak menjaganya dengan baik. Aku lalai."
Daddy menggeleng. "Bukan salahmu," katanya. "Orang tua memang suka menegur anaknya supaya tidak bandel, tapi dirinya sendiri malah suka sekali melanggar aturan." Dia meraih tanganku dan menggenggamnya. "Ini sama sekali bukan salahmu."
Aku menggumamkan terima kasih, lalu bersandar di kursiku.
"Eh, tadi bagi raport, ya? Mana? Coba kulihat."
Oh, dia tidak melupakan itu, seperti biasanya. Meski Oma yang biasanya lebih dulu memeriksa nilai-nilaiku dan menceritakannya kepada Daddy, Daddy tetap ingin melihatnya sendiri -- secara langsung.
"Ini," kataku seraya menyerahkan raport-ku kepadanya setelah mengeluarkannya dari dalam tas.
Aku bukan murid berprestasi yang menyandang peringkat pertama. Namun, aku sudah puas dengan nilai-nilaiku dan peringkatku yang selalu masuk tiga besar. Tidak apa-apa, aku tahu, sekeras apa pun aku belajar, peringkat pertama di kelasku tak akan pernah terganti oleh murid yang lain, termasuk olehku.
"Bagus," komentarnya sambil manggut-manggut.
__ADS_1
"Mmm-hmm... hadiahnya?"
"Apa pun yang kamu inginkan. Asal--"
"Hanya pelukan yang erat. Aku kangen."
Daddy tersenyum. "Nanti," bisiknya. "Tidak enak dilihat keluarga pasien yang lain."
Aku mengerti itu, meski aku tidak tahu -- "nanti" itu kapan?
"Makan siang, yuk? Mumpung Oma sedang istirahat. Nanti biar Pak Ujang yang menunggu di sini."
Aku mengiyakan. Dia pasti lapar, pikirku. Sedari tadi ia menunggu di sana karena tidak ingin meninggalkan ibunya sendirian. Setelah Pak Ujang datang dan menggantikan kami untuk menunggui Oma, aku dan Daddy pergi ke kantin rumah sakit untuk makan siang. Dia mesti makan nasi yang banyak.
"Ehm, aku ingin meminta maaf," kata Daddy sebelum makan, seakan-akan hidangan di depan kami itu tidak menggugah selera sebelum ia menyampaikan apa yang tersimpan di dalam benaknya.
Praktis dahiku mengernyit. "Minta maaf untuk apa?"
"Oh, soal itu. Tidak apa-apa. Aku mengerti, kok."
"Em, sebenarnya aku tidak ingin mengecewakanmu. Tapi...."
Kuulurkan tanganku di atas meja dan ia menggenggamnya. "Yang penting kamu bersamaku. Itu sudah cukup."
"Trims," katanya seraya mengelus punggung tanganku dengan jemarinya.
Aku tersenyum. "Itu bukan masalah," ujarku. "Berterimakasihlah dengan makan yang banyak. Supaya sehat dan selalu kuat menjadi penopang untuk aku dan Oma."
Ah, senangnya melihat Daddy balas tersenyum, dan ia pun makan dengan lahap.
"Omong-omong, apa ada yang merindukanku?"
"Tentu saja. Bahkan, lebih dari rindu," sahutnya.
__ADS_1
"O ya?"
"Em, sayang situasinya tidak mendukung. Kalau tidak... mungkin aku tidak akan makan nasi di sini."
Aku nyaris tergelak. Untung saja aku berhasil menutup mulutku dengan punggung tanganku. Omongan Daddy membuatku terkenang akan manisnya hari terakhir pertemuan kami enam bulan yang lalu.
Oh, no... tahan, Kejora... enam bulan lagi. Eh?
Haha!
Setelah makan siang, kami kembali ke ruang perawatan Oma. Tidak banyak yang kami bicarakan karena Oma masih tidur. Jadi, kami hanya menonton televisi dengan jarak aman. Yeah, aku tahu. Sama sekali tidak etis bermesraan di saat seperti ini.
Akhirnya, setelah menit-menit berlalu dan hari menjelang sore, Daddy menyuruhku pulang.
"Apa aku tidak boleh di sini?"
Daddy menunduk menatapku. "Sayang... tidak ada gunanya kita menghabiskan malam di kursi yang tidak nyaman. Pulang, ya? Bisa, kan, terus mendengarkan dan mematuhi perkataanku?"
"Ya, tapi...."
"Sudah sore. Nanti terjebak macet."
"Dad...."
"Seorang gadis--"
"Mesti ada di rumah sebelum magrib. Aku tidak lupa itu."
"Bagus. Gadisku yang penurut." Dia menarikku ke pelukannya dan mendekapku erat-erat, kemudian ia berbisik, "Terima kasih sudah setia menungguku. Aku juga merindukanmu."
Hanya beberapa kata, tetapi kata-kata itu mampu menghangatkan sekujur tubuhku.
Sambil tersenyum, aku meninggalkan rumah sakit. Aku bahkan masih tersenyum ketika naik ke tempat tidur, berharap ia -- Gibran Aditama -- akan menemaniku di alam mimpi. Aamiin....
__ADS_1