Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Carita, I am Coming!


__ADS_3

Beberapa hari berikutnya berlalu cukup damai, walaupun kadang-kadang aku ingin menjerit karena rasa frustasi. Sejak Daddy pulang karena Oma sakit, belum sekali pun ia menciumku -- yang tak bisa kupungkiri, aku merindukan ciumannya. Kalau Daddy menciumku sekali saja, mungkin hal itu bisa meredakan kebutuhan yang menyesakkan bagiku. Membuat rongga di dalam dada ini terasa plong. Mungkin.


Yeah, selama beberapa hari ini, aku melakukan rutinitas yang monoton: bangun pagi, memasak, mandi, bersiap-siap, lalu pergi ke rumah sakit. Dan kami hanya menghabiskan sepanjang hari di ruang tertutup itu, menonton televisi atau sekadar mengobrol. Meski monoton, itu lebih baik daripada aku berdiam diri di rumah. Mumpung Daddy sedang berada di Jakarta, aku tidak ingin jauh-jauh darinya. Lalu, seperti biasa, sore harinya aku pulang, dan hanya ada pesan-pesan whatsapp dari Daddy sebagai pengantar tidur untukku yang sangat merindu. Termasuk pada malam pergantian tahun, seperti itu juga adanya.


Ah, hanya pergantian tahun, itu tak berarti apa-apa. Justru aku senang tahun sudah berganti. Januari sudah datang. Dan, hanya butuh beberapa bulan untuk sampai ke bulan Juli. Bulan kelahiranku dan aku akan menginjak usia delapan belas tahun.


Pagi tahun baru itu seperti biasa, aku sudah siap dengan rantangku, dan derum mesin mobil juga sudah berseru memanggilku. Aku membuka pintu, masuk dan duduk. Tetapi...


"Mau ke mana, Non?"


Eh? Aku nyaris saja terlonjak. Bukan Pak Ujang yang duduk di belakang kemudi. Oh Tuhan....


"Dad? Kok? Daddy ada di sini?"


Senyum manisnya menyapaku. Dan bak sekali lompatan, aku pindah duduk ke kursi depan. Mode manja otomatis aktif. Aku memeluknya dan ia balas memelukku. Dan aku berharap dia menciumku.


Kali ini yang terjadi sesuai harapanku. "Selamat tahun baru," ucapnya. Mataku memejam ketika ia menciumku. Kegembiraan menjalari diri, panas dan perlahan, seperti madu di musim panas yang hangat.


Aku menggigit bibir bawah Daddy dengan lembut. "Selamat tahun baru. Aku sangat merindukanmu."


"Aku juga sangat merindukanmu."


"Em, rindu yang berat."


"Well, mau ke mana kita?"


Alisku bertaut. "Ke mana? Maksudnya? Kita tidak ke rumah sakit menjenguk Oma?"


"Ada Pak Ujang yang menjaga Oma."


"Oh, oke. Kenapa tadi tidak masuk dulu?"


"Dilarang Kanjeng Ratu," katanya, ia terkekeh.

__ADS_1


Hmm... aku heran. "Oma? Memangnya kenapa?"


"Dilarang ya dilarang, Sayang. Dia menyuruhku mengajakmu jalan-jalan, tapi aturannya tidak boleh berduaan di dalam rumah. Dan jangan tanya kenapa. Kamu mengerti itu."


Aku mengangguk, lalu bersandar di kursi. "Ya, aku mengerti. Jadi kita mau ke mana? Terus, makanan ini? Bagaimana?"


"Biar saja. Untuk kita makan siang nanti. Dan sekarang," -- dia mendekat, lalu menciumku dengan ekstra, super lama, dan super mesra -- "kita akan pergi ke mana pun yang kau inginkan. Ke mana pun... Sayang."


Ah, mesra sekali bisikannya. Aku tersenyum malu. "Tidak mau ke mana-mana, di sini saja, bersamamu."


"Gadis nakal," ledeknya, ia mencubit gemas pipiku, lalu membelaiku dengan buku-buku jemarinya hingga berhenti di bibir. "Tidak boleh di sini. Aku takut tergoda dan membawamu masuk ke dalam rumah."


Yeah, aku tahu itu. Kalau itu terjadi, aku juga takut tidak bisa menolaknya. Aku tahu diriku haus akan sentuhan dan belaiannya.


"Mungkin seperti kebanyakan remaja, mau nonton bioskop? Atau ke pantai? Bagaimana?"


Aku mengangguk. "Pantai, please?"


"Baiklah."


"Apa?"


"Tidak usah dibahas."


"Hmm...." Dia menggenggam tanganku. "Katakan saja, Sayang."


Kutundukkan kepalaku sejenak. "Aku ingin ke Carita, bukan ke Ancol."


"Pantai Carita?"


"Hu'um."


"Pandeglang, ya?"

__ADS_1


"Em, tapi kalau keberatan tidak usah, tidak apa-apa. Aku tahu itu sangat jauh."


Daddy mencium punggung tanganku, lalu tersenyum. "Tahun baru untukmu. Kita akan pergi."


"Tapi, apa Oma mengizinkan kalau kita pulangnya sore?"


"Ini kemauannya. Oke? Sekarang masuklah sebentar, ambil pakaian ganti. Kurasa kita membutuhkannya."


"Tentu saja. Tunggu sebentar, ya. Aku tidak akan lama," kataku. "Eh, tapi apa tidak apa-apa kalau aku masuk ke kamarmu?"


Daddy tersenyum nakal. "Kalau Kanjeng Ratu tidak melarang, kita akan mengambilnya berdua."


Ih, gesreknya kumat!


Aku segera keluar dari mobil, cepat-cepat masuk ke dalam rumah dan mengambil pakaian ganti, untukku, juga untuk Daddy.


Sekembalinya aku ke mobil, Daddy sedang sarapan. Dia nyengir melihatku. "Omelet yang enak," pujinya.


"Tentu saja. Aku cepat belajar. Demi kamu."


"Terima kasih. Bisa suapi aku sementara aku menyetir?"


"Modus, ya? Tapi okelah. Akan kulakukan apa pun untukmu."


Daddy mengulum senyum. "Terdengar seperti kode."


Hah!


Kutaruh tas pakaian kami di kursi belakang, sementara Daddy memasukkan persneling dan menginjak pedal gas.


"Carita, I am coming...!" seruku.


Aku mencondongkan tubuhku dan mengecup pipi Daddy. Dia tampak senang karena aku senang. Tidak ada Malang, Pandeglang pun jadi. Asalkan bersama Daddy, bagiku di mana pun akan terasa seperti di surga. Yeah, walaupun butuh waktu tiga jam untuk sampai ke Carita, tapi perjalanan ini menyenangkan. Kami mengobrol ringan di sepanjang perjalanan, sambil sesekali Daddy menggenggam tanganku, membelai pipiku, dan senyumnya seakan tak henti mengembang.

__ADS_1


Well, aku tahu, ini kesempatan untuk bebas menyentuhnya.


Eh? Ups!


__ADS_2