
"Hai, Mas Gibran...," seru Dinda dan Tiara kompak saat Daddy membukakan pintu.
Dua sahabatku itu sangat gokil. Tak ada segan-segannya untuk menggoda Daddy dengan bercanda seperti itu.
"Nyonya Gibrannya ada?" Dinda bertanya.
"Ada. Silakan masuk. Istriku tercinta ada di dapur."
"Dasar kalian ini," kataku yang menghambur ke depan. "Daddy juga ikut-ikutan."
Mereka tertawa, pun Daddy. "Salahnya di mana? Kan memang istriku. Istri tercinta."
"Tidak salah. Tapi cara kalian yang menjadikannya bahan lelucon, itu tidak lucu, tahu! Sama sekali tidak lucu...."
Dasar, Daddy malah nyengir kesenangan. "Aku hanya mengikuti alur," sahutnya.
Menyambut sekantung besar keripik dari tangan Tiara, aku segera kembali ke dapur dan mereka berdua mengikuti.
"Lu lagi dapet, ya?" tanya Tiara.
"Em."
"Pantas sensi."
__ADS_1
"Masa? Tidak juga, ah. Gue biasa saja."
"Beda. Pasti gara-gara lama puasa bercinta."
"Eh?" Aku melotot. "Tidak ada hubungannya, Kawan."
"Sudah, lupakan soal itu." Dinda menyorongkan paper bag kepadaku. "Pakai ini untuk acara perpisahan. Kita bertiga nanti kembaran. Oke?"
Ya ampun... kedua sahabatku ini. Mereka begitu ngotot sampai membelikanku seragam kembaran dengan mereka. Aku tahu, ini bukan hal aneh. Dinda memang seperti itu.
"Jangan membuat kami merasa tidak lengkap," bujuk Tiara yang melihat penolakan di wajahku. "Itu hari terakhir kita menginjakkan kaki di sekolah sebelum mengambil ijazah. Lu harus datang. Oke?"
Masih ragu, aku menggeleng dan seakan bergumam sendiri, "Aku tidak akan berdandan hanya untuk mendengar orang lain melontarkan penilaian buruk tentang Daddy."
"Jangan berpikir negatif dulu, dong...."
"Hai, Ladies," Daddy menyela. "Bisa tinggalkan aku dan kekasih hatiku sebentar?"
Dinda dan Tiara mengangguk paham.
"Tunggu di halaman belakang," kataku. "Bawa camilannya sekalian."
Ah, tanpa kusuruh pun mereka akan melakukan itu. Dinda bahkan sudah mengubek-ubek isi kulkas dan mengambil sepiring buah-buahan.
__ADS_1
"Ada apa?" tanyaku.
Daddy menaruh kedua tangannya di pundakku lalu mengajakku duduk di kursi dapur, dan dia duduk berjongkok di hadapanku. Dengan intens, dia mendongak memandangiku. "Jadi itu yang kamu pikirkan dari kemarin sampai membuatmu sentimen sekali? Hmm? Karena menggalaukan acara perpisahan sekolah?"
"Tidak. Aku tidak mau pergi."
"Tapi, Sayang.... itu kan--"
"Aku hanya akan datang ke sekolah saat mengambil ijazah. Selebihnya nggak."
"Sayangku... aku mengerti kekhawatiranmu. Tapi aku tidak ingin kamu menyesalinya nanti."
"Itu hanya acara perpisahan sekolah, Daddy. Aku sama sekali tidak akan menyesalinya. Aku yakin."
"No, Kejoraku bukan gadis penakut. Ingat yang pernah kukatakan padamu? Abaikan saja. Omongan orang tidak akan memberikan pengaruh apa pun. Pergi, ya? Aku mohon, please...?"
Aku tahu Daddy tidak ingin menjadi penghalang di momen-momen manis yang sebenarnya ingin kulalui. "Baiklah. Aku akan pergi," kataku.
Maka aku pergi pada hari sabtu itu. Dan itu pertama kali aku bertemu orang-orang yang kukenal setelah aku menikah, selain Dinda dan Tiara. Beberapa di antara mereka menyayangkan kenapa aku tidak mengundang mereka di acara pernikahanku, namun sebagian lain tetap memandang hina padaku meski mereka tidak mengatakan apa-apa. Tak terkecuali Sandra dan teman-temannya, dan juga Rhere beserta teman-temannya. Hanya saja, mereka tidak bisa mendekatiku sebab Dinda dan Tiara tidak melepaskanku dari sisi mereka. Tiara menyuruhku memegang sebotol air mineral sebagai senjata, kalau ada yang berani macam-macam padaku, dia akan menyiramkan air itu supaya si musuh basah di tengah-tengah acara. Dia memang suka membuat si biang kerok malu, bahkan bisa kukatakan itu motto hidupnya.
"Nenek melarang gue menggampar orang. Jadi ya sudah, pakai air saja."
Aku tersenyum kepadanya. "Apa pun itu, terima kasih," kataku.
__ADS_1
Tapi untungnya tak seperti yang kukhawatirkan. Satu-satunya yang membuatku tidak nyaman saat itu hanyalah Riko. Caranya menatapku membuatku bergidik ngeri, dengan sebuah pesan whatsapp dia mengirimkan fotoku yang baru saja ia ambil saat itu.
》 Gadis tercantik yang selalu kuimpikan. Aku ingin memilikimu, Kejora.