Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Kejora


__ADS_3

Beranjak ke bagian fiksi dan sastra untuk mencari novel dewasa, aku berjalan dengan kepala agak dimiringkan ke kanan, supaya bisa membaca judul-judul buku-buku itu sewaktu menelusuri rak. Aku selalu begitu kalau berada di toko buku, sebab aku takut ada yang terlewat olehku, walaupun berjalan seperti itu membuatku pusing dan leherku sedikit sakit.


Sewaktu Daddy menghampiriku, aku sudah memegang banyak buku di tanganku. "Butuh bantuan?" tanyanya.


Aku nyengir lebar dan langsung menumpangkan buku-buku itu di tangannya. "Tidak masalah, kan, aku banyak menghabiskan uangmu untuk buku-buku ini?"


Dia mengedikkan bahu dan mengikutiku berjalan. "Apa pun untukmu, Sayang."


Ah, senangnya....


Daddy suami yang baik. Dia sampai berkali-kali menaruh buku yang sudah tak muat di tangannya ke meja kasir, menitipkannya untuk dibayar nanti kalau aku sudah selesai mengelilingi semua area.


Sewaktu aku hendak beranjak ke rak terakhir, mataku menangkap judul Cinta Kejora, aku langsung mengambilnya dan bertanya pada Daddy, "Apakah ibuku suka membaca novel?" tanyaku.


Kepalanya menggeleng. "Tidak," katanya.


"Jadi, apa hobinya?"


"Tidak ada. Dia hanya suka menghabiskan waktu dengan apa yang mesti ia kerjakan. Seperti ceritaku, dia harus menghidupi dirinya sendiri."


"Well, bagaimana dengan cita-citanya? Apa impian terbesar yang ingin ia capai? Maksudku... seandainya dia punya kesempatan itu. Kalau dia masih hidup."


Sekali lagi kepalanya menggeleng. "Bisa kita tidak membicarakan hal ini?"

__ADS_1


"Ayolah. Santai saja."


"Kejora... please...? Tolong jangan seperti ini."


"Apa salahnya? Aku hanya ingin mengenalnya. Itu saja. Aku sekadar ingin mengenal ibuku. Bukan masalah, kan?"


Daddy mengangguk dengan agak ragu. "Ya... kurasa. Mungkin... tidak."


"Jadi?"


"Emm... itu, aku yang punya cita-cita, dan...."


"Dia...?"


"Dia ingin menjadi bagiannya. Menjadi petani buah yang sukses bersamaku."


"Kamu bukan dia, Kejora. Tidak perlu menjadi pribadi yang sama. Kamu punya kehidupanmu sendiri. Mengerti?"


Hmm... dia sensitif sekali. Baiklah, mungkin salahku. Tapi, bila bukan bertanya padanya, bagaimana aku bisa mengenal sosok ibuku?


"Ya, benar. Aku hidup di zaman sekarang. Aku butuh eksistensi diri dan ingin dunia mengenalku. Setidaknya bagi sekelompok orang yang memiliki hobi yang sama. Terkenal dalam dunia literasi."


Aku ingin menjadi inspirasi, bahwa -- anak-anak sepertiku, yang diejek orang karena tak punya ayah, yang disebut sebagai "anak haram" dan dihina dunia karena mencintai ayah asuhnya, suatu saat kelak akan menjadi orang yang sukses. Terpuruk, tak akan pernah singgah ke dalam hidupku.

__ADS_1


"Bagus. Aku akan mendukung apa pun yang ingin kamu lakukan. Kejoraku akan menjadi inspirasi dunia."


Aku tersenyum, ingin memeluknya, namun kutahan. Sebagai gantinya, aku pun berterimakasih atas dukungannya lalu berbisik, "Aku akan membahagiakanmu nanti malam."


"Caranya?"


"Lihat saja nanti."


"Langsung pulang, yuk?"


Wah, kacau. Dia membuatku terkikik-kikik. "Sabar, dong... kan kubilang nanti malam. Kita masih punya agenda ke taman."


"Baiklah. Aku akan sabar menunggumu."


"Bagus. Bersabarlah sedikit."


"Omong-omong, bagaimana kalau kita ke pantai saja?"


Aku berpikir sejenak, dan kurasa itu gagasan yang bagus. "Baiklah. Kita ke pantai."


"Apa mau pergi sekarang? Maksudku, apa sudah selesai beli bukunya?"


Oh, tak sabar sekali dia.

__ADS_1


Aku mengangguk dan kami langsung menuju meja kasir. Selagi pegawai di bagian kasir menghitung belanjaan kami satu persatu, aku memilih buku resep masakan dan mengambil beberapa lalu menambahkannya ke tumpukan buku yang belum dihitung.


Well, sudah selesai. Waktunya ke pantai....


__ADS_2