Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Pilu


__ADS_3

Kali berikut kelopak mataku terbuka, terlihat sebuah kursi plastik biru diduduki Tiara sambil meringkuk, tertidur. Aku melihat ke bawah, ada slang mencuat dari tanganku. Aku terbaring di ranjang rumah sakit, dan menyadari diriku masih hidup.


Tenggorokanku sangat perih, dan kucoba berdeham. "Ti--," kataku parau. "Tia... ra...."


Tiara bergerak-gerak, lalu duduk tegak. Sangat waspada. "Oh, lu sudah bangun."


Yeah, dan aku masih ingin hidup untuk membalaskan dendamku. Aku berusaha mencari gelas, tetapi benda yang berada di sampingku hanyalah remote TV. Aku pun menatap ke galon air yang terpasang pada dispenser di sudut ruangan.


"Mau minum? Sebentar, gue ambilkan."


Tiara membuka lemari kecil di samping ranjangku. Mengambil gelas dan menuangkan air hangat lalu menambahkan air dingin. "Minum sedikit-sedikit," katanya.


Tapi aku tak peduli. Dengan rakus, kuhabiskan air di gelas tersebut, dan rasa hangat yang melegakan menjalari tenggorokanku, terasa sungguh menyenangkan. Aku masih bisa hidup dan tak mati dengan dendam yang tak terbalas, itu yang kupikirkan.


Seraya merebahkan kepala ke bantal, aku berusaha memikirkan hal terakhir yang kualami, dan apa yang terjadi setelah aku pingsan.


Apa mungkin Riko benar-benar sudah memperkosaku?


Aku mengepalkan tangan. Marah. Dan bulir-bulir bening mulai menetes ke atas bantal.


Bedebah! Kau merenggut kehormatanku. Akan kubunuh kau, Riko!


"Ssst... jangan menangis. Yang penting lu sudah selamat, dan si bajingan itu sudah mati."

__ADS_1


Mati?


Kusadari mataku terbelalak, dan kengerian lain merasuki benakku.


"Daddy? Daddy yang...?"


"Bukan. Bukan Mas Gibran yang melakukan."


"Ya Tuhan... aku sudah berpikir kalau dia diringkus polisi."


Tanpa sadar, Daddy-lah yang menjadi prioritas utamaku. Yang paling kucemaskan. Yang paling kuinginkan keadaannya baik-baik saja.


"Di mana Daddy? Dia baik-baik saja? Kalau bukan dia, lalu, siapa? Siapa yang menghabisi Riko?"


"Mas Gibran sedang memberikan keterangan di kantor polisi. Tante Sila menuntut keadilan. Dan...."


Keningku mengerut. "Apa?"


"Pak Fikri, Ra."


"Ya Tuhan!"


"Pak Fikri yang menolong lu tadi. Dan... dia baru saja dioperasi. Sampai sekarang beliaunya belum sadarkan diri. Dia kena tusukan di perutnya. Cidera lambung."

__ADS_1


Aku terdiam. Sungguh aku tidak ingin orang lain ikut celaka. Tapi aku berterimakasih karena ia menolongku, dan telah menghabisi bajingan itu.


Ya Tuhan... bagaimana kalau setelah ini dia dipenjara?


Aku menangis. Kebingungan. Tidak bisa senang karena menyadari orang lain mengorbankan dirinya untuk menolongku. Tapi tak menampik rasa syukur karena Riko sudah mati dan bukan Daddy yang membunuhnya.


Tapi pikiranku juga terpecah dengan apa yang terjadi pada diriku. Aku tahu Daddy pasti bisa menerimaku: apa adanya dan tak akan menganggapku kotor.


Tapi, apa aku bisa menganggap diriku layak untuk Daddy, setelah semua yang terjadi pada diriku? Aku merasa kotor.


"Ra, jangan menangis. Gue minta maaf--"


Terdengar ketukan di ambang pintu, dan aku cepat-cepat menyeka air mataku. Sesaat kemudian, tampak wajah Daddy yang membuat jantungku berdebar kencang. Rasa bersalah membuatku sesak.


"Hai, Sayang. Bagaimana keadaanmu?"


Daddy membawa rangkaian bunga kecil, dan rambutnya berantakan. Ekspresi wajahnya menunjukkan bahwa ia gugup.


"Aku...."


Aku tak mampu berkata apa pun. Air mata mewakili perasaanku.


Aku hancur....

__ADS_1


__ADS_2