
Di dalam mimpi, kaca-kaca berderak, dan ujungnya yang tajam menusuk tanganku. Aku berada di lantai, terbaring di antara serpihan-serpihan kehidupanku, terikat rantai yang menahan dan merentangkan tangan dan kakiku lebar-lebar di kedua arah, dan aku meronta-ronta untuk membebaskan diri. Aku membuka mulut untuk berteriak. Kurasakan pita suaraku meregang. Kemudian putus.
Aku mencoba lebih keras. Lengan-lengan terulur, dadaku kembang-kempis, aku berteriak dan berteriak dengan segenap kekuatan di dalam diri. Tapi tak ada lagi yang tersisa.
Pemandangan di hadapanku membuka, sebuah pintu yang berlatar cahaya di belakangnya. Ada sosok yang mengenakan pakaian hitam-hitam, muncul dan berjalan mendekat.
Bahkan, tanpa perlu melihat wajahnya, aku tahu siapa dia. Riko.
Seolah-olah pikiranku memanggilnya, Riko menunduk ke arahku dan tersenyum menyeringai. Dan matanya, bagaikan bara api gelap yang tertanam jauh ke rongganya. Dia melangkah maju, berdiri dengan kedua kaki tersilang di atasku, dan kemudian berjongkok dengan sebuah gunting di tangannya.
Apa yang akan dia lakukan?
Tenggorokanku terbuka lagi, memaksa agar suaraku keluar dari jalan udara yang tersumbat, tapi hasilnya sama seperti sebelumnya. Tak ada apa pun.
"Perhatikan baik-baik, Kejora. Ini pasti akan sangat menyenangkan." Riko melihat ke bawah ke arahku, dan dia hendak menggunting semua pakaianku.
Kengerian merambati pembuluh darahku. Aku berusaha berteriak, "Tidak... jangan...," tapi yang keluar hanyalah raungan yang senyap.
Riko berhasil menyingkirkan semua pakaianku dan membuatku polos di hadapannya. Lalu, ia pun melepaskan semua pakaian yang menempel di tubuhnya. Sekarang dia polos di depanku, menunjukkan batang kerasnya, kemudian duduk di depan wajahku. "Dia sangat menginginkanmu, Kejora. Sapalah dia, Sayang."
Bedebah! Sialan! Benda itu menelusuri wajahku. Menjijikkan!
"Keras, kan? Besar? Dan kau pasti penasaran bagaimana kejantanannya. Iya, kan, Sayang?"
__ADS_1
Bajingan! Taruh itu di depan mulutku supaya aku bisa menggigitnya. Akan kubuat dia putus dan meronta-ronta di atas lantai.
Tapi yang dilakukan Riko berikutnya adalah meraih tangan kiriku, dia menaruh telapak tanganku pada benda itu, namun ia juga menahan pergelangan tanganku. Aku mencengkeramnya kuat-kuat tanpa bisa menarik apalagi menghentaknya sampai terlepas.
Riko terbahak-bahak. "Genggam yang kuat, Kejora. Kau gemas, bukan?"
Putus asa. Aku bertambah jijik melihatnya kesenangan, dan akhirnya kuputuskan untuk melepaskan cengkeraman tanganku dari benda itu yang malah semakin mengeras. Dia sengaja mempermainkan aku untuk membuat dirinya semakin terangsang.
"Sudah, Sayang? Hmm? Baiklah, sekarang giliranku."
Dia merenggut lenganku dan menarikku sampai berdiri. Telapak tangan kananku berteriak-teriak saat pecahan kaca tertusuk semakin dalam ke luka yang terbuka. Aku tak sengaja mengepalkan tanganku ketika Riko menarikku berdiri.
Argh! Sekarang aku berdiri. Riko menarik rantai tanganku hingga kencang. Dan kemudian...
"Kau benar-benar indah," dia berbisik di telinga. Lalu...
Lalu dia menyuruk di bawah kakiku. Ketika berada di hadapanku, dia mendongak, dan tersenyum super lebar bak setan yang meraih kemenangan.
"Perempuan suka ini, Kejora. Kau juga pasti suka." Dia menjilat-jilat permukaan kulit di antara kedua pahaku yang terentang lebar. Lalu, dengan jemarinya, dia merasakan sesuatu yang basah. "Kau sudah sangat siap rupanya."
Tidak! Jangan!
Persis di saat Riko berhasil masuk, aku mendapatkan kekuatan dalam amarahku. Rantai di tangan kananku terlepas, lalu aku meraih sebilah pecahan kaca. Kutelusurkan jemari pada ujung tajamnya yang dingin, dan kupegang erat-erat. Kemudian mengayunkannya.
__ADS_1
Darah muncrat dari pipi Riko.
Kupandangi tanganku yang belepotan darah. Darah Riko. "Bukan...." Kujatuhkan potongan kaca itu ke lantai. "Ini bukan salahku."
"Kau... kau sangat suka menolakku, Kejora. Kau menyakitiku. Kau mengkhianati janjimu."
Janji? Janji apa?
"Kau membuatku marah."
Dia melepaskan rantai itu, kemudian mendorongku ke arah tempat tidur. Dengan ngeri, kucoba untuk berdiri.
Gunting. Gunting Riko tergeletak di lantai, aku menyambarnya. Dan sewaktu Riko ingin merebutnya dariku, aku berhasil mempertahankan gunting itu di tanganku, lalu...
Aku menusuknya, di bagian jantungnya. Riko bersimbah darah. Ia kesakitan dan tersungkur di samping ranjang.
"Riko?"
Tidak ada sahutan. Ia tergeletak di lantai.
Tewas.
"Tidak! Tidak! Bukan... bukan ini yang terjadi. Aku tidak menusukmu. Aku bukan pembunuh. Tolong, tolong aku. Siapa pun, tolooooooong...!"
__ADS_1