
"Aku tidak pernah menyangka Daddy segila ini."
"Eksperimen yang menyenangkan, bukan? Memuaskan."
"Mmm-hmm, benar-benar aroma daging panggang yang menginspirasi."
"Yeah, tapi jangan salah. Tak ada yang lebih nikmat selain dirimu. Kejora nomor satu."
Hoaaa... dia membuatku kesulitan bernapas. Dia masih tertelungkup di atasku, tapi ia sudah membuatku tertawa.
"Jadi, kamu masih bisa berjalan, kan?" Daddy bangkit dari atasku dan turun dari meja.
"Kalau iya, memangnya kenapa?" Dia menarikku duduk. "Mau mengajakku ke babak berikutnya? Hmm?"
"Hah! Dasar gadis kecil! Bahan masakan kita sudah menipis, dan kita mesti ke supermarket."
"Tapi, Daddy, aku...." Tidak. Aku tidak boleh membuatnya cemas dan khawatir padaku.
"Jangan protes, ya. Dan jangan takut. Aku selalu bersamamu. Oke? Harus oke."
Aku mengangguk. "Ya," kataku, lalu kulingkarkan tanganku di lehernya. "Gendong aku ke kamar mandi, ya, please...."
"Apa pun untukmu."
Aaaaah... senangnya dimanja suami. Kami mandi di kamar mandi lantai bawah sambil bermesraan, diselingi ciuman, iseng menyentuh, bahkan otakku berpikir untuk bercinta sekali lagi tatkala melihat Daddy sedikit menegang. Tapi Daddy berkeras untuk tidak melakukannya. "Selain kamu, nanti aku juga tidak bisa berjalan," katanya.
"Terus itu, tidak apa-apa?"
"Biarkan saja. Dia harus maklum."
"O ya?" Aku terbahak. "Bisa begitu?"
__ADS_1
"Dia memang keterlaluan. Kemauannya tidak sesuai dengan kemampuan. Dia tidak peduli kalau tuannya kelelahan."
Oh My God...! Aku terkekekeh. "Tapi sayangnya tidak hanya dia."
"Maksudnya?"
"Ehm, aku juga keterlaluan, kurasa."
"Hei!" Daddy menatapku dengan tanda tanya. "Apa maksudmu? Hmm?"
Cup!
Aku menciumnya. "Sekali lagi."
"Ow... ow... ow... ada yang ketagihan rupanya. Kau tidak tidak takut kelelahan?"
Aku menggeleng. "Tidak. Sama sekali tidak takut. Jadi bagaimana?"
Ukh!
Daddy menyentakku ke dalam pelukannya dengan kasar. "Jangan salahkan aku jika setelah ini kau lemas tak berdaya."
"O-ke, siapa takut."
Well, Daddy mengarahkan diri, lalu menekankan diri dan menyatu denganku. Kemudian...
Akh!
"Oke, sudah, ya. Sekali hentakan saja cukup."
What?
__ADS_1
"Daddyyyyy...," pekikku.
Dia terkekeh kesenangan.
Sudahlah, pikirku. Tak akan ada habisnya kalau aku meladeni bercandanya yang tidak lucu itu. Aku hanya menggeleng-gelengkan kepala dan segera menyelesaikan mandiku, pun Daddy. Namun aku mesti mencuci piring dulu sebelum ke kamar untuk berpakaian. Sambil memunguti perabot kotor di atas meja, aku berkata, "Aku tadi lupa merapikan tempat tidur. Biarkan saja, ya. Nanti--"
"Aku bisa melakukannya. Bereskan saja benda-benda kotor itu, ya."
"Uuuh... terima kasih sudah begitu pengertian...," seruku. Daddy sudah berlalu dari dapur.
"Sama-sama. Awas terbayang aroma sapi panggang...," lengkingnya, aku masih bisa mendengar suaranya dari kejauhan.
Dasar... pria puber. Kata-katanya justru mengarahkanku untuk mengingat hal manis itu. Aku mesem-mesem mengenangnya ketika suara bel menyetop gerak tanganku.
"Siapa yang bertamu?" gumamku.
Aku tak bisa berpikir kalau itu orang lain. Satu-satunya yang mungkin hanya Dinda dan Tiara. Atau...
"Nope. Tidak mungkin Riko."
Dengan memberanikan diri aku berjalan ke pintu depan. Aku tahu kalau jantungku berdebar, namun aku tak boleh berpikiran negatif.
"Tenang, Kejora," rapalku, lalu aku menyibak hordeng. Dan...
Riko.
"Aaaaaaaaaaaaaaaa!"
Refleks, aku memekik, terduduk, dan memejamkan mataku.
Dan itu bodoh! Mestinya aku tenang dan menutup kembali hordeng itu, atau minimal aku lari setelah menutupnya. Bukan malah memperdengarkan teriakan ketakutan dari mulutku. Pemuda berengsek itu pasti merasa menang. Dia akan sangat senang karena berhasil menerorku.
__ADS_1
Sialan!