
》 Sayang, Oma tidak jadi pulang. Tapi kamu tidak perlu ke rumah sakit, ya. Mudah-mudahan besok Oma benar-benar bisa pulang.
Huffft... aku kecewa -- sedikit. Aku sudah masak iga bakar untuk Daddy, untuk kami makan siang nanti. Tapi apa mau dikata. Kusimpan masakanku di lemari kaca dan aku pergi ke halaman belakang -- untuk melebur rasa kecewaku. Dengan jeruji besi tertutup tanaman merambat dan tanaman strategis lainnya, area ini tertutup dan sangat nyaman.
Sambil melepaskan dress-ku, aku berjalan ke arah kolam dan naik ke papan loncat. Dari atas sana, aku melakukan lompatan gaya punggung, lalu berenang ke tepi kolam. Tapi tetap saja masih sebal.
"Ayolah, Kejora... ini bukan salah siapa pun. Kau bisa masak iga bakar lagi lain hari. Ikhlas, ikhlas, ikhlas."
Aku menyelam sambil berenang di dalam air dan sesekali muncul ke permukaan untuk bernapas. Aku berenang hingga beberapa kali putaran. Entah pada putaran ke berapa aku kembali berada di tepi kolam dan Daddy ada di sana, dengan sebelah tangan terulur untuk membantuku keluar dari kolam.
Praktis mataku melebar ketika melihatnya. "Daddy?"
Dia tersenyum super lebar seolah tahu benar kalau aku sangat kecewa yang berarti ia sukses mengerjaiku, sekaligus membuatku terkejut.
"Katanya tidak jadi pulang?"
Senyumnya berganti tawa kecil. "Aku hanya iseng," katanya, lalu ia menyisir rambutnya dengan tangan.
"Terus, Oma juga sudah pulang?"
Ia mengangguk. "Sudah istirahat di kamar," katanya, lalu ia kembali mengulurkan tangannya. "Ayo, naik."
Aku baru saja hendak menyambut uluran tangannya, tapi di saat itulah aku menyadari pakaianku. Tanktop ketat yang membalut tubuhku memang berleher sedikit rendah, namun karena dadaku tidak mont*k, jadi itu tidak masalah. Tetapi, bawahan yang kukenakan itu sangat minim bahan, lima belas senti di atas lutut. Belum lagi space antara atasan dan bawahanku yang akan memperlihatkan pusarku bak gadis-gadis dari wilayah barat. Aku bisa kena jewer Oma kalau sampai ketahuan membiarkan Daddy melihat tubuh mulusku itu dengan sengaja.
"Daddy duluan saja. Aku akan menyusul."
"Kenapa?"
"Pura-pura bodoh. Nanti aku dimarahi Oma, tahu!"
Gesreknya kumat!
Dia menoleh ke belakang -- dan merasa aman, lalu dengan sekali tarikan ia berhasil melepas kausnya.
Ya ampun, dengan nyengir lebar ia masuk ke kolam. "Daddy... jangan macam-macam...."
"Cuma satu macam," sahutnya.
Gleg!
Aku berusaha menghindar, tapi sia-sia. Dia berhasil menarikku dan menghimpit tubuhku dengan kedua lengannya. "Menurutlah," bisiknya. Ia memelukku erat dari belakang. "Semakin kamu berusaha menghindar, semakin aku penasaran ingin bermesraan denganmu di sini."
"Maaf, Daddy. Tapi kalau ketahuan Oma, aku nanti yang disalahkan."
Tak peduli. Dia justru meniupkan napasnya di belakang leherku. Aku merinding, dan gemetar. Rasa panas mulai menjalari tulang punggungku.
Aku terjebak di antara gairah pria dewasa itu dan amarah ibunya seandainya kami ketahuan.
"Aku takut, Daddy...," rengekku.
"Oma sedang istirahat."
"Iya, tapi--"
__ADS_1
"Terima kasih iga bakarnya."
"Eh?"
"Aku sudah mencicipinya. Rasanya sangat lezat."
"Hmm... mestinya minta izin dulu sebelum cicip."
"Oh, aku salah? Baiklah. Boleh kucicip?"
"Sudah telat."
"Tapi boleh, kan?"
"Iya, iya, boleh."
"Trims."
"Eh?"
Dia menggigit punggungku seperti kucing jantan yang sedang *irahi.
"Barusan aku sudah mendapatkan izin."
"Bukan izin mencicipi aku...."
"Aku sudah mencicipi iganya. Dan sekarang aku menginginkan tulang rusukku."
"Eummmmm... Daddy...."
*sapannya bertambah kuat.
"Uh, Dad, sakit."
Lagi-lagi ia tak peduli. *esahan napasnya memburu dan membelai kulitku. Perlahan ia berpindah ke leherku, membenamkan taringnya bak seorang vampir. Dan... terjadi pergolakan di dalam hatiku. Di satu sisi, sentuhannya nikmat, membuatku mabuk dan rasanya tak ingin menolak, tapi di sisi lain aku resah. Aku sangat takut Oma melihat kami.
"Daddy... please... lepaskan aku. Aku takut Oma marah...."
Oh, gemetarku semakin jadi. Sentuhan buku-buku jemarinya menggelitik kulit perutku. Ia membelai, lalu menelusuri garis lurus dari pusar lalu naik ke dada. Entahlah, apa pantas aku mengecapnya lancang ketika telapak tangannya mengelus dadaku?
"Daddy, jangan--"
"Aku hanya ingin menyentuhnya."
"Tapi--"
"Aku janji tidak akan...."
*eremasnya. Aku tahu itu yang ingin ia katakan.
Dan... oh, lemas kakiku. Daddy menggigit lembut cuping telingaku dengan gemas.
"Kejora," katanya pelan, ia memutar tubuhku sementara aku menunduk. "Lihat aku." Dia memegangi daguku bak adegan di dalam film, lalu menciumku. Bergairah, panas, dan mendamba. Lalu...
__ADS_1
Tangannya mengangkat pahaku, melingkarkan kakiku di pinggangnya. Ia menggendongku di dada bak seekor koala sementara tanganku melingkar erat di lehernya. Dia membawaku menepi ke pinggir kolam, di sisi seberang halaman.
Ini belum berakhir, pikirku. Dia pasti belum ingin melepaskanku. Tapi aku tetap memohon, "Tolong, aku takut pada Oma."
"Hanya takut karena Oma?"
"Em, ya. Aku takut--"
"Bukan berarti kamu tidak menyukai sentuhanku?"
Aku menggeleng. "Bukan. Aku... aku suka sentuhanmu. Tapi...."
"Bagus." Lalu ia berbisik, "Jangan membuatku tersinggung. Aku belum ingin melepaskanmu sekarang."
Lalu mau apa lagi?
"Aku mencintaimu," katanya di telinga.
"Em, aku juga mencintaimu. Kamu pun tahu itu."
"Aku ingin mencicipi rasa manismu lebih dari kemarin."
Aku terbelalak. "Tapi, Daddy-- eummmm...."
Dia menyambar mulutku. membenamkannya dalam-dalam ke mulutnya -- dengan tekanan kepalan tangannya menahan sisi belakang kepalaku. Genggamannya kasar di helaian rambutku. Dan... aku dapat merasakan betapa liar lidahnya hingga seakan mencapai ke belakang tenggorokanku.
"Aku sangat menginginkanmu," katanya dalam suara berat -- berupa geraman parau.
Dua hal yang kurasakan saat itu. Jelas hasratku juga sama besarnya seperti yang ia rasakan, namun aku juga merasa takut. Daddy nampak seperti... kau tahu, kuda jantan yang sedang *irahi, beringas dan liar.
Dan tahu-tahu, dia membenamkan wajahnya di tengkuk leherku dan gigi-giginya membenam lagi di sana. Menggigit -- dan *engisapku dengan kuat, sementara kedua tangannya bergerilya, satu di punggungku yang terbuka, dan satunya meraba ke balik tanktop-ku yang ketat. Dan... lebih dari itu, ia menekankan tubuhnya padaku. Dapat kurasakan dirinya menekanku dari balik celana jinsnya yang berwarna hitam.
Ini menakutkan!
Bagaimana aku bisa melarikan diri? Aku takut dia tidak bisa mengendalikan dirinya kali ini. Kalau ketahuan, Oma bahkan bisa membenciku seumur hidup. Aku tidak mau kalau hal itu sampai terjadi.
Di saat aku memikirkan cara untuk kabur, Daddy malah mengangkat tubuhku dan mendudukkan aku di pinggir kolam. Belum sempat aku beringsut mundur, ia langsung membenamkan wajahnya di dadaku, *engisapku tempat yang sama seperti kemarin, dan tangannya memaksaku melengkungkan tubuh hingga aku terbaring. Keadaan ini membuat tanktop-ku terangkat sehingga kulit perutku terekspos. Daddy mendaratkan bibirnya di sana, di pusarku, dan, parahnya: kedua tangannya mencengkeram kuat otot-otot pahaku.
Tegang! Tegang! Tegang!
Otot dan sarafku, juga hatiku -- semuanya tegang!
"Oh, no! Daddy, Daddy, ada Oma."
Dia terkesiap dan menoleh ke belakang.
Persis di saat itu aku cepat-cepat bangkit dan berlari meninggalkannya yang masih berdiri di dalam air.
Dasar pria! Takut, kok coba-coba?
Aku menoleh ke belakang dan menjulurkan lidah ke arahnya. Kasihan sekali. Kesenangan itu mesti berakhir.
Sori... angaplah aku berhutang padamu....
__ADS_1