
Oma menatap serius pada anak lelakinya ketika bicara di meja makan pada keesokan paginya. Setelah semalam menyampaikan wejangannya pada jam makan malam, pagi ini Daddy harus menerima wejangan baru pada jam sarapan pagi. Beda halnya dengan semalam di mana Oma memerintahkan supaya anak lelakinya itu tidur di paviliun dan jangan coba-coba masuk ke dalam rumah saat tengah malam, pagi ini ia menyuruh anaknya itu untuk menjalankan perintahnya dengan benar: mengantarku ke sekolah dan memastikan aku bisa ujian dengan tenang selama satu bulan ke depan.
"Ingat, ya, Gibran, langsung antar dia ke sekolah dan tunggu sampai dia pulang. Jangan mampir ke mana-mana. Kalian juga harus pulang tepat waktu. Dan ingat, begitu sampai di sekolah langsung masuk gerbang. Jangan mesra-mesraan di dalam mobil. Apa perlu Ibu suruh Pak Ujang yang menyetir supaya kalian tidak hanya berduaan?"
Somplak! Daddy malah cekikikan sementara aku merasa ngeri. Oma seolah tahu apa yang telah dilakukan Daddy kepadaku sewaktu mengantarku ke sekolah waktu itu.
"Tidak perlu, Bu. Gibran akan menuruti perintah Ibu dengan baik."
Yakin bisa? Mengingatnya yang suka sekali menciumku, aku tidak yakin dia bisa menahan diri.
"Kejora?"
"Ya, Oma?"
"Jangan berikan dirimu sebelum dia menikahimu secara resmi, termasuk ciuman. Bisa janji pada Oma?"
__ADS_1
Aku tertegun, lalu mengangguk dan mengiyakan. Aku sama sekali tak berani membantahnya. "Iya, Oma," kataku. "Aku janji."
Dan, melesak. Mestinya Oma jangan suruh ia pulang. Biarkan saja Daddy jauh dariku kalau kami tak boleh bermesraan. Hiks!
"Maaf, Nyonya, kalau Nyonya sendiri khawatir terhadap pandangan orang-orang, apa ndak sebaiknya mereka dinikahkan saja?"
Oma menggeleng. "Belum waktunya, Bi. Kejora wajib menyelesaikan sekolahnya dulu."
"Maksud saya menikah secara siri dulu saja, begitu."
"Oh, maaf, Nyonya. Saya hanya mengutarakan pendapat saya saja."
Ya ampun, kenapa jadi merembet begini? Aku dan Daddy hanya bisa terdiam.
"Saya mengerti maksud Bibi. Tapi saya tidak setuju. Jangan jadikan pernikahan siri sebagai alat untuk menghalalkan hubungan atau menghindari cemooh dari masyarakat. Pernikah siri itu merugikan kaum perempuan dan hanya menguntungkan kaum lelaki, dan hanya sah secara agama, tapi tidak diakui oleh negara. Katakanlah saya orang yang kolot, tapi saya tipe perempuan yang memikirkan dampak negatif dari pernikahan siri. Ada banyak kaum perempuan di luar sana yang menjadi korban dari mewabah dan membudayanya pernikahan siri. Banyak istri sah yang diam-diam dipoligami oleh para suami karena sahnya pernikahan siri, dan ada banyak anak-anak yang terpaksa jadi product broken home karena ibu mereka memilih berpisah dengan suaminya ketimbang mereka harus hidup dimadu. Dan, ada banyak perempuan-perempuan hina di luar sana yang merebut suami orang tapi berlagak suci hanya karena mereka tidak berzinah. Mereka menggunakan pernikahan siri sebagai tameng dari perbuatan mereka yang bahagia di atas penderitaan orang lain. Dan apa kalian tahu, bagi mereka para istri sah, mendengar kata nikah siri saja itu menyakitkan, bagaikan luka ditaburi garam, apalagi melihat pernikahan siri semakin mewabah di kalangan masyarakat. Nope, jangan jadikan itu sebagai tradisi. Paham?"
__ADS_1
Semua kompak mengangguk. Pagi ini Oma mendadak berpidato berapi-api gara-gara celetukan Bibi Sum yang tak disangka-sangka. Tapi yang disampaikan oleh Oma itu benar. Aku setuju pendapatnya. Dan kalau ada komunitas penolak pernikahan siri, mungkin aku akan ikut bergabung bersama Oma. Jangan jadikan itu sebagai tradisi. Meskipun ingin menikah dengan pria yang sudah beristri, mintalah untuk dinikahi secara resmi dan atas izin istri sahnya. Dan, peka-lah terhadap perasaan perempuan lain. Jadilah wanita dengan status istri terhormat, bukan wanita yang menyakiti hati wanita lain atas nama cinta. Kecuali jika cintamu itu sama seperti sampah.
"Dan untuk kalian berdua," tegasnya, membuat aku dan Daddy nyaris terlonjak. "Ibu meminta kalian untuk menikah walau bukan sekarang, bukannya mempermalukan Ibu dengan gaya pacaran kalian yang vulgar di depan umum. Mengerti?"
Lagi, kami mengangguk malu. Kurasa ini tujuan Oma yang sebenarnya kenapa ia menyuruh Daddy pulang: untuk menegur kami berdua secara langsung. Menanggung malu itu bersama.
"Kamu mengerti, Gibran?"
"Iya, Bu. Gibran minta maaf."
"Kamu Kejora, kamu paham?"
"Iya, Oma," sahutku, tanpa berani menatapnya. "Kejora juga minta maaf. Kejora janji hal semacam ini tidak akan terjadi lagi."
"Bagus." Lalu Oma berpaling ke Daddy hingga pria dewasa itu juga ikut berjanji. Dia juga tidak akan mengulanginya lagi. "Silakan lanjutkan sarapan kalian."
__ADS_1
Huffft... ingin rasanya menelan sekaligus sarapan di piringku hingga tuntas dan aku tak perlu berlama-lama duduk di kursi yang bagaikan kompor ini. Panas sekali.