
Rasanya tak tertahan. Begitu menguasai. Tapi aku tak berniat mencengkeram rambut Daddy seperti tadi dan merusak suasana romantis yang kembali ia bangun di malam pengantin ini. Tidak lagi.
Dan sekarang, di dadaku, Daddy menggera*, suara kenikmatan intens terdengar dari kerongkongannya. Dengan satu tangan, ia menahanku seraya kembali menyapu bagian yang kutahu -- bagi dirinya itu bagian yang begitu menakjubkan, membuatku ingin mengeran* karena tersesat dalam cinta dan kegilaannya, hingga rasanya aku kesulitan bernapas.
Oh! Gara-gara dia. Aku terbakar oleh rasa malu dan kenikmatan itu, dengan tumit menekan ke tempat tidur, tubuhku melengkung kuat dan mencengkeram seprai. Menggapai-gapai, sesuatu -- yang tak mampu untuk kujelaskan. Namun, sangat jelas terasa, aku merasakan hasra* Daddy yang sudah tak tertahan, yang menggelora dan membuncah di dalam jiwanya. Dan, setelah itu...
Si pria dewasa itu memintaku untuk menatap ke dalam matanya, lalu ia meraih tanganku, membimbingku kepadanya, dan ia pun berbisik bahwa dia menginginkan keseimbangan di antara kami, hubungan untuk saling menyentuh -- dari keduanya.
"Ajak aku masuk, Kejora," bisiknya. "Arahkan aku ke surga cintamu. Tunjukkan kalau kau juga punya hasra* yang sama. Cinta yang sama besarnya denganku. Please...?"
Tetapi aku malah menggeleng dan berpaling dari wajahnya. "Aku malu," kataku.
"Cobalah, aku mohon? Lakukan sambil menatap mataku."
__ADS_1
Ya ampun, kenapa dia banyak maunya? Lupakah dia kalau istri kecilnya ini baru berusia tujuh belas tahun dan baru mengalami semua ini?
Dengan wajah yang memerah, aku menatap matanya, menyentuhnya, dan membimbingnya kepadaku. Membawanya ke dalam surga cintaku -- tenggelam bersamaku. Menyatu. Sempurna.
"Bagaimana?" tanyanya. Senyum cerianya pun seketika mengembang. "Terasa? Kau bisa merasakannya?"
Aku hanya tersipu. Tentu saja, jangankan gadis muda sepertiku, nenek-nenek yang masih bersuami saja tahu kalau bercinta dengan kekasih hati itu rasanya amat sangat nikmat dan menyenangkan -- tentu kalau kau melakukannya dengan sepenuh perasaan.
Iya, kan?
"Tidak, tapi... em, masih tidak nyaman sedikit. Hanya sedikit. Selebihnya... aku suka."
"Em, jangan khawatir. Itu karena kamu gadis yang belum pernah tersentuh. Untuk selanjutnya, aku menjanjikanmu kenikmatan. Hanya kenikmatan, tanpa rasa sakit. Dan sekarang, apa kamu siap?"
__ADS_1
Eh?
Alisku bertaut. "Maksudnya? Siap untuk... apa?"
Daddy tersenyum. "Untuk ini," ujarnya. "Kau suka?"
Ya ampun, dia menyerangku lagi. Praktis aku makin tersipu menahan malu. Aku mengangguk. "Aku suka," kataku.
Yeah. Tentu saja aku sangat menyukainya hingga aku memekik dan menggumam tidak jelas. Aku meracau. Namun aku juga menyadari, dengan rintihan tertahan, Daddy seakan ingin meledak, namun yang terjadi justru aku mendahuluinya.
Yeah, aku meledak. Boom! Pelepasan itu datang menguasaiku dengan cepat. Seraya mengeran* kuat, tanganku meluncur di atas tubuh kekar Daddy lalu melingkar erat di pinggangnya, tapi itu tak nyaman bagi dirinya. Dia diam sejenak untuk melepaskan tanganku dari tubuhnya dan justru merentangkannya lebar-lebar.
Kembali, kami menyatu. Lagi dan lagi, dengan irama yang kian cepat, mendesak, tersengal dengan napas yang tak beraturan. Seraya mengagungkan namaku, Daddy berteriak serak dan akhirnya terjatuh di atasku, roboh dengan tubuhnya yang lembab dan berkeringat. Ia bergidik dan gemetar.
__ADS_1
"Terima kasih untuk hadiah terindah yang tak akan pernah terlupakan. Aku mencintaimu, Kejora. Aku sangat mencintaimu."
Oh, akhirnya, pertarungan itu selesai.