Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Kompak


__ADS_3

Kenapa pasangan pengantin baru lebih suka melewati malam pertama mereka di hotel?


Pasti ini salah satu alasannya. Mereka bebas untuk tetap meringkuk di tempat tidur tanpa perlu merasa sungkan pada siapa pun. Kalau tahu bakal seringsek ini, aku juga akan meminta Daddy membawaku ke hotel untuk melewati malam pengantin kami.


Sekarang rasanya berat sekali untuk bangun. Seluruh tubuhku pegal luar biasa dan aku bahkan serasa tak punya tenaga untuk sekadar ke kamar mandi. Tapi aku mesti bangun, mesti mandi ulang, dan, mesti menyembunyikan tampang lesuku di depan para anggota keluarga.


Tapi gagal!


"Capek banget, ya, sampai kamu terkulai begini?" Mommy yang duduk di sebelahku saat kami sarapan berbisik sambil cekikikan.


Hmm... dia pasti tahu bagaimana rasanya. Bahkan pasti lebih dari yang kurasakan saat ini. Sebab, dulu mereka tidak bisa berhubungan normal tanpa suplemen.


Ya Tuhan, pikirku, bagaimana rasanya kalau "Gibran Aditama plus Suplemen penambah stamina?"


Wadidau... bisa-bisa dia benar-benar membuatku tak bisa berjalan, bahkan tak bisa turun dari ranjang.


"Capek pakai banget, Mom," aku balas berbisik. "Tiga kali."


Mata Mommy melebar, dia ingin tertawa namun berhasil menahannya. Ia menutup mulut dengan jemarinya dan itu praktis membuat orang-orang di meja makan jadi penasaran.


"Kenapa?" tanya Oma.


"Tidak kenapa-kenapa, Oma."

__ADS_1


"Oma nggak nanya kamu."


Mommy Rani semakin cekikikan. "Itu lo, Bu. Si Kejora kecapekan diajak begadang oleh Gibran."


Daddy melotot pada Mommy, lalu menahan senyum karena semua orang melirik ke arahnya. "Harap maklum, dong. Jangan pada begitu ekspresinya."


"Iya, iya, jangan begitu. Kasihan mereka jadi malu."


"Mommy itu lo, Oma. Godain aku terus. Kan malu...."


"Oke. Sori, ya, Sayang. Kamu cepat habiskan makananmu, terus istirahat. Kami tahu, kamu pasti pingin tiduran di kamar, tapi tidak enak pada semua orang."


"Tenang saja," sahut Oma Rahmi, ibunya Mommy Rani. "Nanti sore Oma bakal bawa Oma Yulia liburan ke Surabaya. Jadi kalian bisa berduaan di rumah. Tanpa gangguan."


Wah, wah... perubahan rencana dadakan. Siapa pengusung ide itu? Aku melirik ke Daddy dan ia tersenyum-senyum.


"Serius?" tanya Mommy yang tidak tahu.


"Perubahan rencana dadakan, Sayang...."


"Saya juga diajak," celetuk Bi Sum.


"Wah... asyik dong...!"

__ADS_1


Hmm, ya, asyik. Aku tidak tahu mesti bilang apa. Senang, kurasa. Apalagi mengingat aku dan Daddy akan punya kebebasan berduaan di dalam rumah. Tetapi...


Tujuan orang-orang ini jadi mengerikan mengingat peristiwa semalam, ada banyak orang saja si pria dewasa itu mengajakku bercinta sampai tiga kali dalam satu malam. Bagaimana jika kami hanya berduaan? Kebebasan itu pasti membuat Daddy....


Aku ngeri Oma....


"Ini murni kemauan Ibu, lo. Bukan aku yang meminta."


"Masa sih?" Oom Endru ikut menyela. "Tidak meyakinkan," ledeknya.


"Iya. Masa tidak ada ikut campur tanganmu? Pasti kamu yang modus," imbuh Mommy.


"Tidak sama sekali, kok. Ini ide Oma Rahmi. Dan Ibu pikir, kenapa tidak, ya kan?"


"Tapi Pak Ujang ikut juga, kan, Bu? Nanti kalau kalian mau jalan-jalan, saya tidak bisa mengantar, soalnya saya sedang banyak pekerjaan."


Bagus! Oma mengiyakan tanggapan Oom Endru. Kompak sekali mereka, dan itu sungguh rencana yang luar biasa. Sangat luar biasa hingga mereka akan berangkat siang itu juga. Setelah packing dan makan siang bersama, mereka langsung berangkat. Nanti, di sepanjang perjalanan, Pak Ujang dan Oom Endru akan menyetir bergiliran.


"Bye-bye, Kejora... happy honeymoon, ya, Sayang...."


Entah, mungkin bawaan capek yang membuatku lesu, aku tidak antusias dengan kepergian mereka. Hingga, setelah mobil Oom Endru tak terlihat lagi di belokan jalan, aku pun segera berbalik. Dan...


Daddy tersenyum girang di belakang sana.

__ADS_1


Ya Tuhan... aku ngeri....


__ADS_2