
Butuh waktu beberapa saat bagiku untuk mengeringkan air mata sebelum menemui Oma. Dia tak perlu tahu soal ini. Maka, sekalipun ini sangat menyakitkan bagiku untuk menyembunyikannya, aku mesti menelannya sendiri. Kulipat kertas artikel itu dan mengembalikannya kepada Dinda. Artikel itu tak akan berarti apa-apa. Tak akan membuatku merasa orang paling hina di dunia.
Aku yakin aku kuat, aku terlahir sebagai gadis yang tangguh.
"Ayo," ajak Tiara, kami keluar dari toilet dan kembali ke ruang BK, menunggu untuk beberapa saat sebelum akhirnya Oma dan neneknya Tiara keluar dari sana.
Yah, kedua orang tua itu sudah sepakat mengiyakan saja wejangan-wejangan yang akan dituturkan oleh Bu Fatma. Toh, beliau pasti berpesan yang baik-baik walau tanpa mempertimbangkan -- bahwasanya nenek-nenek kami sudah sangat baik dalam membesarkan cucu-cucunya. Berhubung penilaian terhadapku dan Tiara bukanlah pada siapa si biang kerok masalah, tapi pada siapa yang duluan melakukan tindak kekerasan, jadi ya sudahlah. Untuk apa membantah dan membela diri?
"Kalau tahu begini akhirnya, gue rasa kita kurang banyak menampar si Kunti, ya kan?"
Aku terbahak. "Kalian sih menyuruh dia cepat-cepat pergi."
"Jangan begitu," tegur Oma. "Untung masalah ini tidak dibawa ke jalur hukum. Kan bisa berabe. Siapa nanti yang disalahkan? Sang wali juga yang akan kena imbasnya."
Iya juga, pikirku. Bagaimana jadinya kalau hal itu terjadi? Kasihan Tiara yang akan mencicip getahnya hanya demi membelaku, dan kasihan juga Oma dan neneknya Tiara yang akan dicap tidak becus mengurusi kami. Aku jadi terdiam.
Sesampainya di rumah Tiara, aku meminta izin untuk menumpang ke toilet sebentar, yang sebenarnya aku ingin meminta maaf secara pribadi pada neneknya Tiara. Dan jawabannya seperti biasa -- sama seperti sebelum-sebelumnya saat Tiara suka membela orang-orang yang tertindas. "Tiara tahu apa yang ia lakukan," kata neneknya. "Cuma... gara-gara ulah kalian berdua nenek jadi tidak bisa berdagang hari ini. Ayo lo, tanggung jawab."
Praktis aku langsung nyengir. "Ya sudah, Kejora tanggung jawab, ya. Biar Kejora borong dagangannya."
Si nenek pun ikut nyengir super lebar. "Nah, kalau begitu kan sama-sama enak," katanya.
"Nenek mah jangan begitu, atuh...," protes Tiara.
"Santai saja atuh, Neng. Kejora kan memang tidak pernah absen borong keripik kita kalau dia ke sini."
"Iya, santai dong, Ra. Kayak nggak biasa aja lu, mah." Kukeluarkan uang dari dompetku dan memberikannya ke neneknya Tiara.
Tapi ia hanya mengambil sejumlah yang seharusnya, dan hendak mengembalikan sisanya kepadaku. "Kelebihan," katanya.
"Tidak apa-apa, Nek. Ambil saja."
"Ra, itu kan jatah jajan lu seminggu."
__ADS_1
"Apa sih? Kita kan diskors... lupa?"
"Ya sudah, Nenek ambil, ya? Dilarang menolak rizki. Sekarang Nenek mau istirahat, puyeng denger wejangan guru kalian tadi. Zaman sekarang, mau membela diri saja susah." Dia pun berlalu.
Tiara menggeleng-gelengkan kepala karena sikap neneknya yang lucu. "Harap maklum, ya. Masa mudanya dulu dia juga tukang gampar."
Hah? Aku ternganga. Wajar menurun ke cucunya. Kalau aku? Mungkinkah?
Apa sih, Kejora? Jangan memikirkan hal yang aneh-aneh.
Kuambil sekantung besar keripik singkong pedas dan sekantung keripik belut itu lalu kutenteng dengan tangan kanan dan kiriku, aku pun segera berpamitan. Tiara yang mengantarku langsung melambaikan tangan saat mobil kami melaju dari pelataran parkir halaman rumahnya.
Saat itu, rupanya Oma sedang menelepon Daddy, ia menceritakakan semua yang terjadi. Dia hanya berhenti sejenak bicara ketika aku masuk ke mobil, dan tiba-tiba membuatku kaget ketika ia berkata, "Kamu harus bertanggung jawab. Harus tanggung malunya bersama-sama."
"Oma... jangan begitu...."
"Apa kamu protes-protes?"
"Ih, galaknya...."
Kasihan Daddy, dia jadi bulan-bulanan semua orang, termasuk oleh ibunya sendiri.
"Nah, ini. Kekasihmu mau bicara."
What?
Pupil mataku melebar. Bisa-bisanya Oma bilangnya begitu, seperti anak ABG pakai menyebut Daddy sebagai kekasihku segala. Astaga....
"Halo, Daddy?"
"Emmmuach, ciuman sayang untuk kekasihku."
"Dasar gesrek!" kataku sambil cekikikan.
__ADS_1
"Tidak dibalas?"
Menyebalkan sekali. Malapetaka ini gara-gara ciumanmu, tahu!
"Kejora?"
"Emm?"
"Are you okay?"
"Yeah, I am okay. Tidak perlu khawatir."
"Emm... apa kamu sudah tahu tentang...?"
"Tentang apa, Daddy?"
"Tentang artikel itu. Apa kamu sudah tahu?
Aku terkejut, dan resah. "Jadi... Daddy juga sudah tahu? I am sorry, Dad. Aku minta maaf. Aku...," --putus asa-- "sorry, Daddy. Aku tidak bisa mencegahnya."
"Ya, aku tahu soal itu, baru beberapa menit yang lalu. Dari Hendri. Nadya yang pertama kali tahu. Aku ingin memastikan, kamu... kamu benar-benar baik-baik saja, kan?"
Aku berdeham. "Yeah, sejauh ini aku baik-baik saja. Justru... aku memikirkan Daddy. Aku tahu ini sangat memalukan."
"Selama keadaanmu baik-baik saja, aku juga akan baik-baik saja."
"Em, aku juga," kataku pelan. "Selama kamu baik-baik saja, aku juga akan baik-baik saja."
"Syukurlah. Aku percaya, Kejoraku gadis yang tangguh. Kamu tenang saja, aku akan segera pulang sabtu ini. Dan aku akan mempertanggung jawabkan segalanya. Sampai jumpa, Sayang. Aku mecintaimu."
Tut!
"Eh? Kok teleponnya langsung ditutup?"
__ADS_1
Ya ampun, ini lebih meresahkan ketimbang artikel itu. Apa sih maksudnya? Bertanggung jawab, bagaimana?