
Berapa jam kau tertidur setelah tenagamu terkuras habis sewaktu pertama kali bercinta? Apa kau terbangun pada tengah malam karena ada rasa tidak nyaman di dalam dirimu, atau sekadar merasa ingin pipis?
Aku terbangun malam itu. Tepat pada tengah malam. Ada rasa lengket yang membuatku tidak nyaman, dan rasa ingin pipis juga. Di bawah cahaya temaram, aku mendapati diriku terbangun dengan rasa yang tak kumengerti: sakit, pegal, kaku, dan rasa-rasa tak nyaman lainnya yang membuatku butuh sedikit waktu untuk bisa bangkit dan berdiri. Sedikit demi sedikit, aku mencoba menggeser tubuhku dan menggerakkan kakiku hingga akhirnya aku punya kekuatan dan berhasil berdiri. Dengan terseok-seok aku pun sampai ke kamar mandi.
Setelah beberapa menit dengan segala hal yang kulakukan di kamar mandi, aku berdiri di depan cermin, mencermati tubuhku yang merah-merah karena kelakuan gila Daddy, suamiku yang memiliki gairah di atas rata-rata. Ukh!
Aku tersenyum-senyum sendiri mengingat proses malam pertama kami yang teramat manis yang baru saja kami lalui. Aku mendesa* bahagia, menyadari betapa perkasanya dia. Aku jadi teringat yang ia katakan beberapa waktu lalu, dia akan membuatku kecanduan dan sangat ketagihan. Kurasa, kelak akan benar seperti itu. Aku akan benar-benar kecanduan dan ketagihan. Bagaimana tidak? Dia benar-benar perkasa.
Well, aku yang baru saja selesai menyisir dan mengikat rambutku, langsung keluar dari kamar mandi. Melangkah di bawah cahaya temaram lampu tidur dan baru beberapa langkah dari kamar mandi, tiba-tiba...
Ctek!
__ADS_1
Lampu kamarku terang benderang dan aku langsung memekik, dan spontan memutar tubuhku -- memunggungi Daddy yang jahil menyalakan lampu kamar, seakan ia tahu kalau aku masih polos dan tak memakai apa pun. Dia terkekeh-kekeh saking senangnya berhasil membuatku tersipu malu.
"Ayo, sini," ajaknya.
Sewaktu aku menoleh ke belakang, ternyata dia sudah mengenakan celana panjang dan ia kembali berbaring di tempat tidur.
"Matikan dulu lampunya, Daddy...," aku merengek. Serius, aku masih malu padanya.
Dia masih terkikik, dan dari suaranya aku menyadari kalau ia turun dari tempat tidur untuk menghampiriku. "Nope," bisiknya. "Kejoraku tidak akan terlihat dengan jelas kalau lampunya dipadamkan."
"Hanya belum terbiasa, Sayang."
__ADS_1
"Aku tahu, karena itu, ukh... Daddy...!"
Tangannya melingkar, menangkup dan membelai dada. "Aku mengagumi keindahanmu," suaranya pelan menggelitik di telinga.
Dan, bibirnya, kini membelai lembut di leherku, kemudian terbenam. Seakan tak pernah cukup, ia *engisapku, mencicipi darahku, membuatku mengeran* lirih di keheningan malam.
"Kejora," bisiknya, "aku milikmu. Cintai aku. Sentuh aku dengan hasrat."
Aku menggeleng. "Maaf, tapi aku belum terbiasa. Biar--"
"Please...." Dia menangkup lekuk tulang pipiku, mengarahkanku ke bibirnya, dan kami berciuman. Ciuman panas, ciuman yang rakus seakan bibirku adalah sesuatu yang teramat lezat. Dan tanpa kusadari, ia memutar tubuhku perlahan. Dan ketika kami berhadapan, buku-buku jemarinya tak lagi berada di pipiku. Daddy mencengkeram kasar rambutku, ia memperdalam ciumannya, meliukkan lidahnya hingga masuk ke dalam mulutku. Menggelitik, mencumbu lidahku dengan teramat liar. Dan kemudian...
__ADS_1
Aku mendesi* merasakan belaian tangannya di dadaku, sedangkan tangannya yang lain menelusuri punggungku.
"Kejora, please... touch me." Dia menyentuh jemariku, membimbingnya turun dan menyentuh lingkar celananya. "Sentuh aku. Jadikan aku milikmu seutuhnya, please...."