Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Argh!


__ADS_3

"Kejora? Hei?"


Daddy?


Aku membuka mata, mendongak, dan sedikit lega karena Daddy ada di depanku, dia memegangi bahuku dan membantuku berdiri. "Kenapa?"


"Riko, Daddy. Dia, dia ada di depan. Aku takut...."


Daddy melihat ke luar melalui jendela, tapi nihil, tidak ada siapa pun. "Kamu yakin? Tidak ada siapa pun di depan."


"Yakin. Tadi itu Riko."


"Kejora, mungkin kamu salah lihat."


"Tidak mungkin. Dia menekan bel, makanya aku ke depan."


"Kamu yakin? Mungkin kamu terlalu cemas. Makanya kamu--"

__ADS_1


"Daddy menuduhku berhalusinasi? Iya? Daddy pikir aku gila?" Aku menggeleng-geleng, kecewa karena dia tidak percaya padaku. "Keterlaluan! Aku masih waras!"


"Bukan begitu, Sayang." Dia mendekapku, mencium keningku dan mengelus punggungku. "Tenang," katanya. "Nanti aku cek CCTV, ya. Sekarang kamu berpakaian, oke?"


Tapi aku menangis. Ini keterlaluan, pikirku. Bisa-bisanya pemuda itu menerorku di dalam rumah. "Jangan jauh-jauh dariku, tolong?"


Daddy mengerti. "Ya," katanya. "Ayo." Dia menggandengku ke lantai atas, ke kamar dan menyuruhku berpakaian sementara ia membuka laptop dan mengakses rekaman CCTV.


Aku baru saja mengenakan dress bunga-bunga ketika Daddy mengepalkan tangan. Aku tak butuh melihat hasil rekaman CCTV itu untuk meyakinkan diriku bahwa aku tidak salah lihat atau tidak sedang berhalusinasi.


"Benar," gumam Daddy. "Apa maksudnya? Tidak mungkin dia tidak tahu kalau aku ada di dalam."


"Nanti kita ke rumahnya. Kita temui mamanya. Sekarang kamu dandan, sekalian kita ke supermarket."


Aku menggeleng. Aku tidak ingin pergi. Aku takut pemuda itu mengikutiku dan menghantui pikiranku. "Tidak bisakah kita laporkan saja ke polisi?"


"Kita tidak punya bukti kuat untuk melaporkannya. Dia bisa menyangkal kalau dia datang untuk bertamu atau apa. Kalau kita melapor, laporan kita akan diterima, tapi tidak berarti dia akan ditahan. Dia tidak mungkin akan mengakui tujuannya yang sebenarnya."

__ADS_1


Argh!


"Lalu apa? Aku harus diam saja? Membiarkan peneror itu merusak pikiranku? Melihatnya di depan wajahku seperti tadi bisa membuatku berpikir kalau dia bisa saja masuk ke rumah ini. Dia ada di kamarku, membekapku, menyeretku entah ke mana. Aku takut!" raungku, aku bicara dengan nada tinggi, jelas-jelas gusar.


Daddy menatap iba padaku, lalu menghela napas gemetar. "Sudah?" Kemudian ia berdiri, menghampiriku dan membenamkanku di dadanya. "Tolong, jangan buat aku merasa tidak berguna, Kejora," Daddy memohon. "Kumohon jangan. Aku tidak sanggup melihatmu ketakutan seperti ini."


Ya Tuhan, jelas-jelas aku menyakiti hatinya. Ketakutanku pasti membuatnya merasa tercabik dan tertampar kenangan buruk masa lalu.


"Aku minta maaf," ujarku.


"Aku juga minta maaf. Aku akan terus menempel padamu agar kamu selalu merasa aman."


"Ya, aku butuh itu. Aku butuh kamu selalu berada di depan mataku. Aku janji aku akan lebih kuat. Aku janji."


"Harus. Kejoraku wanita yang kuat. Percaya padaku, demi Tuhan aku tidak akan membiarkan pemuda itu berhasil menyentuhmu. Tidak akan."


Yeah, aku percaya. Daddy pasti selalu melindungiku. Tenang, Kejora, tenang. Hanya beberapa hari lagi. Kita akan pergi jauh dari sini.

__ADS_1


"Nanti aku akan cari orang untuk berjaga di depan, ya, supaya kamu lebih tenang. Riko tidak akan bisa masuk ke sini lagi. Dia tidak akan bisa menyentuhmu."


__ADS_2