Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Magnet Cinta


__ADS_3

Mommy sekeluarga menghabiskan waktu bersama kami selama dua hari. Hari jumat dan hari sabtu. Tidak banyak yang kami lakukan. Mereka mengajakku jalan-jalan pada hari jumat di seputaran Kota Batu dan menikmati kulinernya yang khas. Tentu saja, Malang bukan kota asing bagi Daddy, Mommy, dan Oom Endru, jadi mereka tidak terlalu antusias sepertiku untuk mengabadikan momen dan tempat-tempat yang indah itu sebagai kenang-kenangan. Kecuali saat berfoto berduaan, Daddy cukup antusias berpose denganku. Dan, sebagai hubungan yang kurasa belum bisa kupublikasikan, aku mesti merahasiakan foto-foto mesra kami dan tak berani mengunggahnya ke sosial media. Kecuali foto-foto biasa, aku tetap mengunggahnya. Kuanggap itu sebagai kode untuk ke depannya nanti, jika sudah waktunya bagi kami mempublikasikan hubungan kami secara terang-terangan. Itu pun aku menonaktifkan kolom komentarku supaya tidak ada yang bisa nyinyir di foto yang kuunggah itu. Namun, sebagai gantinya, aku menerima beberapa pesan via messenger dan whatsapp: beberapa orang menitip salam untuk Daddy dan memuji ketampanan lelaki yang ada di sampingku -- di dalam foto itu.


Ketampanannya memang membuat mata wanita terpesona.


Meski hanya sehari, aku cukup puas menikmati pemandangan di tempat-tempat wisata dan taman-taman bunga yang indah itu, apalagi kulinernya. Nikmat dan lezat. Sedangkan di hari sabtu, kami hanya menghabiskan waktu di pondok. Daddy dan Oom Endru menghabiskan waktu dengan berkuda di sepanjang siang dan kegiatan lainnya hingga sore. Sementara aku menghabiskan waktu dengan Mommy. Kami banyak bercerita tentang tahun-tahun semenjak ia memutuskan untuk memilih hidup bersama Oom Endru, bagaimana aku kehilangan sosok ibu di usiaku yang baru memasuki usia remaja belia, dan bagaimana tentang sekolahku. Dia meminta maaf untuk semua itu. Tapi, menurutnya waktu itu, aku punya Oma yang bisa mengambil alih perannya. Toh, katanya dia tidak mengasuhku dari bayi. Oma bisa menjagaku lagi, berdua dengan Daddy.


Hmm... tapi itu masa lalu. Kalau dia bertahan demi aku, dia tidak akan sebahagia sekarang. Bersama cinta sejatinya dan kedua buah hatinya.


"Aku tidak apa-apa, kok. Dulu awal-awalnya memang berat, aku sangat kehilangan. Tapi sekarang, aku turut bahagia untuk Mommy. Mommy mengambil keputusan yang benar."


Dan ini bukan waktunya untuk bersedih. Segera kualihkan topik pembicaraan kami. Semasa sedang berduaan di sore itu, aku juga punya kesempatan untuk bertanya tentang masa lalunya bersama Daddy, tentang pernikahan mereka. Aku ingin tahu apakah dulu mereka mencoba menjalani rumah tangga mereka dan mencoba menjadi pasangan yang baik untuk satu sama lain?


Ups! Karena pertanyaan itu, hidungku malah kena pencet. "Biar Mommy tebak, kamu mau tanya apa Mommy dan Daddy melakukan hubungan suami istri atau tidak. Iya, kan?" Suara tawanya pun melengking.


Dasar gesrek. "Aku nanya serius, Mom."

__ADS_1


"Mommy dan Daddy berusaha untuk itu, Sayang. Mommy berusaha menjadi istri yang baik, jadi menantu yang baik, bahkan ibu yang baik untukmu. Daddy juga, dia berusaha menjadi suami yang baik untuk Mommy. Kami berkomitmen untuk menjadi pasangan yang baik dan menjaga pernikahan kami. Dan secara teknis itu berhasil. Sikap kami masing-masing pada satu sama lain menunjukkan itu. Nafkah lahir pun terpenuhi. Dan... nafkah batin... juga ada. Tapi di situ-lah kendalanya. Tentang hasrat."


Aku tidak mengerti. Mereka berhubungan badan, tapi di situ "kendalanya."


"Maksudnya bagaimana, Mom?"


"Kami tidak punya hasrat alami, Sayang."


"Mommy, aku tidak mengerti...."


Dia menghela napas dengan panjang dan nampak berpikir sejenak. "Ehm, begini, kami tidak bisa berhubungan suami istri hanya dengan melihat ketertarikan fisik. Misalnya, hanya berdekatan, tidur sekamar atau seranjang. Tidak ada reaksi apa pun di antara kami. Tidak ada rasa kangen, tidak ada keinginan untuk menyentuh, kecuali -- dengan bantuan... kamu mengerti, kan? Mesti dengan bantuan suplemen, atau Mommy dan Daddy memoloskan diri dulu di hadapan masing-masing. Mencoba saling menyentuh dulu sampai hasrat itu merasuk. Sedangkan, kalau kedua orang -- perempuan dan laki-laki yang saling mencintai, hanya dengan bertatapan, hasrat itu akan menyala kuat dengan sendirinya. Rasa itu akan menjalar ke mana-mana, ke setiap sel di dalam tubuhmu, dalam aliran darahmu, kau tidak bisa menahannya. Rasa mendamba. Haus akan sentuhannya, rasa itu merongrongmu dari dalam, rasa yang kuat dan tak tertahan, dan... kau ingin hasrat itu tersalur, kebutuhan dalam jiwa yang ingin terpenuhi. Yang ingin terpuaskan. Dan... dan... Oh, Daddy... kau memabukkan. Kejora tidak tahan...."


Lagi, suara tawanya melengking. "Uuuh... wajahmu merah...."


"Mommy...."

__ADS_1


"Mengaku saja, Sayang...."


"Aku...."


"Tahan hasratmu, Sayang. Pandai-pandailah menjaga jarak. Selesaikan dulu sekolahmu. Anak SMA tidak boleh menikah, apalagi sampai hamil. Hati-hati. Tunggu dulu satu tahun. Setelah itu... emm... apa ya...."


Kusembunyikan wajahku darinya. Ini memalukan. Aku bahkan tidak bisa menutupi kebenaran itu dari dalam diriku, dan aku tahu Mommy bisa melihat hasrat itu dengan jelas tanpa bisa kusembunyikan sedikit pun darinya.


Untung saja setelah itu si kembar merengek minta susu. Aku bisa bebas dari obrolan ini -- yang seperti bubuk cabe. Membuat pipiku merah dan panas.


Setelah menit-menit berlalu, malam harinya -- persis setelah makan malam, mereka sekeluarga segera berpamitan untuk pulang ke Surabaya. Sungguh aku keberatan, aku juga meminta mereka untuk menginap semalam lagi dan pulang ke Surabaya besok pagi, bareng dengan kami yang akan pulang ke Jakarta.


"Bukannya Mommy tidak mau, Sayang. Tapi, besok pagi-pagi sekali kami mesti stay di rumah sepupunya Oom Endru. Tidak enak dengan keluarganya kalau kami kondangannya misah dengan rombongan. Yang pasti agak repot kalau kami berangkatnya dari sini. Tidak apa-apa, ya. Nanti... kita pasti akan bertemu lagi. Titip salam untuk Oma."


Aku merengut, tapi aku tetap mesti merelakannya pergi. Membiarkannya pergi hingga tak terlihat lagi di kejauhan sana.

__ADS_1


"Sudah malam. Tidurlah," kata Daddy. "Besok kita akan pulang ke Jakarta pagi-pagi. Jangan sampai bangunnya kesiangan."


Aku mengangguk, dan segera melesat ke kamar. Jaga jarak aman, say! Karena di sini akulah magnetnya.


__ADS_2