Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Tulus


__ADS_3

Pelayan datang ke meja kami dan meletakkan nampan plastik oranye di sampingku. Dia menaruh seporsi gado-gado ekstra sayur di depanku, dan seporsi lagi di depan Daddy. Ada banyak sawi di dalamnya, dan aku tak suka. Dengan gigih aku menyingkirkan bagian-bagian daun hijau layu itu dan memindahkannya ke piring Daddy. Daddy hanya tersenyum, dia mengambil sayur itu sedikit lalu mulai mengunyah.


"Makan taugenya, Daddy...," protesku. "Taugenya dulu."


Kali ini ia tertawa. "Iya, iya," sahutnya. Ia langsung menyendok tauge-taugenya dan segera melahapnya. Begitu juga aku, namun aku mesti memakan sayur-sayuran itu dengan irisan lontongnya juga.


Yeah, sebenarnya aku tak doyan makan gado-gado. Aku mudah enek makan sesuatu yang berbau pecal, belum lagi tampilannya yang kental dan kecokelatan. Tapi demi tauge aku rela. Eh?


Yap, demi cepat hamil, makan apa pun aku rela. Tapi sayangnya, aku hanya menghabiskan separuh gado-gadoku dengan tauge yang tak bersisa lagi di piringku. "Aku tidak mau makan lagi," kataku, lalu menenggak susu kemasanku.


"Enek? Kupesankan soto di tenda sebelah, ya?"


Aku tak menyahut, tapi aku membiarkan saja Daddy pergi ke tenda sebelah. Kemudian, dengan semangatnya kucampurkan sisa gado-gadoku ke piring Daddy. Sewaktu ia kembali dengan semangkuk soto daging ekstra tauge dan beberapa butir telur, aku menyodorkan piring gado-gado itu kembali ke hadapannya. "Makanlah yang banyak supaya punya tenaga ekstra."


"Tenang saja. Aku tidak akan mengecewakanmu." Dia mengerling nakal padaku lalu mengupas telur rebus untukku. "Beritahu saja nanti kalau kamu sudah selesai dan siap tempur. I am ready for you. Always, Kejora."


Uuuh... bisikannya menggelitik hasrat. Dia membuatku jadi cekikikan.


Sejenak kemudian, Daddy baru saja menjejali sesendok penuh campuran sayur ke mulutnya saat seorang pemuda penjual bunga keliling menghampiri kami.


"Permisi, dengan Mbak Kejora?"


Aku tertegun menatapnya. "Ya," kataku.

__ADS_1


"Ini, Mbak, ada titipan mawar merah untuk Mbak. Mohon diterima."


Ngeri, aku langsung melihat ke sekeliling. "Dari siapa?"


"Maaf, tapi yang beli tidak menyebutkan nama."


"Terima kasih, Mas. Bunganya kami terima. Silakan, " kata Daddy, mengusir secara halus.


"Tunggu, tunggu. Bisa sebutkan ciri-cirinya? Atau tunjukkan, mungkin orangnya masih di sekitar sini??"


Nihil. Si penjual bunga tidak melihatnya dan tidak tahu orang itu pergi ke mana.


"Sudahlah." Daddy meraih dan menggenggam tanganku. "Biarkan saja, ya? Ayo, kita lanjutkan sarapannya."


Aku yang masih cemas masih mengedarkan pandang ke sekeliling area, tanpa kusadari aku tak mendengar apa yang baru saja Daddy ucapkan.


"Emm?"


"Sudah, ya, Sayang. Biarkan saja. Tidak usah dipedulikan sekalipun dia ada di sekitar sini. Oke?"


Ya, kurasa itu benar. Biarlah. Ayo, Kejora, abaikan! Abaikan saja!


Kuhela napas dalam-dalam dan menyendok kuah sotoku yang hangat. Rasanya enak, sebenarnya. Tapi, karena suasana mendadak mencekam, apa pun tak lagi enak bagi lidahku.

__ADS_1


Aku berdeham. "Daddy?"


"Ya, Sayang?"


"Kalau sesuatu yang buruk terjadi--"


"Sayang... sudah, ya? Aku mohon?"


"Hanya pengandaian."


"Aku akan menjagamu. Selalu."


"Iya, tapi kalau sampai kejadian...."


"Tidak akan."


"Kadangkala ada takdir yang tak bisa kita hindari walau kita sudah berusaha. Seperti dulu--"


"Ssst... sudah. Kamu ingat, kan, aku pernah bilang apa pun yang terjadi, seburuk apa pun, aku akan selalu ada di sisimu. Jangan pernah pergi, jangan pernah meninggalkan aku, tolong? Kamu pernah berjanji padaku. Ingat, kan?"


Aku mengangguk-angguk. Deraian air mata membasahi pipi, terasa panas. Namun, hatiku bahagia mendengar ucapannya. "Semisal ada hal buruk menimpaku, seperti yang dialami ibuku dulu, kamu akan tetap menerimaku, kan?"


"Pasti, Sayang. Pasti. Kamu tidak akan pernah ada celanya di mataku. Ingat, ya, apa pun yang terjadi, seburuk apa pun, aku akan selalu bersamamu, menerima keadaanmu seperti apa pun adanya. Aku janji, aku tak akan peduli pada hal-hal semacam itu. Aku tidak akan pernah memandangmu cacat ataupun hina. Kamu juga janji, ya? Jangan pernah pergi. Tetaplah bersamaku apa pun yang terjadi. Tetaplah di sini, oke?"

__ADS_1


Ah, leganya. Seperti itulah nanti dan seterusnya. Kalau ada hal buruk yang menimpaku, aku tak akan pergi seperti yang dilakukan ibuku. Katakanlah aku tak sebaik ibuku, katakanlah aku perempuan yang egois, tapi aku ingin selalu bersama Gibran Aditama. Aku tak akan memberikannya luka yang sama. Tidak akan.


Terima kasih, kau begitu tulus padaku. I love you, Daddy....


__ADS_2