
"Parah tu cowok!" komentar Tiara mendengar ceritaku tentang Riko yang terus menerorku. "Terus, gimana reaksinya Oom... maksud gue Mas Gibran? Sudah lapor polisi?"
Aku menggeleng. "Belum, kita tidak punya bukti, Ra, untuk menjebloskannya ke penjara. Kalau cuma untuk dimintai keterangan, untuk apa? Dia pasti ngeles juga, kan?"
"Iya juga, sih!"
"Gibang!"
"Gibang? Apa itu, Dind?"
"Gila banget."
"Oh, gue kira apa tadi."
"Eh, Ra, lu jangan macam-macam, ya. Jangan sampai lu ngelabrak si Riko."
"Ya, Ra," timpalku membenarkan omongan Dinda. "Jangan cari gara-gara."
"Psikopat." Dinda menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kok banyak, ya, cewek-cewek yang mau jadi pacarnya?"
"Kan dia tampan," sahut Tiara. "Setidaknya dia lebih tampan daripada si Choky, ya kan?" Tiara terkikik-kikik menggoda Dinda.
Tapi Choky lebih jantan, liar, dan tokcer. Aku pun ikut cekikikan.
"Tapi Choky normal," sahut Dinda santai, sesantai gayanya yang sedang selonjoran di sofa kamarku.
__ADS_1
"Yeah, Choky normal," aku menimpali sambil memikirkan kuda jantannya Daddy. Dan dia tipe pejantan yang setia.
"Sayang sekali, ya. Dia tampan, tapi psikopat. Ih, ngeri deh. Kenapa, ya, dia bisa begitu? Butuh dokter jiwa tu cowok."
Aku mengedikkan bahu. Aku tidak tahu jawabannya. Mungkin karena dia marah pada keadaan dan lingkungannya. Riko itu dulu anak yang baik. Tetangga yang asyik dan teman kecil yang manis. Usianya empat tahun lebih tua dariku. Sewaktu kecil dulu aku memanggilnya kakak. Dia memang terlambat masuk sekolah, hampir usia delapan tahun. Dan sewaktu SMP dia mulai berubah, sering bolos sekolah dan bandelnya minta ampun sampai-sampai ketinggalan kelas dua kali. Jadi, sekarang usianya sudah hampir dua puluh dua tahun dan dia baru menyelesaikan pendidikan SMA-nya.
"Sudahlah, tidak usah membahas cowok itu lagi. Mending kita tes lampu tidurnya," kata Tiara. Tadi Dinda mengajaknya ke toko pernak-pernik untuk membelikan pesananku, lampu tidur dengan karakter lilin, cahaya kuningnya membuat kamarku terkesan hangat dan nampak romantis. "Pasti malam ini kalian akan bercinta habis-habisan. Aaaaah... gue kan jadi kepingin...."
Ckckck! Aku tergelak hebat.
"Kenapa?" tanya Tiara.
"Maunya begitu," kataku.
"Tapi tidak jadi."
"Lo? Sudah dibelikan pesanannya juga. Kok?"
"Capek, Dind. Tadi sudah diajak bercinta habis-habisan. Makanya gue tidur siang nyenyak banget sampai bangun sesore ini."
Dinda cengar-cengir. "Pantas di sini bau keringatnya kentara sekali. Uuuuuh... Hot Daddy...."
Ya ampun, Tiara ikut mengendus. "Begini, ya, aroma-aroma kejantanan seorang pria? Enak, ya. Menggairahkan." Dia tersenyum nakal.
"Eh, dasar, ya, kalian. Jangan diendus aroma suami gue."
__ADS_1
Mereka terbahak-bahak. "Ya ampun... aroma keringatnya saja seksi begini. Apalagi... Uh, uh, uh! Pingin cicip...."
"Sialan lu, Dind. Ih, najis. Suami gue bukan permen, tahu!"
"Tapi bisa dijadiin permen, kan? Diemut-*mut gitu." Lagi-lagi tawanya pecah. "Lolipop, Say...."
"Oh, Daddy... eummmmm... bikin iri, deh, kalian. Tiara mau juga, dong, digoyang-goyang...."
Bug! Sebuah bantal menghantamnya. "Kalian berdua sudah ngebet, hah?"
"Ember...." Dinda nyengir super duper lebar.
"Dari skala satu sampai sepuluh, seberapa nikmat, Ra?"
"Seratus, Tiara. Buruan deh menikah biar bisa bercinta. Mantap lo. Haha!"
"Mau, kalau ada yang dewasa kayak Mas Gibran. Kalau yang muda kayak Choky mah gue ogah."
"Iya juga," kata Dinda, dia jadi bingung sendiri. "Buat apa, ya, gue pacaran sama Choky?"
Lah? Teman-temanku memang rada-rada, ya. Dasar. Pada ngebet nikah mudah juga? O-ow....
"Sayang, dong." Tiara sedang membuka kotak lampu karakter satunya. Sebuah lampu yang bisa memancarkan efek bintang-bintang yang bertaburan di langit-langit kamar baruku. "Tapi tidak apa-apa, sih. Siapa tahu, barangkali tengah malam nanti kalian bangun dan siap tempur lagi. Ouwww... enaknya...." Dia terbahak sendiri.
Aku tersenyum, lalu mengaminkan ucapan Tiara. Entahlah, tadinya aku tidak bermaksud apa-apa -- hanya sekadar mengaminkan saja. Tetapi, Tuhan malah mengabulkan. Namun, sayangnya dengan cara yang tidak kuinginkan. Tapi, yeah, Tuhan tahu aku membutuhkannya.
__ADS_1