Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Crazy Love


__ADS_3

Sungguh -- gila yang membuat geli. Daddy menjilat-jilati sari-sari mangga di punggungku. Rasa asam manis yang sangat ia sukai itu berkombinasi dengan tubuhku, tubuh yang ia candui. Dan seolah sari buah itu meresap ke dalam kulitku, Daddy sampai mengisa* kuat beberapa titik sensitif di punggungku. Kenikmatan yang selalu membuatku meresapinya hingga mataku ingin terpejam. Dan itu -- yang dia inginkan, sebuah kesempatan melumuri dada dan leherku dengan sisa sari mangga dari cup jus miliknya.


Ya Tuhan... betapa gilanya pria itu terhadap tubuhku, hingga leherku tak pernah lepas dari jiwa kanibalnya yang buas. Kebuasan yang menghasilkan jejak-jejak merah namun kuakui rasanya begitu nikmat. "Kau membuatku seperti hewan buas, Kejora. Kau membuatku tergila-gila padamu," katanya -- sangat pelan di telinga, berbanding terbalik dengan tangannya yang mencengkeram kuat di bagian dada.


"Daddy... berhenti sebentar." Aku memutar tubuhku menghadapnya. "Izinkan aku ke kamar mandi, sebentar saja."


Dia menggeleng, dekapannya malah semakin erat. "Aku sudah bilang, aku tidak akan mengampunimu."


"Tapi, Daddy...."


Bibirnya sudah mengisa* sari mangga di dadaku. Bahkan tanpa sadar, bra sewarna kulit itu sudah mendarat di lantai, lalu ia melangkah maju dan menghimpitkan tubuhku di antara lemari es dan tubuhnya yang kekar. "Tidak akan ada kesempatan bagimu untuk lepas dariku. Tidak akan."


"Ya Tuhan... Daddy... eummmmm...." Kurasa itu terlalu kuat, Daddy...."


Tapi aku diam saja. Aku rela menahannya demi tak mengganggu gairahnya. Tetapi...


"Aku mau pipis...."


Kasihan, aku tak di dengar. Daddy malah melepaskan pakaian dalamku yang terakhir, yang turun bersamaan dengan ia yang berjongkok di depanku, menghadap ke surga cinta miliknya.


"Ouw, Dad, tolong, aku tidak tahan. Serius, aku mau pipis dulu."


Ya ampun, dia benar-benar tidak mau mengampuniku. Dia malah...


Oh, sial. Aku mesti menahan diri mati-matian supaya tidak pipis di tempat, dan, mengenai wajahnya.


Untung saja, sesaat kemudian dia kembali bangkit, dia memutarku, membuatku memunggunginya lagi, lalu menggeser posisi kami ke samping. Dan tahu-tahu, dia memaksaku bertelungkup di atas counter. Setengah tubuhnya menindihku dan dalam gerak cepat aku merasakan dirinya terarah, masuk, dan terbenam sempurna.


"Ukh!" Aku merasa diriku penuh di dalam sana. "Daddy, aku sudah tidak kuat."

__ADS_1


"Sama, aku juga sudah tidak kuat." Dia bergerak perlahan.


Oh, siaaaaal...! Dia menafsirkan lain. Nada *ensualnya di telingaku malah membuatku cemas. Dia benar-benar tidak akan melepaskanku walau sebentar saja.


"Maksudku, aku sudah kebelet."


"Sama, aku juga."


"Daddy... jangan bercanda!"


"Ssst... jangan membujukku, Kejora."


Astaga... dia malah tancap gas.


"Daddy... stooooop...."


"Daddy, tolong...."


"Lepaskan saja, Kejora."


"Nope! Aku tidak mau kelepasan pipis di sini."


Hoaaaaa... sepertinya apa yang terjadi di mimpiku dulu akan terjadi di sini. Bedanya ini bukan kasur, melainkan hanya lantai dapur. Namun tidak, aku tidak ingin pipis di sini.


"Please... setidaknya, auw...! Jangan, jangan di sini. Tolonglah. Ouch, Dad! Daddy!"


Huh! Akhirnya dia mau juga melepaskan diri dariku -- walau terpaksa. "Kamu bawel sekali!" protesnya. Dia menggendongku dan malah berjalan ke halaman belakang. "Sudah kubilang aku tidak akan mengampunimu. Tidak akan." Daddy terus berjalan.


"Tapi aku benaran mau pipis, Daddy...," rengekku. "Aku tidak tahan lagi...."

__ADS_1


Fix! Dia membaringkanku di atas kursi malas dan langsung menindihku. Aku tak punya kesempatan sedikit pun untuk lari ke kamar mandi. Faktanya, dia sudah kembali masuk ke singgasananya.


"Daddy...."


"Diamlah."


"Tapi aku mau pipis...."


"Lakukan saja. Tapi jangan memintaku berhenti, oke?"


Speechless... paling-paling wajahku akan merah padam akibat menahan malu. Aku pasrah.


"Jangan ditahan, Kejora...," dia bicara lagi di telingaku, dan kemudian...


Full power.


Astaga... pasti ini. Pasti kelepasan juga.


"Ya Tuhan... Daddy....!"


Hiks! Tak bisa lagi kutahan. Kehangatan itu mengalir. Dan aku merasakan nikmatnya ketika sesuatu yang tak tertahan itu terlepas dengan sendirinya. Lega.


Tapi malu....


Aku memalingkan wajahku. Sialan!


"Jangan malu. Aku menyukainya, Kejora," kata Daddy pelan, dengan kebiasaannya yang bicara pelan di telinga, lalu ia memberi kecupan singkat di leherku. "Aku menyukai kehangatan yang kamu berikan untukku. Kehangatanmu, kehangatan yang selalu kurindukan. Yang hanya boleh dirasakan olehku. Hanya aku. Terima kasih. Aku mencintaimu. Aku, sangat mencintaimu, Kejora Aditama."


Ya Tuhan, apa dia gila?

__ADS_1


__ADS_2