Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Hadiah...?


__ADS_3

Dari toko buku, Daddy dan aku langsung menuju pantai. Kami hanya duduk-duduk dan membaca di sana. Daddy tak banyak bicara sebab aku sedang asyik dengan novelku.


"Kejora...!"


Aku menoleh ke arah sumber suara ketika seseorang menyerukan namaku. Itu Dinda. Dia lari menghampiri begitu melihatku.


"Aku kangen sekali padamu," katanya, sambil menggoyang-goyangkan kepalanya untuk memamerkan penampilan barunya. "Bagaimana menurutmu? Apa rambutku bagus?"


Dia bahkan tak menunggu aku mengatakan bahwa aku juga kangen sekali padanya. "Bagus, dong," sahutku.


Waktu libur semester lalu, rambut Dinda dicat pirang kemerahan. Sekarang warnanya seperti secangkir espresso. Rambutnya selalu berganti setiap libur semester, dan kali ini juga. Perkiraanku kemarin ternyata salah. Rambutnya masih hitam saat dia datang ke acara pernikahanku. Kukira dia akan meliburkan jadwal pewarnaan rambutnya kali ini. Ternyata tidak.


"Hai, suaminya Kejora," sapanya pada Daddy. Hari itu dia sedang jalan-jalan sore dan sedang membuat janji temu dengan pacar barunya. "Atau aku harus memanggil dirimu Mas Gibran? Dari dulu aku pingin memanggilmu begitu, tahu!"


Ya ampun... jangan-jangan dia pernah berpikir untuk menjadi ibu sambungku?


Ck! Hahaha! Daddy sampai tersipu-sipu karena celotehan gadis itu.


"Terserah padamu," kataku. Dari dulu kami memang tidak bicara lu-gue jika di depan Daddy.


Dan somplaknya, Dinda menyeretku menjauh untuk menagih janji. "Ceritakan ke gue bagaimana malam pertama kalian? Bagaimana persentase enak dan sakitnya? Terus, berapa ronde? Ayo dong jawaaab...!"


Gesrek ini cewek.


Sebelum aku sempat membuka suara, Dinda sudah berseru. Pacarnya sudah datang.


"Choky!"

__ADS_1


"Apa?"


"Pacar baruku. Namanya Choky. Itu dia sudah datang."


Hah!


Aku dan Daddy jadi terkikik-kikik mendengar namanya. Bahkan rasanya aku ingin memanggil Dinda dengan nama Tamara. Kuda betinaku.


"Apa kabar Tamara?" tanyaku, setelah Dinda dan kekasih barunya itu berlalu dari pandangan mata kami.


Daddy mengulum senyum. "Ada kabar baik," katanya.


"O ya? Apa itu?"


"Kemarin Pak Darman menelepon. Katanya...."


"Apa?"


"Waw...! Tokcer dong, Choky." Aku kembali terkikik-kikik.


Dan lucunya juga, Daddy mestinya mengatakan kalau kuda betina itu sedang bunting atau mengandung, bukannya hamil.


"Kuharap aku juga."


"Juga? Maksudnya?"


"Tokcer."

__ADS_1


"Tokcer? Oh, ya, aamiin. Aamiin, Daddy."


Oh, Daddy... baru juga kemarin malam kau meng-unboxing diriku. Sekarang sudah membahas soal kehamilan. Duh biyung....


"Bagaimana kalau kita pulang sekarang?"


Eh?


"Sudah hampir gelap, Kejora."


Dia cengengesan. Langit masih terang benderang dan waktu baru menunjukkan pukul empat sore. Gelap dari mananya? Dari otaknya?


Oh, Daddy... Daddy.


Tapi aku menurut. Bagaimana bisa menolak jika tahu-tahu dia merapatkan dirinya padaku? Dia meraih dan menggenggam tanganku, lalu berbisik, "Please... aku menantikan hadiah darimu."


Dia benar-benar tak sabar. Saking tak sabarnya, aku baru saja hendak membuka pintu di sampingku ketika kami sampai di rumah, tetapi, Daddy langsung menjegal tanganku.


"Hadiahku, aku menginginkannya sekarang."


Hmm... aku tersenyum kepadanya. "Memangnya aku bilang hadiahnya apa? Kan bisa saja aku memasakkanmu sesuatu, misalnya iga bakar, atau...."


"Aku tak menginginkan yang lain. Hanya dirimu. Kamu... satu-satunya."


Uuuh... manis sekali. Jemarinya terampil membuka kancing-kancing bajuku. Aku jadi teringat cerita di Carita, tanpa sadar Daddy sudah merangkak ke atasku dan menurunkan sandaran kursiku.


"Tidak ada yang lebih membahagiakan daripada ini, mencintai, dicintai, dan bercinta denganmu."

__ADS_1


Ya ampun....


__ADS_2