Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Teka-Teki


__ADS_3

"Aku permisi, ya. Nanti aku ke sini lagi," kata Tiara. "Kalau butuh bantuanku, Mas Gibran tinggal telepon." Lalu dia memelukku. "Aku minta maaf karena lalai menjagamu."


Aku mengangguk. Aku tidak mempermasalahkan hal itu sama sekali. Bukan salah Tiara. Aku yang bodoh.


Tiara melangkah keluar, dan tak lupa menutup pintu.


"Dad...."


"Ssst... jangan bahas apa pun. Anggap saja tidak terjadi apa-apa."


"Andai saja bisa. Tapi itu tidak mungkin. Semuanya pasti sudah terjadi. Dia pasti sudah...."


Mata Daddy memerah, kemudian berkaca. Dia nampak tak nyaman, tapi ia berhasil menegarkan dirinya sendiri. "Hei," katanya, suaranya gemetar. "Jadi, kamu tidak tahu dia sudah menyentuhmu atau belum... sempat? Maksudku... kamu tidak melihat... emm... merasakannya?"


Aku menggeleng. Air mata semakin deras. "Aku pingsan," kataku. "Tapi dia sudah... dia pegang-pegang aku. Dia juga... mulutnya menjijikkan." Aku histeris. "Dia pasti sudah... dia pasti melakukannya saat aku pingsan."


"Sayang... Sayangku dengar, kamu pingsan, kamu tidak melihat dan tidak merasakan. Jadi, anggap tidak terjadi apa-apa. Oke?"


Aku menggeleng, histeris semakin jadi. "Itu pasti terjadi, Daddy... apalagi...." Suaraku hilang. "Bagaimana aku diselamatkan? Aku... aku telanjang. Tubuhku--"


"Ssst... Riko sudah mati. Jadi anggap tidak ada yang melihat tubuhmu. Oke? Percaya padaku. Aku menutupi tubuhmu dengan pakaianku sebelum membawamu keluar dari tempat terkutuk itu."


Aku terdiam kembali, berusaha memahami semuanya. Tapi gagal. "Aku kotor," kataku lagi. Aku putus asa.


"Tidak. Tidak begitu. Kamu Kejoraku. Bintang terindahku. Kamu sama sekali tidak kotor di mataku. Mengerti? Bisa dengar aku, Kejora? Please?"

__ADS_1


Daddy menungguku mengangguk sebelum melanjutkan. Kepalaku pening. Lidahku terasa tebal, dan kucoba mengatakan sesuatu. Kucoba mengatakan apa pun, tapi kata-kata itu tak mau keluar.


"Tenanglah, tenanglah," kata Daddy, suaranya sudah sedikit tenang dan menenangkan, seperti desauan udara musim semi nan lembut dari jendela yang dibuka setelah sekian lama tertutup. "Tenangkan dirimu. Segalanya akan baik-baik saja."


Mana bisa tenang seutuhnya?


"Bagaimana saat kalian datang? Kalian melihat Riko, dia... apa dia sedang...?"


Daddy menggeleng lagi. "Tidak ada yang melihat kejadian itu. Dan semoga memang belum terjadi. Kamu harus yakin itu. Aku langsung mencarimu begitu ponselmu tidak bisa dihubungi. Saat aku datang, Riko sudah tewas, kamu pingsan, tertelungkup. Jadi anggap itu tidak sempat terjadi. Ya?"


Sekali lagi, tidak bisa. Aku yang mengalami semua ini, jadi aku mesti tahu rangkaian cerita yang sebenarnya. Meski aku membenarkan pikiran Daddy, tapi tetap, hatiku yang terdalam ingin tahu. "Aku tahu saat ponselku berdering. Riko membantingnya. Tidak lama kemudian aku pingsan," kataku. "Seberapa lama Daddy datang setelah itu?"


"Tidak lama. Kurasa kurang dari lima menit."


Lima menit? Bagaimana Riko mati kurang dari lima, atau empat, atau tiga menit? Sementara aku sempat menerajangnya. "Daddy yakin? Kurasa tidak... Daddy hanya ingin menghiburku."


Aku kembali putus asa. "Dia sedang melakukan perbuatan keji itu padaku? Iya, Dad?"


"Bukan, Sayang... bukan. Bukan."


"Lalu?"


"Dia sedang duel dengan...."


"Pak Fikri? Tiara memberitahuku tadi."

__ADS_1


"Em," Daddy mengangguk, "Riko lengah begitu melihatku. Dan saat itulah lelaki itu mengambil kesempatan. Dia menusuk tepat di jantungnya."


Aku menggeleng-geleng, kembali dihantui oleh rasa kacau dan perasaan bersalah. Aku menangis semakin jadi. "Semua ini gara-gara aku. Pak Fikri... dia...." Mataku terpejam. "Ini semua salahku. Gara-gara aku--"


"Hentikan! Jangan menyalahkan dirimu sendiri."


"Aku memang salah!" lengkingku. "Gara-gara aku--"


"Kejora!" untuk pertama kali Gibran Aditama membentakku. "Jangan bahas ini lagi. Paham?"


Aku kaget, dan menangkap sesuatu yang lain di mata Daddy, juga dalam nada suaranya. Ada amarah, tapi bukan tertuju padaku.


"Aku tahu akan lebih buruk kalau Riko tidak mati, dan juga akan lebih buruk kalau aku atau Daddy yang melakukan pembunuhan itu. Tapi bukan berarti orang lain--"


Daddy merema* jemariku. "Biarkan saja, Kejora. Itu pengorbanan yang setimpal yang ia lakukan untukmu. Oke?"


"Apa maksudnya, Daddy?"


Kata-katanya membingungkan, dan membuat denyut di kepalaku semakin jadi. Bintik-bintik gelap merayap ke tepi penglihatanku, dan dadaku sesak.


"Hei, kamu kenapa? Ada yang sakit?"


Kurasa aku....


Daddy panik dan memanggilkan dokter. Dan berikutnya aku tak mampu menyimak apa yang terjadi.

__ADS_1


Aku tahu, kondisiku kembali down.


__ADS_2