Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Kemesraan


__ADS_3

Satu jam kemudian aku sudah berdiri di depan gudang perkebunan, merasa ragu, sementara Daddy tengah memasang pelana di kuda yang baru kemarin resmi menjadi miliknya. Sebenarnya, ketimbang menunggang kuda, aku akan dengan senang hati berdiri di sana sepanjang hari, hanya untuk mengamati Daddy. Sambil bersandar di pintu gudang, aku mengagumi cara Daddy bergerak, cara ototnya menegang di balik kemejanya, dan mudahnya ia menangani kuda barunya itu. Ia membersihkan kotoran dari tapal kuda, menyikat bulunya dengan belaian cepat dan efisien, meluruskan selimut di tempatnya, mengangkat pelana berat itu seakan beratnya hanya dua kilogram dan bukannya dua puluh kilogram, lalu memasang pelana itu di tempatnya.


"Kuda yang tampan, bukan?"


Aku mengangguk. "Yeah, tapi tak setampan pemiliknya."


"Kamu menyamakan Daddy dengan kuda? Hmm?"


Aku tersenyum. "Hanya bercanda, Daddy. Kudanya... memang bagus."


"Kalau Daddy?"


"Daddy tampan. Luar biasa."


"O ya?"


"Ya. Kalian kolaborasi dua makhluk yang sangat serasi."


"Kalau Daddy dan kamu?" Dia tersenyum. "Bagaimana?"


"Kita berdua? Emm... mungkin butuh penilaian orang lain untuk menilainya. Tapi aku cantik, sih. Aku tahu dan sangat menyadari hal itu."


Lagi, ia tersenyum. "Kamu memang cantik. Luar biasa."


Hmm... pembahasan kuda yang menyerempet ke mana-mana. Yeah, aku tidak mau menyebut kuda itu tampan. Tapi ia memang bagus. Ia kuda jantan dengan bulu hitam mengilap, berbadan besar, dan mata yang tajam. Namanya Choky, dia punya pasangan bernama Tamara. Kuda betina yang cantik dan sama hitamnya. Sewaktu aku menghampiri kuda betina itu dari samping dan menepuk singkat leher hewan itu, si kuda mendengus lirih, lalu menggosokkan keningnya di dadaku. Aku pun refleks mendongak menatap Daddy. "Apakah itu artinya dia suka padaku?"


"Tentu. Apalagi Daddy. Lebih dari suka."


Ya ampun... asli, dia sedang mengalami masa pubernya kembali. "Fokuslah pada kudamu, Daddy. Pastikan kita aman saat menungganginya."


"Oh, sepertinya Kejoraku sudah tidak sabar."


"Apanya?"


"Menunggang."


"Menunggang kuda, Daddy."


"Daddy?"


"Oh, ya ampun. Haruskah kukatakan kalau Daddy sedang bicara dengan anak yang masih di bawah umur?"


"Oh, ya ampun. Rasanya kemarin kita sudah merayakan ulang tahunmu yang ke tujuh belas. Apa ada yang lupa kalau ia sudah dewasa?"


Aku merengut, sementara ia tersenyum lebar dan melanjutkan celotehannya. Dia ingin aku melakukan pendekatan dengan Tamara dan belajar menunggangi kuda betina itu. Tapi nanti, setelah ia berhasil meyakinkanku bahwa menunggang kuda itu adalah kegiatan yang asyik, menyenangkan, dan sama sekali tidak mengerikan. Jadi, kami akan menunggangi Choky dulu, berdua.


"Hei, Choky." Daddy menggaruk kepala kuda itu di antara kedua telinganya, lalu merogoh saku dan mengeluarkan sebutir apel. Ia menawarkannya kepada si kuda, yang melahapnya dengan berisik dan bern*fsu. Sari apel menetes dari sudut mulut kuda itu.

__ADS_1


Sungguh, aku pernah punya keinginan untuk berkuda. Tapi tak pernah terbayangkan kalau aku akan melakukannya bersama Daddy. Seperti di dalam film-film, pasti asyik pikirku kalau Daddy memelukku di atas kuda jantan itu. Tapi...


Akhirnya aku waswas juga saat Daddy berpaling ke arahku dan bertanya apa aku siap. "Daddy yakin ini aman? Aku tidak pernah tahu kalau Daddy bisa berkuda."


"Aman," sahutnya sambil memeluk pinggangku, dia mengangkatku ke pelana, menyesuaikan kendalinya dan memintaku memegang tali kekang untuk sementara. Dia pun naik dan duduk di belakangku. "Please, jangan meragukanku, Kejora," bisiknya mesra.


Ah, kata-katanya menyeretku pada pemahaman yang lain, dan aku juga merinding menyadari ia duduk di belakangku, menempel dan memelukku di atas kuda. "Baiklah, aku selalu percaya padamu."


"Bagus. Kita mulai, Sayang."


Daddy menyentuhkan tumitnya ke sisi tubuh kuda dan kuda besar itu mulai berderap singkat dan keluar dari kandang.


"Bagaimana? Kamu suka?"


"Lumayan. Tapi ini terlalu pelan, seperti naik gajah."


"Nanti, dong. Dia butuh penyesuaian dengan pemilik barunya. Sepertimu -- yang masih canggung."


Aku mendelik, lalu menyikut pelan tulang rusuknya dengan siku. "Jangan samakan aku dengan kuda."


"Memangnya berbeda? Hmm?"


"Beda. Yang sama itu Daddy."


"O ya? Apanya yang sama?"


Oh Tuhan, kilasan mimpi itu berkelebat di kepala. Bagaimana sosoknya yang jantan, tangguh, dan kuat itu menguasaiku dengan hebat. Mimpi sialan itu membuatku ingin segera mencapai usia delapan belas tahun.


"Kejora... penilaianmu itu berdasarkan apa? Hmm? Bagaimana kamu bisa menilaiku seperti itu?" tanyanya dalam bisikan.


Aku menggeleng, dan kusadari pipiku merona merah akibat menahan malu.


Euw! Daddy malah terkikik geli. "Sudah, jangan dibahas lagi," katanya. "Mari kita lihat bagaimana kalau Choky berlari pelan."


Menyenangkan. Itulah jawabannya.


"Bagaimana?"


"Luar biasa. Ini menyenangkan."


"Seru?"


"Mmm-hmm, lebih dari itu. Menguji adrenalin."


Daddy tersenyum, senang karena mendengar kegembiraan dalam suaraku. Lalu ia menarik tali kekang di bawah pohon yang mengarah ke arah padang rumput luas yang dibatasi pohon-pohon tinggi. Bunga-bunga liar tampak bergerombol, memberikan warna-warni cerah di rerumputan yang hijau.


"Bagaimana? Kamu suka?"

__ADS_1


"Ya, pemandangannya sangat indah."


"Em, tak akan seindah ini -- bila tak ada kamu bersamaku."


"Hmm... aku baru tahu, lo, kalau Daddy segombal ini. Asli."


Dia tidak menyahut ledekanku, hanya tertawa kecil dan mengeratkan pelukan. "Aku mencintaimu," ucapnya, meniupkan kata itu di telinga.


Praktis, jantungku jumpalitan di dalam dada. Oh, ya ampun, Daddy... jangan bersikap super romantis seperti ini. Please... peluk aku yang erat, kalau tidak aku bisa merosot dan terjatuh dari kuda ini.


Tetapi ia justru melepaskan pelukannya dan turun dari kuda. "Ayo," katanya, bersiap dan membantuku turun, lalu ia mengikat kudanya ke batang pohon.


"Emm... kenapa... mengajakku turun? Kita... mau apa?"


Aku kembali waswas, sementara Daddy menatapku, ia bergerak maju dengan perlahan: memberiku banyak waktu untuk mundur. Tetapi aku tidak mundur. Hanya berdiri di sana, dengan mata semakin melebar ketika ia mendekat. Dan aku, menelan ludah ketika Daddy menyelipkan sebelah lengan di pinggangku. Dia menunduk menatapku, seakan menunggu untuk memastikan apakah aku akan bersandar padanya atau menamparnya karena sikapnya yang... kau tahulah maksudku.


Tapi aku tidak melakukan kedua hal itu, hanya tetap mendongak menatapnya, dan merasakan pandanganku yang semakin gelap. Aku terpejam ketika ia membisikkan namaku, lalu, tanpa bisa menahan perasaan yang membesar di dalam dirinya, ia menunduk dan menciumku.


Sambil berjinjit, aku mend*sah dan menekankan tubuhku kepadanya, rasa mendamba perlahan merasuki jiwa bersamaan dengan lengannya yang lain menyelip melingkari tubuhku dan menarikku lebih keras dan erat.


Aku sesak napas. Di antara debaran jantungku dan desakan ciumannya, aku tidak bisa bernapas, tidak bisa berpikir, tidak mau berpikir. Ia menciumku dengan intensitas yang membuat otakku kosong dan rasa panas meledak di perutku, menyebar ke setiap saraf dan sel dalam tubuh sampai aku yakin aku akan meleleh seperti es krim yang terlalu lama berada di bawah sinar matahari.


Merasa pusing, aku mendongak menatap Daddy ketika ia melepaskanku. Saat itulah aku baru menyadari beberapa pekerja kebun tersenyum-senyum menatap kami.


"Rileks," bisik Daddy. "Yang mereka tahu kita adalah sepasang suami istri."


Aku mengulum bibir. "Untung saja," gumamku. Lalu aku tersenyum kepadanya, berpikir betapa aku suka bersama dengannya, aku menyukai ketika ia memeluk dan menciumku, juga bagaimana perasaan yang ditimbulkannya terhadap diriku. Gemetar, tapi nikmat. Semanis kepingan cokelat.


"Tahu tidak, Daddy ingin mengatakan sesuatu. Tapi karena terhipnotis olehmu, jadinya lupa."


Aku mendelik, dan refleks mencubit lengannya. "Enak saja! Daddy yang menghipnotisku, tahu!"


Dia kembali tertawa senang dan menarikku ke dalam pelukan. "Kalau begitu, kita sama-sama terhipnotis satu sama lain," katanya seraya menatap dalam kedua mataku. "Aku sangat mencintaimu, Kejora."


Aku tersenyum malu. "Daddy mau bilang apa tadi?" tanyaku mengalihkan pembicaraan.


"Emm... begini, Daddy... Daddy sangat mencintaimu. Dan ini tulus untuk Kejora yang sekarang ada di depan mata ini. Jangan merasa Daddy mencintaimu karena bayang-bayang masa lalu. Tidak. Sama sekali bukan seperti itu. Dan..., " -- ia menghela napas dalam-dalam -- "Daddy ingin kamu menerima perasaan Daddy dengan tulus. Dengan hati. Bukan karena terpaksa, apalagi untuk balas budi. No. Dan kalau boleh jujur, Daddy merasa kalau kamu memiliki perasaan yang sama dengan yang Daddy rasakan. Tapi...," -- dia melepaskan diri dariku -- "seandainya Daddy salah, tolong, jangan paksakan hatimu. Daddy tidak apa-apa kalau...."


Cup! Kukecup bibirnya singkat dan kugenggam tangannya dengan erat. "Aku sama sekali tidak terpaksa. Mungkin aku belum mengerti sepenuhnya tentang perasaanku. Tapi jujur, kuakui aku nyaman. Aku bahagia dengan... hubungan kita, asmara di antara kita. Aku bahagia. Dan kalau ini yang dinamakan dengan cinta, maka... aku... aku juga mencintaimu." Kutundukkan pandanganku sejenak lalu kembali menatap mata hitamnya yang berbinar. "Aku mencintaimu, Gibran Aditama."


Dan... cling! Tatapan kami bertemu, kami berpandangan, lalu, dengan amat perlahan Daddy mencondongkan tubuhnya ke arahku, sebelah tangannya menyelinap lagi ke sekeliling pinggangku, menarikku ke arahnya, sementara tangan satunya menangkup bagian belakang kepalaku. Kurasa, jantungku berhenti berdetak ketika bibir Daddy menempel lagi, menciumku lagi dengan mesra. Sehangat dan sedalam itu.


Ya Tuhan... betapa aku meleleh dalam dekapannya yang hangat. "Aku terhipnotis," celetukku, sesaat setelah bibirnya melepaskanku.


"Dan sayangnya kita harus mengakhiri kemesraan ini. Akan ada lebih banyak pasang mata yang menatap iri kalau kita terus semesra ini. Ayo," kata Daddy. Dia kembali memeluk pinggangku dan membantuku naik ke kuda. "Mau keliling beberapa putaran lagi?"


Tentu, aku mengangguk. Ini pengalaman yang sungguh menyenangkan. Adrenalinku tertantang. "Bisa kita melakukan ini lebih cepat, Daddy?"

__ADS_1


Secepat yang kuinginkan.


__ADS_2