
Memalukan, plus menyebalkan!
Tempat tidurku jadi basah gara-gara aku tidak sengaja kelepasan pipis di situ. Bisa-bisanya sih, mimpi aneh begitu? Tak pelak, aku menghardik diriku sendiri. Benar-benar memalukan!
Dan karena mimpi itu aku terbangun dengan perasaan bersalah. Rasanya begitu jelas dan kelihatan begitu nyata sampai-sampai aku tidak akan terkejut seandainya saat aku membuka mata aku mendapati Daddy berbaring di sampingku dengan ekspresinya yang terlihat puas dan senang dengan dirinya sendiri.
"Luruskan pikiranmu, Kejora. Daddy bukan lelaki seperti itu. Dia tidak akan berbuat macam-macam seperti dalam mimpimu yang gila itu. Dia tidak akan bertindak sejauh itu sebelum menikah. Dasar... otak konslet!"
Kuhela napas dalam-dalam kemudian turun dari tempat tidur, cepat-cepat mandi, mencuci pakaian plus sepraiku yang bau, lalu segera menjemurnya. Setelah itu aku cepat-cepat berpakaian dan segera ke dapur untuk membuat sarapan. Aku sedang membuat roti panggang ketika Daddy masuk ke dapur.
"Baunya enak," komentarnya sambil menghampiriku dari belakang.
Getaran menjalari tulang punggungku karena kedekatan Daddy. "Mungkin wangi menteganya," sahutku.
"Bukan menteganya, Sayang," katanya. "Tapi kamu."
Aku meng*rang lirih ketika Daddy menciumi bagian belakang leherku. Dan ia memelukku dari belakang, kedua lengan kokohnya melingkar sempurna di tubuhku. Pagi ini, Daddy seakan resmi memperlakukan aku sebagai kekasihnya, bukan lagi sebagai seorang anak.
Ya Tuhan, apa memang begini model percintaan orang dewasa? Aku bertanya pada diri sendiri. Padahal semalam aku tidak mengatakan apa-apa. Daddy hanya memelukku dan mencium keningku setelah dia mengutarakan niatnya untuk menungguku dan menikahiku tahun depan. Dan seandainya Oom Hendri tidak mengecek ke dalam lalu berdeham saat melihat kami, mungkin Daddy akan memelukku sepanjang malam. Dan, bahkan setelah Oom Hendri keluar dari pondok, Daddy hanya menyuruhku berbaring dan menyelimutiku, lalu mencium keningku lagi, mengucapkan selamat tidur, mimpi yang indah, dan juga kata sayangnya, setelah itu dia keluar dari kamarku. See, aku tidak mengatakan apa-apa. Tapi, Daddy bisa menganggap semuanya sudah "iya" dan sekarang aku seolah sudah resmi menjadi kekasihnya.
"Melamun?" tanyanya pelan di telinga.
Aku menggeleng. "Hanya belum terbiasa dengan situasi baru."
"Yeah, memang, ini seperti mimpi. Dan... Daddy sangat bahagia. Bagaimana denganmu?"
Aku gemetaran, Daddy, seandainya kau tahu. Tidak, kurasa dia memang tahu, dia terus tersenyum meski aku tidak melihat jelas ke wajahnya. "Aku... aku juga bahagia. Daddy tahu itu tanpa perlu bertanya."
"Jadi," katanya, "apa yang akan kamu lakukan setelah sarapan?"
Aku menelan ludah dengan susah payah. "Apa yang Daddy rencanakan hari ini?"
"Berkuda," sahutnya. "Mau ikut berkuda bersamaku?"
Ya Tuhan, kuda apa ini? Pikiranku salah arah!
"Mau, kan? Daddy tidak mungkin meninggalkanmu sendiri."
"Aku tidak tahu cara menunggang kuda. Lagipula aku takut--"
"Jangan khawatir, Sayang," potongnya. "Daddy bisa mengajarimu."
Mengajari, kata itu mengirim getaran lain menjalari tulang punggungku, membuatku bertanya-tanya apakah kami benar-benar sedang membahas "menunggang kuda sungguhan"?
__ADS_1
Ih, pikiranku benar-benar sudah konslet.
"Omong-omong, bisa kita sarapan sekarang? Atau Daddy tidak boleh mencicipi roti panggang buatanmu?"
Aku menggeleng gelisah. "Aku membuatnya untuk kita berdua," kataku.
Lagi, Daddy bicara begitu pelan di telingaku, "Rileks, Kejora."
Bagaimana aku bisa rileks kalau Daddy bersikap seperti ini? Memercikkan api cinta?
Hmm... tidak perlu dilakukan pun aku sudah memiliki kobarannya yang menyala-nyala. Api cintaku sudah membakarku hingga rasanya sudah terlalu panas.
Kuhela napas dalam-dalam, lalu menegur diriku sendiri supaya tenang. Ini hanya masalah waktu dan aku akan terbiasa.
Tapi gagal!
"Hei," katanya, lalu ia memutar tubuhku. "Look at me, please?"
Ya ampun, andai ia bisa mendengarnya, suara detak jantungku berdentum-dentum menggedor-gedor rongga dada. Lalu, Daddy menangkup wajahku dengan kedua telapak tangannya yang hangat. Dan aku rasanya ingin pingsan di sana ketika menangkap tatapan matanya yang dipenuhi binar-binar cinta.
"Aku mencintaimu, Kejora Aditama."
Huuuft... kakiku rasanya tak menapak lagi, aku merasa terbang mendengar mantra cinta yang diucapkan Daddy sambil menatap lurus kedua mataku.
"Oke, sini." Dia mengambil sepiring roti panggang dengan tangan kirinya, sedangkan tangan kanannya menggenggam tanganku dan menarikku dengan lembut ke meja makan. "Ayo, duduk."
Aku mengangguk, tapi masih mematung di kursiku. Rasanya sulit berhadapan dengan Daddy pagi ini. Setiap kali aku memandangnya, aku teringat apa yang terjadi di beranda di dalam mimpiku yang membuatku terbangun dalam keadaan hangat dan berkeringat. Aku tidak bisa berhenti terbayang-bayang adegan percintaan yang begitu panas sampai aku kelepasan pipis di tempat tidur.
"Kejora," panggilnya.
"Emm?"
"Jangan suka melamun."
"Iya, Daddy."
"Bisa tolong tuangkan tehnya?"
Bodoh! Harusnya itu yang kulakukan sedari tadi. Kuambil mug porselen dan menuangkan teh untuk kami masing-masing. Kutaruh satu di depan Daddy dan satu kugenggam erat-erat, merasakan kehangatannya yang menjalar ke telapak tanganku.
"Roti panggang isi keju?"
"Iya," sahutku kalem.
__ADS_1
"Apa kita punya mayo?"
"Ada, sebentar. Biar kuambilkan."
Aku berdiri, membuka lemari dapur dan mengambil mayo dari dalam sana lalu menuangkannya ke atas roti.
Oh, ya ampun... melihat lelehan mayo itu lagi-lagi mengingatkan aku pada mimpi sialan itu.
"Kenapa?" tanya Daddy, dia menggenggam tanganku yang gemetar akibat menuangkan lelehan putih itu. "Kamu sakit?"
Aku menatapnya, bertanya-tanya apa yang terbaik untuk kukatakan. "Tidak apa-apa, Daddy. Aku tidak sakit. Emm... mungkin seperti yang kukatakan tadi. Aku... canggung dengan situasi di antara kita."
"It's ok. Sini, duduk." Dia menarikku ke pangkuannya, membuat otakku semakin konslet karena dengan sendirinya otakku tersambung dengan adegan di dalam mimpi: duduk di pangkuannya.
Bagaimana kalau setelah ini Daddy membaringkanku ke lantai? Ya ampun, Kejora. Daddy tidak akan seperti itu.
Aku bisa mengatakan itu pada diri sendiri, tapi itu tak berarti apa-apa: nyatanya aku semakin gelisah. Aku takut kalau mimpi itu menjadi kenyataan. Aku tidak ingin membiarkan diriku menjadi perusak moral bagi dirinya yang kukagumi -- dirinya yang bagaikan malaikat di mataku.
"Daddy," kataku, aku ingin berdiri, tapi tak bisa. Ia menahanku untuk tetap di pangkuannya.
Kemudian, dengan santai ia meraih sepotong roti di atas meja dan menyorongkannya di depan mulutku. "Makan," pintanya.
Aku menurut. Kubuka mulutku dan menggigit ujung roti itu lalu mengunyahnya dengan pelan. Begitu pula dengan Daddy yang menggigit ujung roti di tempat yang sama denganku.
"Enak. Koki yang hebat," komentarnya setelah kami melahap habis roti panggang buatanku.
Aku tersenyum. "Terima kasih," ucapku. "Sesuai selera Daddy, kan? Aku belajar banyak dari Oma."
Dia mengangguk dan balas tersenyum. "Oma mempersiapkanmu dengan baik."
"Emm? Maksudnya?"
Daddy berdeham. "Kita akan pergi kira-kira jam tujuh. Daddy mau mandi dan bersiap-siap."
Akhirnya, dia melepaskan lingkaran tangannya dari tubuhku dan aku bisa segera berdiri.
"Kita akan berkuda. Jadi, ikat rambutmu dengan rapi, ya."
Aku mengangguk dan balas menatap Daddy yang kini berdiri tepat di hadapanku -- dengan rasa panas yang menjalar di dalam jiwaku. Apakah Daddy merasakannya? Bagaimana mungkin tidak? Aku segera berpaling sebelum Daddy melihat pengaruh tatapannya terhadapku. "Aku akan bersiap-siap sebentar lagi," kataku. "Sebaiknya Daddy mandi sekarang, ya." Oh, Dad, tolong pergi sebentar dari hadapanku.
Dia pun tersenyum. "Masih nervous, ya?"
Eh?
__ADS_1
Ya iyalah, Daddy....