Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Gadis Tangguh


__ADS_3

Meski tidak mengatakan apa pun, aku yakin bahwa aku dan Daddy sama-sama tahu kalau masing-masing dari kami berusaha menghindari kemesraan saat kami hanya berdua di dalam pondok. Kami berusaha menahan diri masing-masing meski tidak ada perjanjian ataupun kesepakatan di antara kami. Aku tahu Daddy melakukan hal itu, dan kurasa Daddy pun tahu kalau aku melakukan hal yang sama.


Termasuk pada jam makan malam, setelah mengambilkan sepiring makan malam untuk Daddy, aku duduk agak berjauhan dengannya, dan ia pun sama sekali tidak mempermasalahkan soal itu. Pada jam makan malam itu kami hanya membahas dua hal, pertama kegiatan kami esok hari. Daddy mengajakku bersepeda. Aku tahu itu salah satu hobinya, dan aku mengiyakan. Dia memberitahuku di mana dan bagaimana rute yang akan kami tempuh. Lalu, yang kedua, tentang telepon masuk tadi sore sebelum kami berkuda. Kata Daddy, itu telepon dari teman kuliahnya dulu. Pak Alpian. Beliau yang baru melepas status lajangnya itu akan menggelar resepsi pernikahannya yang akan diselenggarakan pada keesokan malam. Dia tahu dari Oom Hendri kalau Daddy berada di Malang, jadi ia meneleponnya dan bermaksud mengundang Daddy ke acara resepsi pernikahannya.


"Kamu mau ikut, kan? Daddy tidak enak kalau tidak datang."


Aku tidak langsung menjawab. Sesungguhnya aku tidak ingin mengiyakan, sebab di sana nanti pasti ada banyak teman-teman Daddy: kaum dewasa, bapak-bapak dan ibu-ibu yang berusia hampir kepala empat. Tapi aku tidak enak untuk menolak.

__ADS_1


Lalu, karena aku tidak kunjung memberikan jawaban, Daddy mengulurkan tangannya, ia meraih dan menggenggam tanganku dengan erat. "Aku mau kamu ikut. Aku takut kalau meninggalkanmu sendirian. Please, ya?"


Yeah, aku tidak mau Daddy merasa tidak enak pada temannya, dan aku juga tidak mau melihat ketakutan di mata Daddy. Tanpa ia mengatakannya, aku tahu kalau ia punya penyesalan mendalam karena dulu pernah membiarkan ibuku sendirian di tempat kost-nya hingga terjadi hal buruk yang tak akan pernah bisa ia lupakan itu. Aku bahkan jadi mengerti kenapa ia begitu ketat menjagaku selama ini, pulang dan pergi sekolah aku selalu diantar dan dijemput oleh Pak Ujang. Tidak pernah diizinkan pergi sendiri ke mana pun, dengan teman sekalipun, walau sekali pun. Aku hanya boleh pergi-pergi dengan Oma. Dan kalaupun ada kerja kelompok atau belajar bersama, dan mengharuskan aku ke rumah teman, Pak Ujang akan menungguiku, tak peduli sekalipun ia akan mati kebosanan di dalam mobil atau nongkrong di warung di dekat rumah temanku sampai b*kongnya kepanasan, dia akan menungguiku dan mengawasiku dengan super ketat.


Dulu aku pernah membangkang sekali, aku pernah kabur, ikut teman-temanku pergi ke mall dan pulang malam. Oma dan Daddy sampai marah besar pada Pak Ujang. Bukan sekadar kena omel, Pak Ujang benar-benar menerima amarah Daddy dan murkanya Oma. Padahal waktu itu anaknya Pak Ujang sedang sakit, dan ia mesti pergi ke rumah sakit menggantikan orang tuanya menjaga sang anak yang tengah dirawat. Tapi gara-gara aku, Pak Ujang sampai harus molor pergi ke rumah sakit. Aku yang waktu itu baru pulang dan melihat Pak Ujang dengan mata berkaca-kaca, merasa ditampar dan dicubit-cubit oleh rasa bersalah. Kalau kupikir-pikir sekarang, betapa bodohnya prilakuku yang dulu, atau lebih tepatnya: betapa tidak bersyukurnya aku pada kasih sayang Daddy dan Oma yang menjagaku sampai sebegitu ekstra. Padahal, siapa sih aku? Hanya anak dari seorang perempuan sebatang kara, yang dibuang keluarganya, terus hamil dari seorang penjahat -- yang tidak tahu pula benih siapa yang tertanam dari ketiga pelaku tak bermoral itu. Dan untungnya aku tidak terlambat membuka mataku. Sejak hari itu aku tak pernah lagi coba-coba mengecewakan Oma dan Daddy. Selalu kupatuhi apa pun perkataan mereka dan aku tidak pernah berkeras berkata tidak pada mereka.


"Baiklah," kataku. "Aku akan ikut."

__ADS_1


"Tapi aku tidak membawa gaun. Terus mekapku?"


"Emm...," Daddy nampak berpikir, "Mom Rani juga akan datang. Nanti Daddy minta dia menemanimu belanja dulu paginya. Siangnya istirahat, dan malamnya kita menghadiri pesta itu. Oke?"


Aku mengangguk, dan aku mulai berpikir untuk mempersiapkan diri -- juga mentalku, untuk berhadapan dengan tamu-tamu lain yang akan mempertanyakan siapa aku -- lebih tepatnya aku ini siapanya Daddy? Terlebih, dari sekian banyak tamu undangan itu, pasti akan ada tamu yang mengenali wajahku -- wajah Kejora, kekasih Gibran Aditama yang sudah meninggal tujuh belas tahun yang lalu. Atau mereka yang tidak tahu kalau ibuku sudah meninggal, mereka akan bertanya-tanya, kok bisa Kejora awet mudah sekali? Atau mungkin ada yang berpikir kalau Daddy dan Kejora sudah menikah dan melahirkan seorang anak yang wajahnya sangat mirip dengan sang ibu. Dan yang lebih mengerikan, mereka yang tidak tahu apa-apa, mungkin akan mengira -- plus menilai: bahwa aku adalah sosok wanita muda penggoda om-om kesepian.


Ya Tuhan... aku tidak bisa berhenti memikirkan hal itu. Aku tidak yakin teman-teman Daddy tahu tentang kehidupan Daddy selama tujuh belas tahun ini, apalagi tentang aku sang anak asuh. Buktinya, sewaktu Oom Hendri pertama kali melihatku, dia terkejut setengah mati, seakan-akan ia melihat Kejora yang dulu kini hidup kembali.

__ADS_1


Dan malam itu, aku berusaha rileks di depan Daddy, seolah aku tidak memikirkan tentang acara pesta itu. Tapi setelah aku menyendiri di dalam kamar, hal ini membuatku jadi susah tidur. Walau bagaimanapun juga, aku ini hanyalah gadis remaja berusia tujuh belas tahun yang belum banyak makan asam garam, dan pahit getirnya kehidupan. Aku jadi takut menjadi bahan tontonan dan bahan omongan orang-orang di pesta itu. Aku mesti bagaimana?


Jawabannya ada pada diriku sendiri. Kuhela napas dalam-dalam dan berkata, "Apa pun yang terjadi nanti, apa pun penilaian orang lain, terserah. Hadapi dunia tanpa gentar. Ini era di mana perempuan harus tangguh. Air mata boleh saja mengalir, hati boleh merasa sakit, nasib pun boleh terasa buruk, tapi kau tak boleh sampai terpuruk. Semuanya akan baik-baik saja. Aamiin."


__ADS_2