Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Hot Daddy


__ADS_3

Tetapi aku tak sempat memikirkan apa pun. Gara-gara Daddy, siang itu aku sangat kelelahan, dan mau tak mau aku mesti menghabiskan sisa siangku dengan tidur yang nyenyak. Yeah, karena gairahnya yang katanya tak pernah padam itu, seperti biasa pagi-pagi buta dia sudah menerkamku.


Well, itu memang sudah menjadi jadwal rutinnya. Tetapi, pada saat aku mengajaknya membersihkan kamar utama di pagi menjelang siang itu, baru saja beres semuanya -- dan aku mengembuskan napas lega, tahu-tahu, Daddy sudah menyambarku lagi, persis di saat seprai merah terang di kamar berlatar serba putih itu baru saja terpasang, dalam sekejap ia terpaksa kembali kusut gara-gara ulah si Gibran Aditama yang super-super mesum. Aku sampai memekik kaget ketika dia menikungku dari belakang dan kami langsung terjerembab di atas tempat tidur. Aku sudah berada di bawah kungkungannya, tertelungkup dan terhimpit di bawah tubuhnya yang kekar.


"Aku sudah menahan diri sejak tadi," katanya, seperti biasa: ia bicara pelan di telingaku dengan kedua lengan berotot menahan tubuhku.


Ya Tuhan... aku menggeleng. "Belum jadwalnya, Daddy. Lagipula lengket, bau keringat."


Aku merinding. Dia menelusurkan bibirnya di bagian belakang leherku. "Kamu tahu, keringatmu justru membuat dirimu semakin terlihat seksi. Membuatku begitu bergairah."


Hmm... kombinasi aku, bra, hot pants, dan keringat: membuatnya bergairah? Waw! Amazing!


"Tapi ini masih siang."


Oh, pengait bra-ku terlepas. "Tapi gairah datang tak kenal waktu, Sayang."


"Ya, aku--"


"I... need... you... know. Know!


"Daddy...."


Dia memutar tubuhku. "Ucapkan penolakanmu sekali lagi, aku janji aku akan melepaskanmu."


Bagaimana bisa? Kalimat perintah itu merupakan "alarm peringatan" bahwa dia akan sangat kecewa kalau aku menolaknya.


"Baiklah, baiklah," kataku. Kucengkeram leher kausnya -- untuk meyakinkannya bahwa aku ikhlas melayaninya. "Jangan tanggung-tanggung, ya. Ambil suplemenmu."

__ADS_1


Dia nyengir. "Sudah, sewaktu kamu ke toilet tadi."


Astaga... kutepuk jidatku karena keheranan. Untung saja aku tak berkeras menolaknya. "Daddy sudah merencanakan ini? Hmm?"


Tak ada sahutan, hanya ada senyuman edan dan dia membuka kausnya, lalu turun, ia membuat dirinya -- juga aku -- polos tanpa apa pun.


"Oh My God, Daddy! Uh, Oh, ya ampun! Eummmmm...!"


Dengan menahan kedua pahaku yang tertekuk, dia membenamkan bibirnya di sana. Amazing! Dia tak pernah menyesapku sekuat ini. Kurasa, suplemen itu membuatnya gila. Dia benar-benar terbakar oleh hasrat.


"Help me!"


Dia mengulurkan tangan, dengan refleks aku menyambutnya dan dia menarikku duduk.


"Please?"


Oke, senyum, Kejora... senyuuuuum....


Kuturuti, kupenuhi keinginannya. Bahkan, rasa-rasanya ingin kugigit ia saking gemasnya karena ia tidak mengenal waktu.


Dan, o-ouw... betapa dia menikmati sentuhanku, sampai-sampai dia tak mampu menahan *rangannya. Gemas, kubalas ia dengan *engisapnya kuat-kuat seperti yang ia lakukan padaku tadi.


Haha! Daddy tak tahan. Kepalanya mendongak dan tangannya mencengkeram rambutku kuat-kuat.


"Ssssh... thanks, Kejora. Kamu yang terbaik."


"Sudah?"

__ADS_1


"Em, aku mau masuk."


Daddy berlutut, mencumbu dadaku dan perlahan membaringkanku di tepi ranjang. Yang kuingat, satu kakinya menapak di lantai, dan satunya tertekuk dan bertopang di atas tempat tidur. Sedangkan kakiku, satunya tersilang di bawah pahanya, terayun di tepi ranjang, dan satunya nyaman di atas pahanya. Dengan wajah terbenam di lekuk leherku, Daddy bergerak lambat, tapi menekan dalam-dalam. Gemetar aku merasakan tekanannya yang sepenuh perasaan. Ia belum ingin mengeluarkan tenaga ekstranya. Namun, sebagai imbasnya, leherku jadi merah dan dihiasi jejak-jejak kebuasannya yang meninggalkan bekam.


"I love you. Aku bahagia berada di kamar ini bersamamu. Aku mencintaimu, Kejora."


Aku. Tidak. Tahu. Apa maksud Daddy yang sebenarnya? Dia bermaksud bersyukur karena akhirnya kami bercinta di sini atau bermaksud "tak perlu ada momen spesial untuk mengawali percintaan kami di kamar ini," begitu?


Entahlah. Tapi aku tak bisa mengatakan apa-apa sampai Daddy melepaskan diri dariku kemudian ia berdiri. "Turun, please?"


Aku mendongak, menatapnya dengan bingung. "Turun? Bercinta di lantai?"


"Telungkup di sini, di tepi," sahutnya seraya berjongkok di lantai.


Aku menurut, bertelungkup di tepi tempat tidur dengan lutut bertopang di lantai, dan dengan memeluk sebuah bantal yang membuat nyaman bagian dadaku. Lalu...


Uh, dia kembali masuk, dan Daddy mulai mengeluarkan tenaga ekstranya. "Ya Tuhan, Daddy...!"


"Lepaskan saja, Kejora. Kamar ini kedap suara. Please... *engeranglah sesukamu."


Uuuuuh... dahsyat! Benar-benar kamar yang didesain khusus untuk pasangan pengantin baru. Aku pun ikut menggila bersama Daddy.


"Mau coba gaya lain, Sayang?"


Eh?


Haha! Pantas saja dia diam-diam minum suplemen, mau coba berbagai variasi gaya bercinta rupanya. Dasar Hot Daddy.

__ADS_1


Ukh!


__ADS_2