
"Oma pasti sewot kalau tahu meja makannya kita jadikan tempat bercinta seperti ini," kataku dengan napas yang masih tersengal.
Yap, babak bercinta kami yang pertama baru saja usai. Daddy masih tertelungkup di atas tubuhku, dengan keringat yang membuat kulitnya licin dan mengilap. Aroma tubuhnya membuatku rela kalau dia berlama-lama berada di atasku. Nikmat dan menggairahkan. Bahkan, irama detak jantungnya seakan bersahut-sahutan denganku. Cocok!
"Jangan sampai dia tahu," kata Daddy. "Kalau tidak, setiap kali dia makan dia akan terbayang-bayang masa mudanya dulu. Kan gawat kalau dia mau kawin lagi." Daddy tertawa ngakak hingga suaranya mendengung di telingaku.
Dasar... aku menggeleng-gelengkan kepala mendengar ia segesrek itu terhadap ibunya. "Bercandanya jangan seperti itu. Nanti kualat, lo...."
"Tidak akan. Kan Kanjeng Ratuku itu ibu yang paling maklum sedunia, ya kan? Santai saja, Sayang. Lebih baik sekarang kita makan dulu. Nanti baru kita lanjutkan lagi bercinta di babak kedua."
Uuuh... napasnya saja baru agak stabil, eh, sudah bahas-bahas babak kedua. Keperkasaannya sungguh tak perlu diragukan lagi.
Dan sekarang, pakaianku sudah berganti jubah mandi, aku baru saja membersihkan diri di kamar mandi, sementara Daddy sudah mengenakan kembali celana panjang bututnya ketika aku kembali ke ruang makan.
"Sini, Sayang," pintanya. Dia memintaku untuk duduk di pangkuannya, seperti tahun lalu sewaktu kami di Malang, namun sekarang aku sudah rileks duduk di pangkuannya, sudah tidak nervous lagi seperti dulu.
Oh, nyaman sekali rasanya dipeluk lengan kokoh Daddy yang melingkar sempurna di pinggangku. Aku ini masih belia, tapi dengan keseimbangan sikap Daddy -- bahkan sikapnya yang sering kali lebih puber dariku -- rasa-rasanya kami ini seumuran.
__ADS_1
Yeah. Aku tidak pernah merasa kalau aku sedang bermesraan dengan lelaki tua seperti kata-kata yang kudengar di dalam mimpiku. Daddy malah hot sekali.
Gairahnya wow! Bahkan, tanpa suplemen dia bisa bertahan lama pada babak kedua momen bercinta kami -- yang pasti akan ia tagih sebentar lagi, setelah kami sarapan. Ups!
Yap, sandwich buatan Daddy sangat sempurna untuk mengisi perut setelah tenaga kami sedikit terkuras. Dia juga menyiapkan cokelat panas yang sekarang sudah tidak panas lagi. Cokelat panas kesukaanku.
"Enak?" tanyanya.
"Em, luar biasa."
"Seenak bercinta?"
"Mmm-hmm... jadi... katakan, Kejora, kamu mau lagi?"
Lagi? Hahaha! Dia membuatku terbahak-bahak. "Mau, tapi nanti setelah sarapan kita habis, oke? Aku sangat lapar."
"Oke, deh. Apa pun untukmu."
__ADS_1
Yummy...! Itu benar-benar sandwich terlezat yang pernah kumakan. Daddy membuatnya dengan cinta dan kasih sayang yang amat sangat tulus untukku. Kami makan dengan lahap dan tak menyisakan satu sandwich pun di atas piring.
"Nah, kita masih punya daging panggang. Mari kita habiskan."
Daddy menjulurkan tangan, mengambil irisan tipis daging panggang berminyak itu tanpa garpu dan menjuntaikannya di depan mulutku. Aku mesti sedikit memutar ke samping untuk menyambut suapannya.
Delicious!
Kugigit daging itu setengah bagian dan sisanya ia masukkan sendiri ke mulutnya.
"Katakan, bagaimana rasanya, Sayang?"
Aku mengacungkan jempol. "Enak. Rasanya pas, gurih, kenyal, dan lezat," aku memujinya, meski menurutku Daddy terlalu banyak menuangkan minyak ke dalam piring itu.
"Lagi, ya." Dia mengambil lagi selembar daging dan menyuapiku seperti tadi, dan memakan sisa gigitanku. "Bagaimana? Hmm?"
Aku baru saja hendak menyahut ketika kusadari tangan Daddy yang berminyak itu menyelinap ke balik jubahku.
__ADS_1
Ya Tuhan...! Ya Tuhan, ukh!