
Siang harinya, seperti permintaan Daddy, aku melakukan yang terbaik ketika beberapa petugas polisi datang untuk mengajukan sejumlah pertanyaan tentang tragedi "percobaan pemerkosaan dan pembunuhan" itu. Aku mengatakan yang sejujurnya apa yang terjadi kemarin, juga tentang semua yang dilakukan oleh Riko untuk menerorku selama ini, tak terkecuali tentang kecurigaanku pada Arini yang terkesan sengaja menjebakku. Tapi aku tak mengatakan kecurigaanku, aku hanya mengatakan bagaimana kronologi aku dan gadis itu bisa sampai ke toilet sekolah dan akhirnya Riko punya kesempatan untuk berbuat mesum kepadaku. Begitu yakin jawabanku tak akan berubah lagi, mereka memutuskan untuk pergi.
"Apabila ada hal lain yang Anda ingat, hubungi kami," salah seorang petugas polisi itu berkata.
Aku mengangguk kepadanya. "Baiklah," aku berjanji.
Petugas yang berkata demikian itu menjabat tanganku sebelum mereka meninggalkan ruangan. Tak lama kemudian, sekantung besar keripik dan belanjaan dari supermarket dijejalkan melewati pintu oleh Dinda dan Tiara. Daddy berada tepat di belakangnya dengan segenggam bunga.
"Hai, Sobat! Bagaimana keadaanmu?"
"Lumayan. Rasanya sudah lebih baik."
"Maaf, ya, aku baru bisa ke sini."
Aku mengangguk kepada Dinda. "Tidak apa-apa, gue... maksudku aku mengerti."
"Bagaimana tadi tanya jawabnya?" Daddy menoleh sekilas, lalu menyibukkan diri menaruh bunga di sampingku lalu menata apa yang dibawakan Dinda dan Tiara untukku ke dalam lemari.
Aku mengedikkan bahu. "Cukup melelahkan. Setelah psikiater, langsung polisi. Aku butuh rebahan kalau kalian tidak keberatan."
__ADS_1
"Silakan," kata mereka kompak.
"Pingin deh, makan makanan dari luar."
"Pingin apa?" tanya Daddy.
"Daging panggang," sahutku seraya mengerling nakal.
"Baiklah, Kekasih. Apa pun untukmu." Daddy tersenyum mesra, sementara Dinda dan Tiara menjerit histeris.
Dua sahabatku itu mulai gesrek lagi.
Aaaaah... mulai deh... pada kumat.
Daddy hanya menanggapi mereka dengan senyuman, lalu meminta Dinda dan Tiara untuk menemaniku sementara ia pergi. "Aku ada urusan sebentar," katanya. Dia sengaja mencium keningku dengan mesra di depan teman-temanku dan membuat mereka kelojotan, ngebet kepingin kawin.
Rupa-rupanya saat itu Daddy menemui Pak Fikri. Daging panggangnya hanya ia pesan lewat online. Delivery order. Sayangnya, kami makan siang bersama berempat, jadi tak ada momen daging panggang spesial untuk Daddy menerapi traumaku.
"Daddy ngapain ketemu... Pak Fikri?" tanyaku.
__ADS_1
Hari sudah sore, Dinda dan Tiara sudah pulang. Daddy selonjoran di sofa, nampak lelah, bukan fisik, tapi pikirannya. "Tidak ada. Cuma mau melihat keadaannya saja," kata Daddy.
"Terus?"
"Tidak ada. Hanya itu."
"Tapi mata Daddy tidak bilang begitu. Aku tahu ada yang Daddy tutupi dariku, ya kan?"
Daddy menarik napas kalah. Dia tidak bisa menutupi apa yang ia sembunyikan dariku. Akhirnya dia duduk di sampingku. Dia mengangguk-angguk gelisah sebelum bicara. "Emm... aku cuma tanya-tanya tentang ceritamu selama tujuh tahun itu, kenapa dia melakukan itu. Jawabannya seperti yang kupikirkan, untuk menebus dosa masa lalu katanya. Supaya dia tidak terus-menerus dihantui oleh rasa bersalah. Dia hanya ingin selalu menjagamu. Itu saja."
"Apa dia merasa kalau dia ayah kandungku? Maksudku... ayah biologisku?"
Daddy mengedikkan bahu. "Bisa jadi."
"Kok begitu? Maksud Daddy bagaimana?"
"Yah, sebenarnya aku sempat menanyakan soal itu."
"Lalu? Sori, maksudku... apa yang Pak Fikri katakan?"
__ADS_1