Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Kekasih Sejati


__ADS_3

"Kemungkinan kecil itu ada, Daddy," isakku. "Aku kotor. Ada kemungkinan dia sempat masuk. Bahkan... aku... aku mau jujur. Aku... aku kotor. Riko... dia... dia mencicip dadaku. Dia... dia... dia juga... memasukkan jarinya, Daddy. Aku kotor. Aku kotor... dia pasti sempat masuk. Kotor. Aku kotor...!"


Aku histeris hebat, tapi Daddy diam saja. Dia hanya berjongkok di depan kursi rodaku. Mendongak, menatapku dalam-dalam. Air mata kembali bersimbah di wajahnya.


"Apa pun yang terjadi padamu aku tidak akan merasa jijik sedikit pun," tegas Daddy setelah aku diam karena air matanya. "Aku tidak jijik, Kejora. Kamu mau aku membuktikannya?"


Ya Tuhan, Daddy membawaku ke kamar mandi. Dia menggendongku dan mendudukkan aku di samping wastafel.


"Dad? Mau apa?"


"Mau membuktikan padamu."


"Daddy...."


"Diamlah!"


"Tapi, Dad...."

__ADS_1


"Diam! Oke? Menurut padaku!"


Ceklek!


Setelah menutup pintu kamar mandi, ia melepaskan semua pakaiannya, juga pakaianku. Baju pasien itu ia lemparkan ke gantungan, sedang yang lain berserakan di lantai.


"Aku bukannya mau memaksamu, atau tidak pengertian dengan kondisimu, lukamu, psikismu, atau bahkan mentalmu. Bukan sama sekali. Aku hanya ingin menunjukkan bahwa aku tidak jijik. Kamu istriku, dan selamanya akan seperti itu. Kamu paham itu, Kejora? Paham, kan?"


Aku terdiam, masih terisak.


"Akan kubuktikan. Akan kubuktikan supaya kamu percaya."


Daddy berlutut, ia membuka interval kakiku, kemudian ia membenamkan wajah dan bibirnya padaku. Aku terharu. Sungguh terharu. Tanpa rasa jijik ia mencumbuku dengan ketulusannya.


Setelah ia kembali berdiri di hadapanku, ia menatapku dalam-dalam, masih menangis, dia menangkup wajahku dengan kedua tangan lalu mencium keningku. "Aku tidak jijik padamu, Kejora. Aku mencintaimu," bisiknya seraya memelukku dengan satu tangan, sementara tangan lain mengarahkan diri.


Aku merasakan, merasakan ia masuk. Penuh di dalam ruangku, membenamkan diri dengan sempurna, lalu ia bergerak perlahan. Bercinta -- bercinta tanpa menyakiti.

__ADS_1


"Aku mencintaimu, Kejora. Aku mencintaimu...."


Terima kasih, Daddy. Terima kasih, Gibran Aditama. Kau suami luar biasa. Aku sangat mencintaimu.


Aku terharu. Dia kekasih sejatiku. Teman hidup yang terbaik.


"Tidak ada yang sakit, kan? Aku tidak menyakitimu?"


Aku menggeleng. Tidak ada yang sakit karena sentuhan Daddy. Secara fisik, yang sakit hanya kaki dan kepalaku, dan tubuhku yang sedikit linu karena beberapa kali mengalami benturan. Tetapi, jauh di dalam jiwaku, hatiku perih. Begini rasanya bercinta dengan perasaan nano-nano. Ada rasa sakit yang manis, getir namun penuh rasa syukur. Aku beruntung dicintai oleh lelaki dewasa yang sangat penyayang, yang penuh cinta kasih seperti Gibran Aditama.


Kami berpelukan, yang rasa-rasanya itu pelukan yang paling hangat dan paling erat di antara kami.


"Jangan merasa kotor lagi. Kamu bisa suci bersamaku. Ya? Aku mencintaimu." Tatapannya sangat dalam, air mata bahkan tak bisa menyamarkan dalamnya rasa cinta yang tersirat di sana, di dalam matanya. Cinta yang hanya ia tujukan kepadaku.


Aku mengangguk, lalu memeluknya lagi. "Terima kasih, Daddy. Terima kasih."


"Em, tidak ada gunanya membahas hal ini terus. Lagipula hari sudah malam. Biar kubantu kamu membersihkan... maksudku, kubantu kamu mandi dulu."

__ADS_1


Aku menggeleng. "Daddy duluan saja, setelah itu baru bantu aku."


Agak ribet untuk membersihkan tubuhku, perban kakiku tak boleh basah, begitu pula tanganku yang dipasang infus, juga rambutku yang mesti dibenahi jepitannya. Luka di kepalaku juga diperban. Namun Daddy bisa melakukan segalanya dengan sabar.


__ADS_2