Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Bersamanya


__ADS_3

Ada empat orang penjaga yang Daddy sewa jasa dan tenaganya untuk beberapa hari ke depan. Dua orang untuk berjaga pada siang hari, dan dua orang untuk berjaga di malam hari. Sungguh aku tidak enak hati soal ini. Daddy jadi mesti mengeluarkan uang hanya demi memastikan lingkungan rumah kami aman dan nyaman untukku. Sewaktu aku mengutarakannya hanya untuk menyampaikan perasaan bersalahku, Daddy malah mencubit batang hidungku.


"Aku akan melakukan apa pun untukmu. kamu... kehidupanku. Aku tidak akan menemukan jiwaku lagi selain bersamamu. Dan aku tidak ingin kehilangan lagi. Kamu mengerti itu?"


Aku menatapnya penuh simpatik dari kursi meja riasku. "Kamu tidak akan kehilangan lagi. Yeah, terima kasih untuk semuanya."


"Tidak perlu berterimakasih. Sudah kewajibanku, karena aku suamimu."


Dan aku terkikik. Tiba-tiba merasa geli karena dulu kata suami itu selalu terucap sebagai ayah. Dulu sewaktu aku kecil, namun tidak terlalu kecil untuk mengerti kalau dia bukanlah ayah kandungku, jadi dulu aku seringkali bertanya, siapa ayah kandungku dan siapa ibu kandungku. Tapi Daddy tak pernah menjawab. Dia hanya mengatakan, "Aku ayahmu."


"Baiklah, Suami. Boleh istrimu ini meminta sesuatu? Katakan yes, please?"


Daddy yang semula bersandar di kepala ranjang, langsung berjalan menghampiriku, lalu ia membungkuk, menahan kedua tangan di tepian meja riasku. "Apa pun untukmu. Kau ingin bercinta lagi?"

__ADS_1


Iyuuuuuh...!


"Aku tahu gairahmu tak akan pernah padam. Tapi maaf, kamu sudah terlalu dahsyat memborbardir tubuhku di tepi kolam sore tadi. Dua kali malah. Jadi...," -- kukecup sudut bibirnya dengah manis -- "tubuhku perlu istirahat beberapa jam. Oke?"


Huuuuuh... Daddy mengembuskan napasnya ke wajahku. "Jadi... apa?"


Aku menyentuh punggung tangannya, dan berkata, "Kamar utama. Bisa tidak kita tidur di sana? Aku istrimu, kan?"


"Yeah, dari dulu aku ingin... maksudku kalau aku sudah menikah."


"Tapi kamu menikah denganku. Seseorang yang pernah tidur di kamar itu dengan...."


"Hanya masa lalu. Aku tidak pernah mempermasalahkannya. Please... aku sangat menyukai kamar itu. Aku menginginkannya. Ya? Boleh, kan?"

__ADS_1


Daddy berdeham. "Baiklah," katanya. "Tapi tidak malam ini. Besok kita bersihkan dulu kamar itu. Oke? Sebaiknya sekarang kita istirahat."


"Yeah, baiklah. Terima kasih. Tapi omong-omong, besok Daddy akan membantuku membersihkan kamar itu, kan? Please?"


Dia mengangguk, bahkan aku tak sabar supaya hari cepat-cepat siang dan aku ingin membersihkan kamar itu. Itu merupakan kamar utama, kamar paling luas di rumah ini. Terletak di lantai dua dan posisinya paling depan. Luasnya dari sisi kanan hingga sisi kiri rumah. Semua sisi depannya berupa kaca tebal, apabila hordengnya dibuka kamar itu akan terang benderang dengan cahaya matahari yang menghangatkan, dan pada malam hari, bintang-bintang akan nampak bertaburan di atas sana, di langit malam yang gelap. Romantis, bukan?


Yap, Daddy dan Mommy Rani dulu menempati kamar itu, dan setelah lama ditinggal, kamar itu baru dipakai lagi sewaktu kemarin ada banyak tamu yang menginap di rumah kami, di hari pernikahan kami -- kendati kamar itu sering dibersihkan. Aku mengerti kenapa Daddy tidak ingin menjadikan kamar itu sebagai kamar pengantin kami. Aku maklum, dan aku juga tak akan pernah mempermasalahkan hal itu. Aku tak pernah mempermasalahkan masa lalu Daddy. Jangankan dengan Mommy Rani, masa lalunya dengan ibuku saja aku sangat maklum. Tapi, daya pikat kamar itu sungguh menawan hatiku. Interior kamar itu sangat tepat bagi sepasang pengantin baru yang sedang hangat-hangatnya.


Aku jadi berpikir, bagaimana aku mesti memulai romantika bercinta di kamar yang mewah itu?


Bersamanya....


Aaaaah... memiliki suami seperti dirinya membuatku ikut berfantasi liar. Aku sungguh tidak sabar.

__ADS_1


__ADS_2