
"Bagaimana kalau kita membuat kesepakatan?"
Daddy menoleh, dari bawah pancuran air dia melihat ke arahku. "Kesepakatan apa?" tanyanya.
"Jadwal bercinta."
"Maksudnya?" Keningnya mengerut.
"Emm... tapi Daddy jangan tersinggung, ya. Aku... sebenarnya aku tidak masalah kalau kita rutin bercinta. Tapi... jarak waktunya dikondisikan. Pagi dan malam saja, gitu. Tidak masalah durasinya mau seberapa lama. Yang penting aku punya jedah istirahat yang panjang. Ngerti, kan?"
Daddy yang masih berdiri di bawah pancuran air seketika memutar keran dan langsung menoleh lagi ke arahku yang masih berendam di dalam bathtub. Dia tersenyum. "Baiklah," katanya.
"Daddy tidak tersinggung, kan?"
"Tidak, kok. Santai saja, Sayang."
__ADS_1
"Terima kasih, Suamiku Sayang. I love you bertubi-tubi."
Lagi, dia menoleh ke arahku dengan senyumannya yang hangat. "Oke. Sepakat, ya. Dua kali sehari dengan durasi bebas. Masing-masing waktu boleh dua ronde permainan. Deal. Sampai jumpa dalam pertempuran nanti malam, Nyonya Aditama. Aku akan menantikanmu."
Oh, ya ampun... dengan bahagianya dia melenggang keluar dari kamar mandi. Aku jadi merasa geli melihatnya. Ditambah lagi di sepanjang siang itu dia begitu jahil padaku.
"Tak bisa membawamu ke ranjang, begini saja sudah cukup, kok," katanya.
Daddy menyelipkan tangannya di balik dress yang kukenakan melalui kerah leherku. Aku tengah meringkuk di sofa dengan posisi kepala di atas pangkuannya, plus dengan sebuah novel di tanganku, pada jam santai siang dan kami tak punya bahan obrolan. Kalau dipikir-pikir, kami memang tak banyak mengobrol. Justru lebih banyak bermesraan dan bercintanya daripada bicara. Dalam hal apa pun, Daddy tak banyak melarang, dia lebih banyak menuruti kemauanku dan apa pun gagasanku tentang sesuatu. Namun, di saat ia benar-benar tidak setuju, dia akan tegas padaku, tidak berarti tidak. Ketegasannya tak akan membuatku menentang. Aku menurut padanya sebagaimana dia menurut padaku. Aku ahli merengek, tapi jika dia sudah mengeluarkan ultimatum dengan ketegasannya, aku tak akan merengek lagi. Kurasa, kami tak akan pernah cekcok dalam hal apa pun kalau begini modelnya. Asyik, bukan? Tak ada yang buruk dalam hubungan antara anak dan ayah asuh yang kami alami. Setelah menikah, bedanya hanya satu, kami bisa bercinta. Ah, indahnya hubungan pernikahan dengan seseorang yang sudah kita kenal baik selama belasan tahun. Apalagi dalam romansaku, suamiku adalah lelaki yang sudah membesarkan aku sedari bayi. Tentu saja dia bisa banyak mengalah, dan pastinya -- dia sosok yang "kebapakan."
"Ya," kataku. "Asal jangan dilampiaskan sekarang. Kita sudah sepakat lo, ya. Nanti malam, oke?"
Daddy mengerucutkan bibirnya dengan kedua alisnya terangkat ke atas, sementara aku menelusurkan tanganku di antara pahanya yang terbalut celana pendek. Dan...
Dia hidup meski tak menegang sempurna. "Tuh, kan... makanya jangan pegang-pegang. Biar tidak sampai begini...."
__ADS_1
"Habisnya aku bingung mau melakukan apa."
"Duh... yang mati gaya di Jakarta."
"Aku tidur saja, ya?"
"Em, sebaiknya. Biar yang di situ juga ikut tidur," ledekku.
Dia malah cekikikan. "Awas saja kamu nanti malam."
Ya Tuhan... ucapannya membuatku ngeri.
Dan, benar saja. Sesuai kesepakatan, Daddy menyalurkan hasratnya yang terpendam selama enam belas jam.
Hahaha! Berlebihan, ya. Cuma enam belas jam doang, seperti bertahun-tahun saja.
__ADS_1
Yeah, tapi dia memang nampak tersiksa dijatahi jam begitu. Sehingga...