Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Kerinduan


__ADS_3

Napasku ngos-ngosan gara-gara Daddy yang super jahil pagi itu. Sewaktu melihat anjing tetangga, dengan isengnya dia melempari anjing itu dengan batu kecil lalu menarik tanganku berlari. Otomatis, anjing itu menggonggong dan mengejar kami. Padahal aku tahu persis, anjing itu akan anteng kalau dia tidak diganggu, dan dia akan berhenti berlari kalau kami berhenti berlari. Namun Daddy yang super gesrek itu malah sengaja menarikku, membuat anjing itu terpancing untuk mengejar kami dan dia malah terbahak-bahak.


"Dasar edan!" sungutku. Kami sudah sampai di depan pagar rumah dan Daddy sedang membuka gembok.


Dia kesenangan. "Seru, Sayang," sahutnya, pagar sudah terbuka dan kami melangkah masuk. "Anggap saja itu terapi kejut. Itu bagus untuk jantungmu. Lagipula itu sehat, bukan? Kakimu jadi terpakai untuk berlari."


"Bodoh amat! Aku tidak suka berlari." Sambil terseok-seok aku mengintil di belakang Daddy.


Sesampainya kami di depan rumah, aku langsung melepaskan sepatuku dan menghempaskan tubuhku di sofa ruang tamu begitu masuk ke dalam rumah. Kelelahan. Sementara Daddy, setelah mengunci pintu depan, dia pergi ke dapur dan mengambil air dari dalam lemari es. Dia sudah melepaskan jaket berikut kausnya. Hanya menyisakan celana olahraga yang turun ke pinggul. Seksi sekali. Otot-ototnya menyembul sempurna. Dia membuat gairahku seketika menyala bagaikan kobaran api yang membakarku dari dalam.


"Minum," katanya.


Ah, dia sangat pengertian. Ia menaruh air putih itu di samping wajahku dan mengarahkan sedotannya ke bibirku. Sambil menoleh aku meminumnya sedikit-sedikit. Dan setelahnya aku tersenyum puas. "Terima kasih," ucapku.


"Mmm-hmm... sama-sama, Sayangku." Sambil nyengir lebar dia berjongkok lutut di sampingku. Matanya awas memandangiku namun tangannya meraba ke area paha. Aku tahu maksudnya, dia mengecek apakah aku masih memakai pembalut ataukah tidak. Dan, yap -- tidak. Aku sudah tidak memakai pembalut. "Sudah selesai, ya?" tanyanya kemudian.


Tapi dia tidak menungguku menyahut, melainkan mengintip sendiri dengan tangan mengangkat lingkar pinggang celanaku. Dengan sedikit menunduk dia melihat ke dalam, lalu nyengir ke wajahku.


Dasar ABG puber. Dia konyol sekali. Dan tanpa aba-aba, dia duduk di ujung kakiku dan menarik lepas celanaku dan langsung bertelungkup di atasku. "Sudah boleh, kan?" Tangannya membelai di permukaan kain tipis yang masih menghalangi.

__ADS_1


Mau tak mau aku mendesis merasakan nikmatnya sentuhan tangan Daddy di permukaan kulit sensitifku. "Ya, sudah saatnya melampiaskan kerinduan." Kulingkarkan tanganku di lehernya dan ia menarikku bangkit. Dengan semangatnya, Daddy melepaskan jaket, kaus, lalu pengait bra-ku.


"Aku kangen sekali padamu," ia bicara pelan di telinga, sementara tangannya bergerilya di dada dan kami berciuman. Dia menguasai mulutku, mencapai kerongkonganku. Bergairah sekali.


Puas dengan mulutku, ia menahan punggungku dengan lengannya sementara dari depan ia memaksa tubuhku melengkung hingga ia memiliki kebebasan mencumbui dadaku. Aku tersedot ke dalam rongga mulutnya. Tertarik dengan rasa nikmat yang tak mampu kujelaskan hingga tanpa menyadari tangannya bergerak melepaskan kain tipis yang sekarang sudah meluncur menuruni kaki.


Dia berlutut, menghadap ke bagian itu. Memuja dengan hasrat dan sentuhan sensua* bibir dan lidahnya yang meliuk masuk. Aku gila, Daddy mengangkat kakiku, melingkarkannya di pundak, dan dia kembali membuatku tersedot ke dalam mulutnya.


Tetapi...


Aku malah terkesiap. Adegan itu membuat potongan mimpi burukku semalam berkelebat di kepala.


Kugelengkan kepalaku dan berkata kalau aku tidak apa-apa. "Kakiku pegal, aku butuh duduk."


Tanpa menunggu Daddy merespons, aku duduk di ujung sofa.


"Begini lebih baik," kataku -- menutupi perasaanku yang sebenarnya. Kutaruh kembali kakiku di pundaknya sementara aku bersandar dengan bantal di belakangku. "Aku menyukainya. Lagi, ya. Lebih lama."


Daddy tersenyum ceria, dan kembali melancarkan aksinya. Nikmat sekali, aku tidak tahan untuk tidak merema*-rema* rambutnya. Mengekspresikan kepuasanku terhadap kegilaannya, juga keterampilan gaya bercintanya.

__ADS_1


"Puas? Aku butuh masuk," katanya.


"Well, silakan." Kurebahkan tubuhku ke samping, dan aku tersenyum.


"I am coming." Dia tak melepaskan pandangannya dari tubuhku sementara tangannya aktif membuka celananya hingga membuat tubuhnya segera polos.


Uuuuuh... dia on fire. Ketegangannya sudah sempurna. Lalu, dengan posisi menyilangi satu kakiku sementara kakiku yang satu lagi ia taruh di atas pahanya, Daddy mulai mengarahkan dirinya, lalu masuk, dan... menekan perlahan.


"Sssh... akhirnya penantianku selesai. Waktunya aku membalasmu, Kejora."


Hah! Dia membuatku terbahak. "Aku tidak takut kelelahan. Lampiaskan saja. Balas aku berlipat-lipat."


"Yeah, aku tidak akan memberimu ampun."


Dan... ukh! Sungguh pertarungan yang hebat. Dia bergerak, memompa dengan gilanya. Membabi buta. Keliaran kuda jantan yang beringas itu menyiksaku dalam kenikmatan.


Oh Tuhan... ingin aku berteriak kencang bahwa aku mencintainya. Namun itu terwakilkan oleh *ranganku yang tak tertahan.


Aku bahagia. Benar-benar bahagia.

__ADS_1


__ADS_2