Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Suamiku, Malaikat Tanpa Sayap


__ADS_3

Pada malam harinya, aku sudah hampir terlelap ketika ponselku yang terkapar di samping bantalku tiba-tiba bergetar. Ada pesan masuk dari Dinda. Dia mengirimiku screenshot pesan dari Melisa.


Tadi gue ke sekolah, dan gak sengaja denger Riko CS lagi ngobrol di kantin. Mereka sebut-sebut nama Kejora. Dari yang gue tangkap dari obrolan mereka, sepertinya Riko diledek karena kalah taruhan: dia nggak bisa menaklukkan Kejora, dan (maaf) mengajaknya tidur. Tapi Riko bilang ke mereka tunggu saja tanggal mainnya. Dia yakin pasti bisa ngajak Kejora bercinta dengannya. Apa pun caranya. Gue menyampaikan ini nggak ada niat atau maksud apa-apa. Gue cuma kepingin Kejora hati-hati. Trims, Dinda.


Aku segera menekan tombol off di ponselku dan menaruhnya ke atas meja. Aku pun berbaring, meringkuk lebih dekat ke Daddy yang sudah terlelap, dan aku tak ingin mengganggunya.


Tak bisa kupungkiri, informasi dari Melisa membuatku gelisah. Aku tak habis pikir, bisa-bisanya Riko dan teman-temannya menjadikan aku sebagai bahan taruhan. Riko pemuda yang tampan. Anak-anak di sekolah bahkan hampir tak bisa menghitung ada berapa banyak gadis yang ia kencani. Bisa jadi sebagian besar siswi tercantik di sekolah sudah berstatus sebagai mantan pacarnya. Lalu untuk apa taruhan itu? Apa karena aku satu-satunya siswi yang menolak untuk menjadi pacarnya hingga dia begitu terobsesi padaku? Dan teman-temannya mengambil keuntungan dari masalah sepele ini? Mengomporinya sehingga berujung taruhan?


Ini sungguh gila. Kegelisahanku membuatku tak bisa tidur malam itu, merasa seolah-olah Riko akan benar-benar punya kesempatan untuk mengurungku di suatu tempat dan melakukan hal buruk kepadaku, dan aku terus terjaga. Sekitar pukul dua pagi, kuputuskan untuk mengambil sesuatu dari lemari es. Camilan mungkin bisa mengalihkan pikiranku, setidaknya untuk sementara waktu.


Dengan mengendap-endap dan agak ngeri, kulangkahkan kakiku menuruni tangga sambil menyapu ruangan gelap yang mesti kulewati. Kuhela napas dalam-dalam dan berusaha meyakinkan diriku sendiri, "Riko tidak akan bisa masuk ke rumah ini. Semua jendela dan pintu terkunci dan tak satu pun tanpa teralis. Tenang, Kejora," rapalku.

__ADS_1


Aku menemukan roti tawar dan keju di lemari es, mengambilnya tiga lembar dan menaruh dua lembar keju di antara masing-masing. Aku berpikir untuk menggoreng telur mata sapi tapi aku malas melakukannya, dan sebagai gantinya aku mengambil sebuah apel dan sebotol air minum. Kubawa santapanku ke ruang keluarga.


Kuambil remote TV dari atas meja dan menekan tombol on. Setelah mengganti-ganti salurannya dan menemukan film laga era sembilan puluhan yang sedang diputar, aku pun menontonnya sambil menggigit roti lapis kejuku. Begitu selesai makan, kuminum airku, dan setelahnya aku merebahkan diri di atas sofa. Ruangan itu bermandikan pendaran cahaya biru dari layar televisi. Dan, lama kelamaan aku mengantuk dan tak terasa aku tertidur di sana.


Mungkin saking mengantuknya aku plus benar-benar butuh tidur, aku tidak menyadari apa pun hingga ketika aku bangun hari sudah terang benderang, dan ternyata aku sudah berada di kamarku, di atas ranjangku -- tanpa Daddy.


Oh, sial. Hari sudah jam setengah delapan pagi. Betapa bodoh dan buruknya aku. Daddy pasti lapar dan butuh sarapan. Sambil menggosok-gosok mataku lalu meregangkan tubuh, aku pun turun dari tempat tidur. Aku bergegas keluar dari kamar, menuruni tangga, dan langsung menuju dapur. Daddy tengah membuatkan sandwich untuk kami sarapan, dan kali ini lengkap: ada telur, keju, selada, tomat, juga daging panggang di dalamnya.


Rasa bersalah membuatku mematung sesaat di sana, di belakangnya, tapi seperti biasa: Daddy selalu merasakan kehadiranku.


Aaah... manis sekali dia. Aku menghampirinya, memeluknya dari belakang dan mencium punggungnya yang tak terbalut apa pun.

__ADS_1


"Maaf, ya, aku malah terbangun sesiang ini."


Daddy melepaskan pelukan tanganku, memutar badan dan melingkarkan lengannya di pinggangku. "Tidak usah membahas apa pun. Aku sudah tahu. Dan aku sudah mengirimkan pesan pada teman-temanmu untuk menghubungi ke ponselku kalau mereka ingin menghubungimu. Jangan pegang-pegang ponsel dulu, ya. Bisa janji?"


Ya Tuhan... pria ini malaikat atau manusia?


Aku tersenyum seraya bersyukur di dalam hati, dan mengangguk kepadanya. "Aku berjanji. Terima kasih untuk semuanya, maksudku... kamu menenangkan."


"O ya?" Dia menatapku dalam-dalam sambil tersenyum mesra. "Kurasa aku punya cara membuatmu lebih tenang lagi. Mau?"


Oh, ya ampun, pintarnya dia mengatasi keadaan, atau mengambil kesempatan?

__ADS_1


Apa pun itu, dia sudah mematikan pemanggangan dan menggendongku ke atas meja makan. Sarapan utama: cinta yang hangat di pagi hari.


Apa itu? Tebaklah sendiri. Aku yakin kau pun tahu.


__ADS_2