Hot Daddy: My Beautiful Kejora

Hot Daddy: My Beautiful Kejora
Senja Yang Indah


__ADS_3

Senja yang indah. Langit berwarna oranye dan sekarang aku hanya berdua dengan Daddy. Mom Rani sudah pulang ke Surabaya dijemput oleh suaminya. Oom Endru. Ia sempat memperkenalkan Oom Endru kepadaku, juga dua jagoan kecilnya: Indra dan Indri.


"Kurasa kalau mereka punya anak laki-laki satu lagi, mereka akan menamainya Indro," celetukku pada Daddy.


Praktis Daddy tersenyum jahil. "Kalau kita punya anak, kamu mau menamainya siapa?"


"Ah, Daddy... bercandanya nggak lucu, ih!"


"Gira atau Gibra? Lucu, kan?"


"Iyuuuh...," aku geli. "Lucu dari mana coba?"


Daddy terkekeh-kekeh, lalu dengan susah payah ia meredam tawanya. "Jadi, setelah tahu Mom Rani sudah menikah, kamu tidak cemburu lagi? Tidak cemberut lagi? Tidak sok sibuk dengan ponselmu lagi? Hmm?"


"Daddy tu nyebelin banget, ya. Sumpah!" Kugeleng-gelengkan kepalaku sambil menahan senyum. Kupercepat langkah kakiku meninggalkan Daddy di belakang sana dengan senyum manisnya yang tak hentinya mengembang.


Sungguh, dia membuatku bingung. Aku masih belum memercayai kalau semua tindakannya itu merupakan hal yang serius, tapi aku juga tak bisa menganggapnya sebagai bahan bercandaan antara ayah dan anak. Mungkin aku memang berharap kalau ia memang tidak bercanda.


Menyingkirkan jauh-jauh kebingungan itu, aku menatap takjub pondok-pondok yang ada di depanku. Yah, malam ini dan selama beberapa hari ke depan, kami akan menginap di salah satu pondok di perkebunan itu. Pondok kayu sederhana namun nampak hangat dan kokoh. Perabotan di dalamnya juga memadai, terbilang oke untuk sebuah kenyamanan.


"Bagaimana? Kamu suka menginap di sini?" Daddy tersenyum sambil menjatuhkan diri ke salah satu kursi berlengan besar di pondok itu. Ia baru saja memasukkan koper kami dan barang-barang belanjaan kami: sejumlah bahan makanan instan untuk masa berlibur di kawasan perkebunan sejuk ini. Hanya untuk berjaga-jaga kalau kami kelaparan tengah malam, sekaligus camilan di saat kami sedang bersantai ria.


Tentu saja aku suka. Aku mengangguk dan balas tersenyum. "Asal bersama Daddy, di mana pun aku pasti suka."


Ini menghasilkan lambungan bantal dan jaket ke arahku sementara aku berteriak. Dan hal yang tak disangka-sangka adalah ketika aku membungkuk untuk memunguti bantal dan jaket itu -- persis saat aku kembali menegakkan tubuh, tak sengaja aku menangkap tatapan Daddy lalu ia mengedip. Gestur itu membuat perutku bergejolak dan suhu di dalam ruangan sekonyong-konyong menjadi begitu pengap. Aku butuh udara segar -- segera.


Ya Tuhan, aku tahu aku nervous. Kutaruh lagi bantal itu di kursi dan kusampirkan jaket Daddy di sandaran kursi. Aku tidak bisa berada di sini dengan hati yang berdebar tak karuan.


Mengayun terbuka pintu depan berbahan kayu berat, aku melangkah keluar ke bawah sinar matahari senja yang hangat, menghirup udara beraroma apel dalam-dalam sambil bersandar pada pagar beranda pondok dan mengagumi pemandangan di seberang padang rumput yang hijau, berdiri tegak seperti seorang bangsawan berusia lanjut.


"Indah, ya," suara Daddy yang khas mengelus telingaku ketika dia bersandar ke pagar di sebelahku. Beranda ini terbilang kecil, jauh dari kata luas, tapi cukup untuk bersantai menikmati embusan angin.

__ADS_1


Sependapat dengannya, aku pun mengangguk. "Yah, Kejora suka suasana di sini," kataku.


"Bagus, karena Daddy berencana untuk pindah ke sini suatu saat nanti. Dan... Daddy harap kamu bisa membujuk Oma untuk ikut pindah ke sini."


Aku yang sempat tertegun langsung memandang ke arahnya. "Kenapa memangnya dengan Jakarta? Sudah tidak betah karena tidak ada lahan pertanian? Atau...?"


"Apa?"


"Tidak, bukan apa-apa."


"Boleh Daddy minta satu hal?"


Aku bersedekap, bahuku terasa merinding. "Tentu, kalau Kejora bisa. Please... katakan, Dad."


Aku dapat melihat dia mempertimbangkan sesuatu yang tidak dapat -- atau yang sulit -- disampaikannya pada saat itu. Setelah beberapa saat bergulat, dia menyerah. "Kalau ada yang bertanya kamu siapanya Daddy, jangan bilang kalau kamu anaknya Daddy, ya?"


Hah?


"Lalu, aku harus bilang apa? Aku siapanya Daddy?"


"Menurutmu? Lebih enaknya apa?"


"Well, mungkin... emm... dipikirkan nanti saja, deh. Kejora mau mandi dulu. Bye, Daddy...."


Tetapi tak semudah itu, Ferguso....


Ia berhasil mencegat lenganku dan aku terhenti tepat di depan wajahnya. "I love you."


Oh, Tuhan... suaranya benar-benar pelan di telinga. Kendati hanya tiga kata, dan -- merupakan kata yang biasa kudengar darinya, tetapi kali ini -- itu bagaikan kata-kata yang paling indah, seperti sonata piano atau nyanyian indah dari surga.


Sungguh, tungkai kakiku tiba-tiba gemetar dan mungkin saja aku akan mendarat di lantai kalau saja tangan kokoh Daddy tidak menahan lenganku dengan kuat.

__ADS_1


Tak seperti kalimat yang biasa kudengar, aku pun tidak punya jawaban untuk itu -- lebih tepatnya: aku tidak mampu menjawab.


"A-- aku... e... aku masuk dulu, Dad."


Dia tidak melepaskanku!


Dad... please... aku tidak mau Daddy mendengar degup jantungku.


Kutelan ludah ketika mata kami bertemu. Menatap lekat manik hitam satu sama lain dan merasa terbakar. Dan sesaat kemudian aku menyadari satu tangannya melingkar erat di pinggangku. Aku berada di pelukannya, berhadap-hadapan dengannya. Oh, Tuhan, untuk sekejap aku lupa kalau dia ayahku.


"I love you too, Daddy."


Lancang! Aku membelai wajahnya. Ingin kupatahkan tanganku ketika aku menyadari yang kulakukan itu. Tapi aku tak bisa melawan rasa. Aku berjinjit, lalu...


Bibir kami nyaris saja bersentuhan saat pintu pondok tertutup dengan keras karena tertiup angin.


"Sori, Daddy. Aku...."


"Mandi, gih. Sudah sore."


"Yah. Aku... aku masuk dulu."


Kupastikan kali ini langkah kakiku membawaku masuk ke dalam pondok, aku langsung menuju kamar mandi dan mengucurkan air dari keran di atas kepalaku. Ini gila. Sungguh gila! Jantungku berdebar begitu keras hingga nyaris menubruk keluar dari dadaku.


"Oh my God... apa yang sudah kulakukan? Bisa-bisanya aku menciumnya. Oh, no! Nyaris. Aku belum sempat menciumnya. Tapi tetap saja, itu salah! Kejora... gila kamu, ya! Bodoh! Idiot! Memalukan!" Tak habis rasanya aku memaki diri sendiri. Aku menyesal karena tidak bisa mengontrol perasaanku. Rasa yang tidak wajar itu. I am sorry, Dad....


Saat merenungkan semua yang telah terjadi setelah kepulangan Daddy di hari ulang tahunku, sedari dia tertegun saat pertama kali menatapku, lalu hal-hal berikutnya dan sampai detik yang baru saja terlewat -- bahwa aku -- kami nyaris saja berciuman, sesuatu yang dikatakan Mom Rani kepadaku sekonyong-konyong kembali dengan sangat jelas: Daddy menemukan Kejora, kekasih pujaannya di dalam diriku.


Haruskah aku menjadi -- sosok ibuku -- demi Daddy?


Oh Tuhan....

__ADS_1


__ADS_2