
Rasa kebelet pipis membuatku mau tidak mau turun dari ranjang dan lari ke toilet. Salahku, mestinya aku ke belakang dulu tadi sebelum tidur. Tapi siapa sangka kalau rasa kebelet ini justru memberikan kejutan tersendiri bagiku.
Waktu itu hari sudah larut malam, sudah hampir jam sebelas. Namun, sewaktu aku hendak kembali ke kamar, aku menyadari pintu depan terbuka.
"Daddy masih di luar, atau... jangan-jangan ada maling?" Aku bergidik. Dasar pikiran aneh, batinku. Dan sedetik kemudian kuberanikan diri melangkahkan kaki ke luar, tapi... samar-samar kudengar suara orang mengobrol di luar pondok. Seperti suara Oom Hendri, pikirku.
Benar, itu suara Oom Hendri. Aku melihatnya dengan jelas sewaktu mengintip ke beranda.
"Kenapa kamu senyum-senyum begitu? Jangan-jangan iya? Hmm?"
Kulihat Daddy memang tersenyum. Apa, sih, yang ditanyakan oleh Oom Hendri?
"Gibran... Gibran. Seperti anak perawan saja kamu. Bilang iya saja susah."
Daddy menggelengkan kepalanya seperti orang putus asa. "Ya gimana, Hend? Dibilang nggak, ya bohong. Dibilang iya, akunya yang takut. Dia terlalu muda. Apalagi, mungkin dia menganggapku -- sepenuhnya sebagai seorang ayah, ya kan?"
Deg!
Maksudnya apa? Mereka membahas tentang aku?
"Iya, sih. Tapi mana tahu, siapa tahu anak itu memang jodohmu. Tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini."
"Kasihan dia, Hend. Masih muda, masa jodohnya bapak-bapak seumuran kita begini? Sudah mau kepala empat."
"Eh, soal umur tidak jadi masalah. Malah ada yang lebih dari dua puluh tahun. Kamu lihat di berita, ada kakek-kakek yang menikahi bocah ABG."
"Jangan disamakan dengan berita, Hend. Ini Kejora, anak yang kubesarkan dari bayi. Masa tahu-tahu kunikahi? Ya memang mungkin, tapi apa anaknya mau? Nanti dia malu pada teman-teman sekolahnya karena menikah dengan ayahnya sendiri."
Ya Tuhan, lemas kakiku. Ada rasa yang tidak kumengerti waktu itu, apa aku bahagia hingga jantungku berdebar begitu keras dan semua sarafku terasa lumpuh?
"Kalian tidak sedarah, Kawan. Lagipula itu masalah kecil. Kalau Kejoranya mau, kenapa tidak? Eh, apa ini alasan kenapa kamu mau menetap di sini? Iya? Kamu mau ajak dia pindah dari lingkungan lama, dan nyaman di lingkungan baru sebagai... pasangan suami istri?"
Daddy mengedikkan kedua bahunya, lalu menunduk. "Kalau keadaan mendukung. Kalau tidak, tidak akan. Kadangkala keinginan dan rencana kita tidak sesuai dengan apa yang digariskan Tuhan."
"Bagaimana dengan Kejora? Apa sikapnya menunjukkan... ketertarikan yang sama?"
"Tidak tahu. Aku tidak bisa menilainya. Tapi... sepertinya dia nyaman dengan hubungan ayah dan anak di antara kami."
"Dua pertanyaan lagi. Yang pertama, kamu sendiri punya rasa itu, kan? Itu untuk dia, atau karena bayang-bayang ibunya?"
"Kejora. Kejora yang ada sekarang. Dia bukan bayang-bayang masa lalu. Mungkin awalnya iya karena mereka memiliki paras yang sama. Tapi semakin kusadari, hatiku tahu jawabannya."
Semringah. Oom Hendri dan Daddy nampak bersukacita dengan penuturan Daddy. Dan aku...
Semakin bingung.
__ADS_1
"Bagaimana dengan Ibu? Kira-kira--"
"Ibu mendukung. Justru dia yang bersikeras menyuruhku nekat mendekati Kejora."
"Oh, waw! Ibu memang orang tua yang luar biasa. Jadi... tinggal bagaimana Kejora saja, kan?"
Aku... aku tidak tahu, Daddy. Ini terlalu mencengangkan.
"Omong-omong, kering nih tenggorokan. Mbok ya disiapkan minuman untuk tamu."
Hah? Waduh...
Bug!
Kakiku yang lemas tak mampu dibawa lari. Aku terjerembab.
"Kejora?"
Bangun, Kejora. Bangun... lari, Idiot!
Kakiku goyah, serasa sulit menapak, tapi aku berhasil mencapai pintu kamarku dengan terseok-seok, meski...
Terlambat, kurasa Daddy terlanjur sempat melihatku.
"Kejora, buka pintunya, Sayang. Daddy mau bicara."
Ceklek!
Sialan! Aku lupa mengunci pintu.
"Hei, Daddy tahu kamu pura-pura tidur. Daddy sempat melihatmu tadi."
Argh! Sial! Sial! Sial! Ini juga tidak wajar, kenapa aku yang harus lari dan salah tingkah begini?
"Kejora, Sayang, kamu marah, ya?"
Kusibakkan selimut dan kuberanikan diri untuk bangkit. Aku berdiri di sana, berhadapan dengan Daddy yang menatapku.
"What? Kenapa mesti ada rasa?"
"Kenapa? I don't know. Daddy--"
"Ini tidak wajar, Daddy."
"Yeah, Daddy tahu--"
__ADS_1
"Ini tidak mungkin...."
"Tidak ada yang tidak mungkin."
"Daddy... no! Kita ini--"
Ya Tuhan, tubuhku gemetar. Dan waktu seakan berhenti sesaat.
"You kissed me?"
"I love you."
"No."
"I love you."
"Dad-- eummm...."
Lagi. Dia menciumku hingga mataku terpejam. Bibirnya membelaiku begitu lembut. Terasa manis. Aku seakan mendapatkan sesuatu yang amat sangat kuharapkan -- perasaan istimewa dalam momen yang menakjubkan. Sementara di dalam dada ini ada rasa berdebar yang aneh. Pingin pingsan rasanya. Tuhan... sekeras apa pun aku menyangkal, tapi aku tidak bisa menipu diriku sendiri. Ciuman itu bahkan melumpuhkan sarafku. Walau logika menolak, tapi aku tahu tubuh dan jiwaku menerimanya. Dan hatiku....
"Be mine."
Hah?
"Share your life with me. Jadilah teman hidupku selamanya."
Gleg! Aku tidak bisa merasakan kakiku. Lemas. Sesak. Oh, Tuhan....
"Please, marry me?"
"Me-- menikah?"
"Say yes, please?"
"Ak-- aku--"
"Please, marry me, Kejora?"
"Daddy... aku...."
Dia menangkup wajahku, mengunci tatapanku, lalu...
"Feel me."
Ya Tuhan, dia menciumku lagi. Oh, Daddy... ini sungguh mendebarkan. Jantungku... serasa tidak lagi berada di tempatnya. I feel you, Dad. Aku merasakanmu di dalam jiwaku.
__ADS_1
Persis di saat itu aku bertanya: apakah ini nyata? Atau aku hanya sedang bermimpi? Tapi...
"Daddy tunggu kamu delapan belas tahun, ya? Aku akan menikahimu, dan menjadikanmu istriku. I will marry you, Kejora Aditama."