
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sementara itu..
Ketika bagas hendak membuka pintu kamar Vanya, tangannya mengambang di udara saat mendengar tawa renyah dari dua gadis kecil yang ada di dalam sana.
Bagas merasa sedikit bersyukur, karena dengan adanya Nisa, dia bisa kembali mendengar tawa putri kecilnya itu. Namun, dia juga sedikit merasa sedih karena tidak bisa menghibur putrinya hingga kembali tertawa.
Saat sudah tidak terdengar lagi suara tawa, Bagas hendak kembali membuka pintu kamar putrinya. Namun, lagi-lagi tangannya mengambang di udara ketika dia samar-samar mendengar suara isak tangis putri kecilnya itu.
Kesedihan yang Bagas rasakan kian bertambah ketika dia mendengar dengan jelas saat putri kecilnya itu semakin terisak pilu. Bagas merasa sangat gagal menjadi seorang ayah. Tapi, Bagas juga mengerti kenapa putri kecilnya itu enggan berkeluh kesah padanya.
Andai saja. Ya.. lagi dan lagi.. Andai saja Bagas bisa mengulang waktu, mungkin kejadiannya tidak akan seperti ini.
Bagas pun akhirnya lebih memilih untuk mendengarkan di balik pintu. Meskipun Bagas tidak bisa memeluk Vanya secara langsung, setidaknya dia masih bisa ikut merasakan kesedihan putrinya.
Setelah mendengar isakan Vanya kembali tergantikan dengan tawa, kali ini Bagas benar-benar membuka pintu kamar Vanya.
"Hemmm.. Asik banget bercandanya sampe ga sadar kalo papah buka pintu" ucap Bagas.
Beruntungnya, ketika Bagas membuka pintu, bertepatan dengan Nisa yang sedang meminum jusnya, sehingga gadis kecil itu dengan sengaja menumpahkan jus itu ke bajunya guna menutupi air mata Vanya yang membasahi bajunya.
"Eh Ya ampun om ngagetin ya?" Bgas bertanya seraya menghampiri dua gadis kecil itu.
"Gapapa om, cuma basah dikit kok.." ucap Nisa.
Vanya sedikit menghembuskan nafasnya lega karena Nisa bisa dengan cepat menolongnya.
"Lagian juga papah buka pintunya tiba-tiba.. Bentar Vanya ambilin baju dulu buat Nisa" ucap Vanya seraya beranjak dari duduknya dengan sedikit terburu-buru. Dia berusaha agar Bagas tidak melihat matanya yang sembab.
"Maaf ya Nis, om ga sengaja"
"Gapapa om, kan bisa minjem baju Vanya, hehe.." ucap Nisa.
Vanya melemparkan sebuah kaos pada Nisa serya berkata "Nih nis, bentar aku kebelet pipis" lalu segera masuk ke kamar mandi.
Gadis kecil itu membasuh wajahnya yang terlihat sedikit sembab, dia hanya tidak ingin Bagas sampai mengetahui jika dia sehabis menangis. Tapi pada kenyataannya, Bagas yang mengetahui hal itu pun hanya bisa berpura-pura tidak mengetahui apa-apa. Sedih memang, tapi bagas akan mencoba untuk mengerti pilihan putri kecilnya itu.
"Emang papah sejak kapan disitu?" tanya Vanya setelah keluar dari kamar mandi.
Nisa pun segera masuk ke kamar mandi untuk mengganti bajunya.
"Pas kalian ketawa-ketawa tuh.. Papah pikir kayanya asik, makanya langsung masuk aja" ucap Bagas.
"Iya asik, tapi ngagetin" sahut Vanya cepat.
Bagas pun terkekeh gemas ketika Vanya mencebikkan bibirnya.
"Kalian lagi ngerjain apa?" tanya Bagas kemudian.
"Ga ngapa-ngapain.. Tadinya mau ngerjain PR sama ngegambar buat tugas hari senin, tapi ga jadi, soalnya keasikan bercanda hehe.."
Bagas menggeleng-gelengkan kepalanya "Hmm.. kamu tuh ya.."
"Nis, kamu nginep di sini aja ya, udah malem soalnya. Om tadi lupa mau nganter kamu pulang, soalnya om ada kerjaan. Om juga udah ijinin ke mamah kamu" ucap Bagas saat Nisa sudah keluar dari kamar mandi.
"Emang ini udah jam berapa om?" tanya Nisa.
"Ini udah mau jam setengah 8. Gapapa kan?"
Nisa menganggukkan kepalanya "Iya om gapapa".
"Yaudah kalo gitu mending sekarang kita makan malem" ucap Bgas.
"Tapi kan bi Asih tadi sore udah pulang kampung pah" sahut Vanya.
"Papah udah masak" ucap Bagas.
"Emangnya papah bisa masak?" Vanya bertanya seraya memicingkan matanya.
__ADS_1
"Loohh.. Gini-gini juga papah tuh jago masak tau" Bagas menjawab seraya menepuk dadanya dengan bangga.
Vanya pun tersenyum manis lalu berkata "yaudah ayok kalo gitu"
Mereka pun segera turun untuk makan malam.
*****
Setelah makan malam selesai, Vanya dan Nisa pun kembali ke kamar.
"Va, masakan papah kamu enak ya" ucap Nisa seraya mematikan lampu kamar, lalu menyusul Vanya yang sudah membaringkan tubuhnya di atas kasur.
"Heem, aku juga baru pertama kali ini di masakin sama papah" sahut Vanya.
Setelahnya, keheningan pun melanda mereka berdua. Mereka berbaring seraya menatap langit-langit kamar Vanya yang di hiasi lampu glow in the dark yang di design menyerupai langit.
Pict by : Pinterest
"Va.." ucap Nisa memecah keheningan.
"Hmmmm"
"Bukannya waktu terakhir kali aku kesini, kamar kamu belum di pasangin lampu kaya gini ya?"
"Heem.. 2 hari yang lalu aku minta sama papah buat pasangin lampu kaya gini"
"Terus kenapa minta di bikin mirip langit?"
"Biar aku ga berharap terlalu tinggi"
"Maksudnya?"
"Langit kan jauh, ga bisa di gapai. Sama kaya harapan aku, kejauhan. Jadi aku harus natap langit, biar sadar kalo harapanku ga mungkin bisa di gapai" jawab Vanya seraya terkekeh kecil.
Nisa pun sontak menoleh pada Vanya lalu menatap temannya itu dengan pandangan sendu.
"Soal mamah kamu ya?"
Nisa juga kembali menatap langit-langit kamar.
"Hmmm.. Tapi emang iya sih.." Nisa menggantungkan ucapannya.
"Iya apa?" Vanya bertanya dengan dahi yang mengerut.
"Harapanmu terlalu tinggi" ucap Nisa seraya terkekeh kecil.
Vanya pun ikut terkekeh
"lha terus kamu gimana?"
"Gimana apanya?" tanya Nisa sedikit bingung
"Kamu ga pernah gitu berharap buat ketemu lagi sama papah kamu?"
"Engga ah" jawab Nisa cepat.
"Kenapa?"
"Aku takut kaya kamu.." lagi-lagi Nisa menggantungkan ucapannya.
"Aku?" Vanya menunjuk wajahnya sendiri.
"Heem, sakit hati" Nisa menjawab dengan sarkas.
Vanya seketika terkekeh mendengar jawaban sarkas temannya itu.
"Eh Nisa, bentar lagi kan liburan semester 1. Kamu biasanya kalo libur panjang gitu suka kemana?"
"Ga kemana-mana, emang kenapa?"
"Ya kan aku jadi ada temen main, hehe.."
__ADS_1
"Kamu tu loh Iv, sukanya maiiiiin aja terus, aku kalo nginep disini kayanya hampir ga pernah liat kamu belajar. Tapi kok nilai kamu ga pernah kurang dari 8, aku aja yang belajar tiap hari masih dapet nilai 6.. Emang kamu kalo belajar biasanya jam berapa sih?"
"Bukannya dengerin guru nerangin pelajaran itu namanya juga belajar ya?"
"Beda Iiiv.."
Vanya mengerutkan keningnya "Bedanya apa?"
"Ah udahlah, susah kalo ngomong sama orang pinter" ucap Nisa seraya menarik selimutnya hingga ke atas kepala.
Namun sedetik kemudian, Nisa kembali menurunkan selimutnya.
"Va..." ucap Nisa lalu menggulingkan tubuhnya menjadi tengkurap dengan wajah yang menghadap ke arah Vanya.
"Hemmmm"
"Mau bikin janji ga?"
Vanya menoleh pada Nisa
"Janji apa?"
"Janji buat kita terus kaya gini."
"Maksudnya?" Vanya bertanya seraya memiringkan tubuhnya menghadap Nisa.
"Ya kita temenan sampe nanti kita dewasa"
"Hmmm.. kirain apa.." ucap Vanya seraya kembali tidur terlentang dan kembali memandang langit-langit kamarnya.
"Mau ga??"
"Engga ah.." jawab Vanya cepat.
"Aku serius Iv.." rengek Nisa.
"Aku juga serius Taaaannn" rengek Vanya.
"Ish.. Terus kenapa kok ga mau?"
"Ya aku ga mau aja kalo harus temenan sampe dewasa" jawab Vanya sedikit acuh tak acuh.
"Ya terus maunya sampe kapan??" Nisa kembali merengek.
Vanya menoleh pada Nisa lalu tersenyum
"Maunya sampe tua" ucap Vanya lalu terkekeh geli karena berhasil membuat temannya kesal.
"Kenapa ga sekalian sampe ke akhirat aja" ucap Nisa ketus.
"Boleh juga" sahut Vanya.
Dua gadis kecil itu pun akhirnya tertawa karena kekonyolan mereka.
Setelah melerai tawanya, Nisa melirik ke arah jam dinding lalu berkata "tidur ah, udah malem"
"Astaga, iya udah jam 11 malem Nis.." ucap Vanya setelah melihat jam dinding.
"Makanya ayo tidur, anak kecil ga baik tidur malem-malem" ucap Nisa lalu memejamkan matanya.
"Dih.. Engga sadar diri emang" sahut Vanya yang juga mulai memejamkan matanya..
"Good Night anak kecil" ucap Nisa.
"Good Night juga anak kecil yang sok dewasa"
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
__ADS_1
Bye bye..