Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Pria Yang Pengertian


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Sebelumnya...


"Bisa nih gua kerjain dikit." Tata bergumam di dalam hatinya.


Namun....


*****


Saat Winda hendak menarik jaring net menggunakan kakinya, gadis itu harus mengurungkan niatnya tat kala seseorang masuk kedalam gudang. Winda lantas menoleh ke arah belakangnya untuk melihat orang yang masuk ke dalam.


Melihat orang itu, sontak saja membuat Winda menjadi sedikit salah tingkah. Karena sungguh, dalam jarak yang sangat dekat seperti ini, Haidar sungguh berkali kali lipat terlihat lebih tampan.


Meskipun Haidar hanya menampilkan poker face nya, tapi tetap saja, hal itu tidak mengurangi ketampanan Haidar. Justru itu yang membuat Winda semakin merasa terpesona akan ketampanan Haidar. Pria dingin yang selalu menampilkan wajah datarnya, yang justru menambah daya tariknya. Pria yang membuat Winda dan banyak dari para gadis murid baru yang langsung terpikat akan daya tarik yang di miliki olehnya.


Ya, orang yang baru saja masuk ke dalam gudang itu adalah Haidar. Awalnya, Nisa yang hendak kembali untuk membantu Vanya. Namun, karena Nisa belum melakukan pengambilan nilai dan kebetulan Haidar sudah selesai melakukan pengambilan nilai. Jadi Haidar mengajukan diri untuk menggantikan Nisa.


Dan ya, karena berhubung dengan orang yang mengajukan diri untuk menggantikannya kembali guna membantu Vanya adalah Haidar. Nisa pun menyetujui hal itu dengan senang hati, bahkan gadis itu menjawab 'Ya' hanya selang beberapa detik setelah Haidar selesai memberikan penjelasan.


Dan di sini lah Haidar sekarang, di dalam gudang belakang untuk membantu Vanya mencari kunci lemari yang masih saja belum di temukan.


Melihat ada murid baru yang juga sedang ada di sana, tidak serta merta membuat Haidar penasaran akan hal itu. Pria itu hanya melirik Winda sekilas dengan tanpa minat.


Saat Winda hendak menyapa, Tata sudah lebih dulu menghampirinya dengan membawa beberapa tas raket.


Melihat Haidar yang berdiri di ambang pintu, tentu saja membuat Tata juga merasa sedikit salah tingkah. Bahkan gadis itu terlihat sedikit tersipu malu hanya karena menatap sekilas wajah poker face yang di tampilkan oleh Haidar.


"E, eh.. Ada kak Haidar, sejak kapan kakak di sini?" Tata mencoba untuk berbasa basi.


Yang mana, hal itu sontak saja membuat Vanya menoleh ke arah pintu.


"Loh.. Dar, ngapain di sini?" Vanya bertanya dengan dahi yang sedikit mengernyit bingung.


Dan ya, kalian sudah pasti bisa menebak kalau Haidar lebih memilih untuk menanggapi Vanya dari pada harus menanggapi Tata. Bahkan saat ini, setelah Vanya menoleh ke arah Haidar, pria itu seketika saja merubah ekspresinya.


Haidar tersenyum kecil sebelum akhirnya berkata. "Bantuin lu nyari kunci, udah ketemu belum?"


Pria itu berjalan mendekat Vanya yang masih berjongkok di dekat jaring net voli.


"Win, lu liat?? Kak Haidar senyum Win.. Senyumm!!" Gadis itu berbisik gemas pada Winda yang masih saja menatap Haidar.

__ADS_1


"Aaaa, mereka gemesin.."


Tata kembali berbisik gemas pada Winda saat melihat Vanya yang mencebikkan bibirnya tat kala Haidar mengusak kepala Vanya dengan gemas.


Sedangkan Winda, entah kenapa, dirinya tiba-tiba saja merasa kesal melihat pemandangan itu. Apa kah dirinya merasa iri karena selama ini belum pernah ada yang memperlakukannya seperti itu?


Ah, entahlah.. Winda hanya merasa kesal.


"Ayok ah, keburu pada nyariin nanti." Winda menarik Tata agara segera pergi dari sana.


Meninggalkan Haidar dan Vanya yang tidak menghiraukan mereka.


"Kok bisa belum ketemu juga? Lu tadi kepelesetnya kayak gimana kok bisa sampe ga tau kuncinya kelempar kemana?" Haidar berjongkok di dekat Vanya.


Pria itu membantu Vanya untuk mencari kunci lemari yang sebelumnya Vanya jatuhkan.


"Ya kayak gitu pokoknya kepelesetnya.. Ya kalo gua harus reka adegan!" Vanya menatap Haidar dengan sedikit sinis.


Merasa apa yang di pertanyakannya memang sedikit konyol, lantas membuat Haidar menggaruk pelipisnya dengan sedikit canggung.


"Pertanyaan gua salah ya?" Pria itu bertanya seraya menampilkan senyum canggungnya.


Vanya menanggapi Haidar dengan menganggukkan kepala cepat.


"Yaudah deh, gua ganti pertanyaannya.. Kira-kira, tadi kuncinya kelemparin ke sebelah mana? Di kira-kira gitu.."


Gadis itu merasa sedikit kesal karena sedari tadi, dirinya terus mencari kunci itu hingga kini merasa sedikit lelah. Bukannya lelah karena berolahraga, Vanya justru merasa lelah karena sedari tadi harus menunduk dan berjongkok untuk mencari kunci lemari itu.


Merasakan kesalahan yang sama dalam memberikan pertanyaan untuk Vanya, lagi-lagi membuat Haidar menggaruk pelipisnya dengan canggung. Karena ya, memang benar juga, jika Vanya bisa memperkirakan kemana jatuhnya kunci itu, Vanya tidak mungkin mencari kunci itu ke setiap sudut di dalam ruangan itu.


Tidak ingin menambah kekesalan Vanya, Haidar pun memilih untuk kembali fokus dalam mencari kunci lemari itu.


"Lagian juga kenapa sih kuncinya ga di kasih gantungan kunci sama Pak Wawat.. Kalo kayak gini kan jadi susah nyarinya!!" Gadis itu menggerutu seraya terus menyibakkan setiap alat olahraga yang tersimpan di sana.


"Ck, bisa ga sih tu kunci di miscall aja?"


Gadis itu kini menjatuhkan pantatnya di atas lantai, kakinya benar-benar terasa kesemutan karena harus terus berjongkok dan menunduk.


Alih-alih merasa kasihan, melihat tingkah yang di lakukan Vanya, justru membuat Haidar menahan kekehannya. Karena sungguh, tingkah gadis itu benar-benar terlihat sangat menggemaskan. Di tambah lagi dengan bibir gadis itu yang terus saja mencebik sebal. Semakin membuat Haidar merasa sangat gemas.


Namun, Haidar segera mengalihkan tatapannya dari Vanya saat gadis itu menatapnya dengan sedikit sinis. Haidar memilih untuk kembali melanjutkan mencari kunci lemari itu dari pada harus mendapatkan omelan pedas dari Vanya.


Tapi sayangnya, Vanya menyadari senyum kecil yang terbit di bibir Haidar.


"Kalo mau ketawa ya ketawa aja!! Elu kan emang gitu.. Seneng kalo ngeliat pacarnya susah!!"

__ADS_1


Haidar kini tak kuasa lagi menahan kekehannya, pria itu mengeluarkan tawa renyahnya saat melihat wajah Vanya yang di tekuk dalam-dalam.


Yang mana, hal itu seketika membuat wajah Vanya semakin merengut sebal.


"Yaudah iya maap, udah ga ketawa lagi nih.."


Namun, Vanya hanya mencebikkan bibir seraya memalingkan wajahnya ke sembarang arah.


Haidar menghela nafasnya kemudian menghampiri Vanya. Pria itu lalu berjongkok menggunakan ujung kedua telapak kaki sebagai tumpuannya di depan Vanya yang duduk dengan bersila.


"Lu lagi dapet ya?" Haidar bertanya dengan lembut.


Tangan kanan pria itu terangkat untuk menyelipkan helaian rambut sebelah kiri Vanya ke telinga sebelah kiri gadis itu.


Mendengar apa yang di tanyakan oleh Haidar, lantas membuat Vanya menganggukkan kepalanya perlahan.


Mendapatkan jawaban pasti atas apa yang di pikirkannya, lantas membuat Haidar mengembangkan senyum kecilnya. Karena ya, Vanya akan menjadi sedikit sensitive jika gadis itu tengah mendapatkan tamu bulanannya.


Mungkin tidak hanya Vanya seorang, setiap perempuan juga pasti akan mengalami perubahan mood jika mereka sedang mendapatkan tamu bulanan. Hanya saja, Haidar lebih bisa menebak Vanya karena selain gadis itu adalah kekasihnya. Gadis itu juga merupakan gadis acuh tak acuh dalam kesehariannya. Jadi, lebih mudah untuk Haidar menebak, kapan gadis itu mendapatkan tamu bulanannya.


Mengerti akan kondisi Vanya, Haidar pun menangkup pipi kiri gadis itu menggunakan tangan kanannya.


"Yaudah, gini aja, kuncinya ga usah di cari lagi, biar nanti gua yang ngomong sama pak Wawat.. Ya?"


"Tapi kaaan.."


"Udah ga papa.. Pinggang lu sakit kan?"


Vanya menganggukkan kepalanya.


"Mending kita ke UKS aja, biar lu bisa istirahat di sana. Hmmm?" Haidar bertanya dengan sangat lembut.


Setelah berpikir untuk sejenak, Vanya pun akhirnya menyetujui apa yang di katakan oleh Haidar dengan kembali menganggukkan kepalanya.


Haidar lantas membantj Vanya untuk beranjak dari duduknya kemudian merangkul gadis itu menuju ruang UKS.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2