Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Menyesal!!


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Namun, Nisa tidak menghiraukan Winda, gadis itu lebih memilih untuk membawa tas milik Vanya kemudian melirik Haidar agar mereka segera pergi dari sana.


Meskipun bingung, namun Haidar tetap menganggukkan kepalanya. Dia akn menanyakan apa yang jadi pertanyaan itu nanti ketika situasi dan kondisinya sudah memungkinkan.


Setelah Nisa berdiri, dia dan Haidar pun segera berlalu pergi dari sana.


Winda yang melihat hal itu pun segera berdiri kemudian menahan Nisa dengan menggenggam tangan kanan gadis itu.


"Kak.. Tolong kak.. Jelasin dulu apa yang kakak maksud tadi.." Winda berkata cepat.


Nisa segera menghempaskan tangan Winda. Gadis itu menatap Winda dengan sangat nyalang.


"Apa yang perlu gua jelasin!! Kalo lu emang percaya sama tante kesayangan lu itu, lu cukup percaya sama apa yang dia omongin ke elu!! Ga ada gunanya buat gua jelasin semuanya ke elu sekarang!!" Nisa kini sudah tidak bisa lagi mengontrol emosinya.


"Tapi kak.. Gua mohon kak.. Jelasin dulu.." Winda kini menatap Nisa dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


Karena sungguh, setelah mendengar apa yang sebelumnya di katakan oleh Nisa. Benar-benar membuat hati Winda kini merasa sangat tidk tenang. Terlebih lagi, dari awal juga Winda memang sedikit sanksi terhadap apa yang di katakan eh Ayu.


Jadi, ketika dia mendengar Nisa yang mengatakan hal itu tentang Ayu, semakin membuat dia merasa ragu terhadap Ayu.


Tapi, memang benar atas apa yang di katakan oleh Nisa. Mendapatkan penjelasan untuk sekarang pun sudah percuma karena Winda sudah terlanjur mencelakai Vanya.


Namun tetap saja, Winda benar-benar ingin mengetahui hal yang sebenarnya terjadi. Karena yang dia tahu, Nisa merupakan sahabat Vanya sejak kecil.


Jadi, besar kemungkinan untuk Nisa mengetahui semua hal yang sebenarnya terjadi.


Saat Nisa hendak kembali berlalu pergi, Winda kembali menggenggam tangan Nisa.


"Kak.. Gua tau ini udah terlambat, tapi gua mohon, jelasin apa yang sebenernya terjadi.. Gua mohon kaaaak... Gua bakalan ngelakuin apa aja buat nebus kesalahan gua ke kak Vanya.. Gua mohoooon.."


Buliran bening kini mulai menetes dari kedua mata Winda.


Nisa yang melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya. Meskipun sedikit enggan, namun nisa tetap mengeluarkan liontin yang tengah di pakainya itu dari balik baju seragamnya.


Nisa lantas membuka bandul liontin berbentuk hati itu kemudian mengeluarkan sebuah memori card kecil yang ada di dalamnya.


"Satu hal yang harus lu ketahui, Vanya sama sekali ga bersalah atas kejadian buruk yang di alami tante Ayu. Dan ini.." Nisa menunjukkan memori card itu pada Winda.

__ADS_1


"Ini hasil visum kekerasan yang di lakuin tante kesayangan lu itu ke Vanya bertahun-tahun yang lalu.. Bersyukur karena gua ga nurutin Vanya buat ngebuang memori card ini.. Jadi gua punya bukti kalo Vanya sama sekali ga bersalah atas apa yang di alami tante Ayu!!" Tutur Nisa dengan nada yang penuh penekanan.


"Ambil ini dan baca dengan sebaik mungkin!!" Nisa meletakkan memori card itu di atas telapak tangan Winda. "Seharusnya, setelah lu liat semua hasil visum itu, kalo emang otak lu berfungsi dengan baik. Lu harusnya bisa nyimpulin siapa yang salah dan siapa yang bener.."


"Ah ya, dan satu hal lagi.. Gua bersumpah!! Lu bakalan nyesel selama sisa umur hidup lu, karena lu udah ngelakuin hal bodoh yang kemungkinan besarnya pasti ngerusak masa depannya Vanya.. Atau bahkan mungkin hal bodoh yang lu lakuin itu justru ngamcem keselamatan nyawanya Vanya.. Jadi, camkan hal itu baik-baik!!!" Nisa berkata seraya menunjuk wajah Winda menggunakan jari telunjuknya dengan penuh emosi.


Setelah mengatakan hal itu, Nisa dan Haidar pun benar-benar berlalu pergi dari sana.


Meninggalkan Winda yang kini menatap kepergian Nisa dan Haidar dengan tatapan kosongnya.


Setelah Nisa dan Haidar menghilang dari jarak pandangnya, Winda lagi-lagi jatuh terduduk dengan isakan kecil yang mulai keluar dari mulutnya.


Winda lalu menatap memori card yang ada di genggamannya itu dengan pandangan matanya yang buram karena tertutupi air mata.


Gadis itu lantas menggenggam memori card itu dengan sangat erat merasakan betapa menyesalnya dia karena sudah mencelakai Vanya.


"Bodoh!!" Lirih Winda.


Gadis itu kini mulai terisak pilu seraya memukul-mukul kepalanya sendiri menggunakan tangan kanannya yang menggenggam erat memori card itu.


"Kenapa gua bodoh banget sih!!!"


Gadis itu kembali berkata lirih dengan isak tangis pilu yang semakin mejadi.


"Dar, gua udah dapet alamatnya." Nisa menoleh pada Haidar yang tengah mengemudikan mobil.


"Ok, di mana?" Tanya Haidar cepat.


"Jalan Xxxx, no.13."


Haidar mengangguk kecil kemudian segera melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh menuju galeri itu.


Tak membutuhkan waktu yang lama, Nisa dan Haidar pun kini sampai di galeri yang di maksud.


"Bener yang ini kan bangunannya?" Haidar bertanya kemudian.


Pria itu terus melirik pada bangunan yang terbilang cukup besar itu.


"Sesuai dengan apa yang ada di foto sih.." Sahut Nisa cepat.


Setelah memarkirkan mobilnya di sembarang tempat, Haidar dan Nisa lalu segera keluar dari dalam mobil.


Namun, saat Haidar hendak berjalan ke arah galeri itu. Dia menghentikan niatnya tat kala melihat seorang pria yang sangat di kenalnya ada di sana.

__ADS_1


Haidar lantas menatap bingung pada seorang pria yang tengah berdiri dengan satu pria yang lainnya di depan pintu masuk galeri itu.


Nisa yang melihat tingkah aneh Haidar pun menatap Haidar dengan dahi yang mengernyit bingung.


"Kenapa Dar?" Tanya Nisa kemudian.


Namun, Haidar mengabaikan Nisa. Haidar lebih memilih untuk mendekati pria yang di kenalinya itu.


Nisa yang melihat hal itu pun segera mengikuti langkah Haidar.


Melihat kedatangan Haidar, lantas membuat pria yang di kenali oleh Haidar itu menundukkan kepalanya sekilas pada Haidar.


"*Pak Yoko.. Bapak ngapain di sini?" Haidar bertanya seraya menatap pria yang bernama Yoko itu dengan sedikit bingung.


*Pak Yoko : Asisten pribadinya Andi.


Namun, Yoko tidak segera menjawab apa yang di pertanyan oleh Haidar. Pria itu lebih dulu memperkenalkan Haidar pada pria yang tengah berbincang dengannya yang ternyata pria itu adalah Om Heru.


"Tuan Heru.. Perkenalkan, ini Tuan Muda Haidar, anak dari Tuan Andi.." Ucap Yoko.


"Ah ya.. Saya Heru.." Heru mengulurkan tangannya pada Haidar untuk bersalaman dengannya.


Haidar pun menerima uluran tangan Heru. "Haidar.." Ucapnya.


Setelah menyalami Heru, Haidar lantas menatap Yoko dengan penuh tanda tanya seolah meminta Yoko untuk menjelaskan apa yang sebenernya terjadi.


Mengerti arti dari tatapan Haidar, Yoko lantas segera menjelaskan semuanya.


"Ah, jadi begini Tuan muda.. Saya sedang membahas ganti rugi atas pintu galeri Tuan Heru yang semalam saya bobol." Kata Yoko.


"Bisa kau jelaskan lebih detail lagi?" Haidar masih belum memahami apa yang di maksud oleh Yoko.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2