
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Sesampainya di rumah, rasa takut Vanya semakin menjadi saat Ayu bergegas keluar dari mobil tanpa mengatakan sepatah kata pun. Namun, Vanya berusaha menekan rasa khawatirnya itu dan segara berlalu menuju kamarnya.
Sesampainya di kamar, Vanya bergegas membersihkan diri. Setelahnya, Vanya segera turun ke bawah untuk makan siang bersama Bagas dan juga Ayu.
Tapi entah kenapa, suasana makan siang itu terasa berbeda dari biasanya. Tidak ada canda tawa, tidak ada kehangatan, hanya ada hawa dingin dan perasaan canggung yang menyelimuti suasana di meja makan.
Sampai-sampai, membuat Vanya yang hendak meminta ijin untuk di antarkan ke rumah Nisa menjadi sedikit ragu. Vanya pun memutuskan untuk tidak mengatakan apapun dan segera kembali ke kamarnya. Namun, setelah menimang cukup lama, akhirnya Vanya memberanikan diri untuk kembali turun menuju ruang TV, tempat di mana Bagas dan Ayu berada.
Vanya sejenak menghentikan langkahnya di bawah tangga, dia sedikit meremat tangannya seraya menghela nafas, kemudian dia berjalan mendekati Bagas dan Ayu yang sedang duduk di sofa.
"Pah.." ucap Vanya yang berdiri di dekat sofa.
Bagas menoleh ke arah Vanya dengan tatapan datar, membuat Vanya menjadi tambah ragu untuk meminta ijin.
Bagas menaikan alisnya lalu bertanya "Apa?" dengan suara yang begitu dingin.
"Vanya boleh nginep di rumah Nisa ga?" Vanya bertanya dengan sedikit gugup.
Namun, Vanya menundukkan kepalanya karena merasa terkejut saat Bagas menjawabnya dengan nada yang begitu kasar.
"Kamu tuh ya, apa sih untungnya nginep di sana??? Kamu tuh udah kelas 6, fokus belajar!! Jangan cuma ngerti main aja!!"
"Tapi pah, Vanya di sana juga belajar" Vanya berkata dengan lirih.
"Halaaaaah.. Belajar-belajar apa!! Paling juga kamu di sana cuma main aja.. Kamu tu juga harusnya tadi nungguin papah buat jemput kamu, bukannya malah nelponin mamah kamu terus.. Kamu kan tau kalo mamah kamu itu lagi hamil, mamah kamu tu capek, butuh istirahat. Kok ya malah kamu paksa buat jemput kamu"
Vanya seketika menatap Bagas saat mendengar Bagas yang menuduhnya telah memaksa Ayu untuk menjemputnya.
"Pah, Vanya engga.."
Belum sempat Vanya menyelesaikan ucapannya, Bagas sudah lebih dulu berkata "ga usah bantah!!! Siniin HP kamu, malam ini papah sita biar kamu ga kebanyakan main HP, fokus belajar!!"
Mau tidak mau, Vanya pun menyerahkan ponsel yang ada di genggamannya kepada Bagas.
Bagas menerima ponsel itu lalu berkata "sekarang kamu masuk ke kamar kamu!! Hari ini kamu ga dapet jatah makan malam, kamu harus renungin apa kesalahan kamu!!"
Vanya sekilas melirik Ayu yang sedang fokus menonton tv tanpa ada niat sedikit pun untuk membelanya.
"Ngapain kamu masih berdiri di situ!! Cepet masuk ke kamar!!"
__ADS_1
Mendengar Bagas yang kian membentaknya, Vanya pun segera berlalu menuju kamarnya tanpa mengatakan sepatah kata pun.
Setelah memasuki kamar, Vanya mengunci pintu kamarnya lalu menyandarkan tubuhnya di pintu.
Vanya menghela nafasnya lalu berjalan mendekati kasurnya seraya berkata "Hah.. Ternyata sama aja, lebih parah malah"
Gadis kecil itu merebahkan tubuhnya seraya memeluk boneka pemberian nenek Indah dengan sangat erat.
"Akhirnya, apa yang Vanya takutin terjadi juga nek.." Vanya berkata dengan air mata yang mulai mengalir.
"Ternyata bener apa kata Nisa, kalo udah punya firasat buruk tu mending ga usah di lanjutin"
Kini, Vanya mengerti kenapa hatinya hingga saat ini masih belum bisa menerima Bagas dan juga Ayu. Meskipun Vanya sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk sekalipun, tapi tetap saja dia merasa sangat terkejut. Bahkan hatinya sedikit berdenyut nyeri karena Bagas yang tiba-tiba saja berubah dengan sangat drastis.
Vanya semakin mempererat pelukannya pada boneka pemberian nenek Indah seraya berkata "Vanya harus gimana nek??"
"Vanya takut..." ucap Vanya dengan isakannya yang semakin pilu, hingga tak terasa membuat gadis kecil itu terlelap dalam tidurnya.
*****
Pagi harinya..
Vanya yang sudah siap untuk berangkat sekolah itu masih saja berdiam diri di kamarnya. Gadis kecil itu merasa ragu untuk keluar dari kamarnya, dia sangat enggan untuk bertemu dengan Bagas atau pun Ayu. Matanya terus saja melirik ke arah jam yang tertempel di dinding.
Sampai terdengar suara Bi Asih di balik pintu
Vanya menghela nafasnya dengan sangat berat..
"Udah bi, ini Vanya mau turun" Vanya berkata seraya bergegas meraih tas nya lalu turun ke bawah.
Lagi-lagi Vanya hanya bisa menundukkan kepalanya seraya menghela nafas berat saat Bagas menyambutnya dengan sebuah teguran.
"Kamu tuh ngapain aja sih, jam segini kok baru turun!! Udah jam berapa ini, mamah kamu sekarang lagi nungguin papah di salon, papah tu harus nganterin mamah kamu buat periksa kandungannya."
"Maaf pah" hanya itu yang bisa Vanya ucapkan.
Bagas segera beranjak dari duduknya lalu menyerahkan selembar uang 50 ribu pada Vanya
"Udah nih, kamu sarapan di sekolah aja, papah udah telat"
Vanya pun menerima uang itu dengan tangan yang sedikit bergetar, lalu segera menyusul Bagas yang sudah lebih dulu berjalan menuju mobil.
*****
"Va.. kamu kenapa?" Nisa bertanya pada Vanya yang baru saja memasuki kelas dengan sangat lesu.
__ADS_1
"Ga papa kok Nis" jawab Vanya setelah duduk di bangkunya.
Nisa memegang kedua bahu Vanya lalu sedikit menggeser tubuh temannya itu agar berhadapan dengannya.
"Ga papa gimana.. Itu mata kamu bengkak gitu!! Kamu semaleman abis nangis ya??"
Vanya mengalihkan tatapannya lalu menggelengkan kepala seraya berkata "engga papa loooh.."
"Iiiv, tatap mata akuuuu.... Kalo kamu ga papa, terus kenapa kamu kemaren ga jadi nginep di rumahku.. Hp kamu juga ga aktif loh.."
Vanya seketika menatap Nisa dengan mata yang berkaca-kaca
"Kita ke UKS, nanti aku minta ijin sama guru piket" ucap Nisa lalu menarik Vanya menuju ruang UKS.
Saat sampai di ruang UKS, Nisa meninggalkan Vanya di sana sejenak untuk meminta ijin kepada guru piket yang ada disana. Setelahnya, Nisa segera menghampiri Vanya yang sedang duduk di tepian brankar.
Nisa mendudukan dirinya di samping Vanya, dia meminta Vanya agar berhadapan dengannya lalu menggenggam tangan temannya itu dengan sedikit erat.
"Sekarang, ceritain" ucap Nisa.
Vanya menatap Nisa sejenak lalu mulai menceritakan semuanya dengan suara yang sedikit tertahan.
"Terus kamu mau gimana sekarang?" Nisa bertanya seraya menarik Vanya ke dalam pelukannya.
"Aku ga tau.. Aku takut.." Vanya menjawab dengan isakan yang mulai keluar dari bibirnya.
"Yaudah, di hadepin aja dulu.. Kalo ga kuat, kan masih ada aku.. Kamu bisa nangis sepuas kamu di pelukan aku.. Mau ngotorin baju aku pake ingus kamu juga ga papa" ucap Nisa seraya menepuk-nepuk punggung Vanya dengan lembut.
Vanya seketika terkekeh lalu memukul pelan punggung Nisa
"Makasih" ucap Vanya lalu melerai pelukannya.
Nisa tersenyum lalu berkata "He em.. Sekarang kamu tidur aja di sini, aku udah ijinin kamu kok.. Nanti aku bangunin kamu pas jam istirahat"
Vanya tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
"Yaudah, kalo gitu aku ke kelas dulu ya.." Ucap Nisa lalu segera beranjak untuk kembali ke kelas.
Namun, saat di ambang pintu, Nisa kembali menoleh pada Vanya yang sedang menatapnya. Nisa pun tersenyum lalu segera melanjutkan langkahnya, meninggalkan Vanya yang kembali terisak pilu.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
__ADS_1
Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..