Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Mematahkan Perasaan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ke esokan harinya..


"Dar, mending lu ga usah ngasih tau kak Wulan kalo kita pacaran deh.. Nanti kalo gua jadi canggung gimana coba? Gua males ngehadepinnya.."


Haidar yang tengah mengemudi pun melirik Vanya sekilas. "Terus lu mau gitu Wulan ngejar-ngejar gua?"


"Ya ga mau.." Vanya berkata dengan sangat lirih, gadis itu lalu menatap Haidar dengan pandangan sedikit memelas. "Maksud gua tu, lu bilang aja kalo lu udah punya pacar. Tapi ga usah bilang kalo lu pacaran sama gua.. Ya, ya, ya, ya, yaaaaaaa.."


Haidar menghela nafasnya. "Itu sama aja dengan gua ga ngakuin kalo lu tu pacar gua Va."


Vanya seketika mencebikkan bibirnya. "Ya lu cukup bilang kalo lu udah punya pacar, udah gitu aja.."


"Terus, kalo dia nanya pacar gua siapa, gua harus jawab apa?"


"Ya masa dia nanya sampe segitunya?"


Haidar mengedikkan bahunya. "Ya kan siapa tau. Orang itu kan mikir kemungkinan-kemungkinan yang bakalan terjadi, ga cuma mikir gampangnya aja.."


"Ck, ribet.." Ucap Vanya kemudian bersedekap dada. "Lagian elu juga, kenapa harus cakep sih.. Kan jadinya banyak yang suka." Gadis itu berkata dengan sangat ketus.


Haidar yang mendengar hal itu pun seketika menahan tawanya. "Jadi lu sekarang ngakuin kalo gua cakep?"


Vanya seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat seraya memalingkan wajahnya yang tiba-tiba saja terasa panas.


"Haisssh, keceplosan kan gua!" Vanya menggerutu di dalam hatinya.


Haidar yang melihat hal itu pun semakin menahan tawanya. "Va..." Ucap pria itu seraya mencolek lengan kanan Vanya dengan main-main.


Vanya seketika memutar bola matanya malas. "Iya, iya lu cakep.. Puas!! Mending ku fokus nyetir aja deh.."


Haidar lantas kembali memfokuskan dirinya untuk mengemudi seraya mengulum senyumnya.


.....


Dan benar saja, seperti apa yang Vanya katakan pada Wulan pada hari sebelumnya. Saat jam makan siang tiba, ketika Vanya hendak keluar dari ruangannya, dia melihat Wulan yang sudah lebih dulu menghampiri ruangan Haidar.

__ADS_1


Vanya yang melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya kemudian kembali ke meja kerjanya.


Sedangkan Wulan, ketika dia memasuki ruangan Haidar. Gadis itu mendekat ke arah Haidar yang tengah merapikan meja kerjanya dengan sedikit gugup.


Haidar yang melihat kedatangan Wulan pun hanya menatap gadis itu dengan acuh tak acuh kemudian kembali merapikan mejanya.


Yang mana, hal itu benar-benar membuat Wulan merasa semakin gugup.


"Dar, mau makan siang bareng ga?" Wulan pun memberanikan diri untuk bertanya seraya sedikit meremat pinggiran roknya.


Haidar lalu mendongakkan wajahnya untuk menatap Wulan, pria itu terlihat berpikir untuk beberapa saat sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya.


Wulan yang mendapat persetujuan dari Haidar pun seketika mengulum senyumnya. Dia merasa mendapatkan lampu hijau untuk mendekati Haidar.


Setelah selesai merapikan mejanya, Haidar lantas beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi tanpa menatap Wulan.


Namun, Wulan tidak memperdulikan hal itu. Dia segera mensejajarkan langkahnya dengan Haidar yang berjalan menuju kantin perusahaan.


"Mau pesen apa?" Wulan bertanya pada Haidar yang tengah menatap daftar menu yang terpasang di meja kasir.


Namun, alih-alih menanggapi Wulan. Haidar lebih memilih untuk berbicara dengan petugas kasir.


Petugas kasir itu pun menganggukkan kepalanya. "Ada lagi?"


"Itu aja." Haidar mejawab seraya menyerahkan kartunya untuk membayar.


Wulan yang melihat hal itu pun hanya bisa menghela nafasnya dengan pasrah. Karena ya.. Sepertinya dia akan benar-benar kesulitan untuk mendekati Haidar.


Setelah menyerahkan kartu itu pada Haidar, si petugas kasir pun menatap Wulan. "Mbk nya mau pesen apa?" Tanya petugas kasir itu.


"Es coklat aja 1." Jawab Wulan cepat seraya menyerahkan kartunya.


Setelah mendapatkan pesanan mereka, Haidar dan Wulan pun duduk di meja yang berada di dekat jendela.


"To the point aja." Haidar berkata dengan acuh tak acuh setelah menyesap kopinya.


Wulan yang mendengar hal itu pun seketika tersedak minumannya karena merasa terkejut atas perkataan Haidar yang sangat berterus terang.


Wulan lantas menyeka mulutnya menggunakan tisu kemudian menatap Haidar dengan sangat gugup. "Vanya ceritanya soal kemaren ya?" Gadis itu bertanya dengan suara yang sedikit tertahan karena benar-benar merasa terintimidasi dengan tatapan tajam Haidar.


Haidar menatap Wulan dengan menaikkan sebelah alisnya. "Emang kemaren kalian ngomongin apa?"

__ADS_1


Wulan yang mendapatkan pertanyaan itu pun seketika mengatupkan mulutnya rapat-rapat karena merasa telah salah berbicara. Yang mana, hal itu juga membuatnya menjadi salah tingkah. Wulan kini benar-benar tidak tau harus berkata apa.


Sungguh, semua perkataan yang ada di benaknya tiba-tiba saja hilang entah kemana setelah mendengar pertanyaan Haidar yang ternyata tidak tau apa-apa mengenai hal yang kemarin dia bahas dengan Vanya.


Wulan yang merasa sangat bingung harus berkata apa pun hanya bisa menundukkan wajah seraya meremat tangannya yang ada di bawah meja.


Haidar yang melihat hal itu lantas menghela nafasnya kemudian berkata. "Keliatan banget dari muka lu kalo lu mau ngomong sesuatu ke gua."


"Emm.. Itu.." Wulan mengusap tengkuknya canggung. "Gua.."


"Kalo lu punya perasaan ke gua, mending lu lupain aja." Haidar segera memotong perkataan Wulan.


Wulan yang mendengar hal itu pun seketika mengangkat wajahnya untuk menatap Haidar. "Kenapa? Apa karena gua kurang cantik? Apa karena gua kurang baik? Apa karena gua lebih tua dari lu?" Gadis itu bertanya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


Haidar lantas menatap Wulan untuk beberapa saat sebelum akhirnya berkata. "Gua udah punya pacar."


"Pacar?" Wulan tersenyum pilu. "Jangan bilang kalo pacar lu itu Vanya."


Haidar pun menghela nafasnya. "Ga penting soal siapa pacar gua, yang penting mulai sekarang mending elu ilangin perasaan elu ke gua. Gua ga mungkin berpaling dari pacar gua, jadi mending elu ga usah berharap sama perasaan elu ke gua. Gua juga selama ini ga pernah ngasih harapan ke elu atau ke cewek mana pun. Jadi gua minta tolong sama lu, ilangin perasaan lu ke gua sebelum berkembang jadi tambah besar."


Setelah mengatakan hal itu, Haidar lantas beranjak dari duduknya kemudian berlalu pergi dari sana tanpa menunggu tanggapan Wulan.


Wulan yang melihat kepergian Haidar pun hanya bisa menatap pria itu seraya mengusap air matanya dengan kasar. Dia benar-benar merasa tidak percaya bahwa dirinya baru saja di tolak sebelum dia mengatakan isi hatinya.


Karena sungguh, ini adalah kali pertama Wulan merasakan cinta yang bertepuk sebelah tangan. Dan parahnya lagi, pria itu lebih muda darinya. Sungguh, Wulan benar-benar merasa sangat sakit hati juga merasa sedikit malu.


Setelah menghela nafasnya, Wulan pun memutuskan untuk kembali ke ruangannya dengan sangat berat hati.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2