Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Terulang Kembali


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Ceklek.. Ckelek..


"Ok, beres.." Winda bergumam seraya menatap pintu yang baru saja dia kunci.


"Sehari, semalem, ga ada makanan, ga ada minuman.. Kira-kira bakalan kenapa-kenapa banget ga ya?"


Winda terus menatap ke arah pintu galeri itu.


"Ck, maafin Winda ya kak.. Cuma buat semalem aja.. Besok sepulang sekolah, Winda bakalan cepet-cepet keluarin kakak dari dalem."


Ya, hal yang di minta oleh Ayu kepada Winda adalah untuk mengurung Vanya di suatu tempat. Hal itu bertujuan agar Vanya tidak bisa mengikuti ujian kelulusan.


Ayu sengaja melakukan hal itu agar Vanya kesulitan untuk meraih masa depannya karena gadis itu tidak lulus sekolah sesuai dengan yang seharusnya.


Karena Ayu pikir, kesalahan yang di perbuat oleh Vanya terhadapnya sudah menghancurkan masa depan anak yang sedang di kandungnya. Bahkan juga menghancurkan masa depan Ayu karena Ayu tidak bisa mempunyai anak lagi.


Jadi ya, yang Ayu inginkan adalah balasan yang setimpal berupa kehancuran masa depan Vanya.


Setelah menghela nafasnya, Winda lantas segera berlalu meninggalkan galeri.


Namun, saat dirinya hendak masuk ke dalam mobil, gadis itu kembali menoleh ke arah galeri. Dia merasa sedikit tidak tega meninggalkan Vanya sendirin di sana.


Meskipun Winda mengetahui alasan kenapa Ayu memintanya untuk melakukan hal ini, Winda tetap saja merasa kalau hal ini terlalu kejam.


Karena selama dia melakukan pembelajaran dengan Vanya, Winda sama sekali tidak merasakan tanda-tanda kejahatan dari Vanya. Bahkan, selama mereka belajar, Vanya selalu bersikap baik dan bersikap sabar dalam mengajari Winda.


Hal itu juga yang membuat Winda merasa ragu untuk melakukan hal ini. Winda juga merasa sedikit sanksi atas alasan yang di katakan oleh Ayu kepadanya.


Benarkah seperti itu? Ataukah itu hanyalah bualan semata yang di katakan oleh Ayu.


Namun, setelah mengingat kembali kalau selama ini Ayu juga merupakan wanita yang baik. Winda pun akhirnya memilih untuk benar-benar melakukan hal ini.


Winda lantas segera masuk ke dalam mobil.


"Temennya non mana? Ga pulang bareng?" Tanya pak Doyo.


"Engga pak, katanya nanti di jemput sama pacarnya." Sahut Winda cepat.


"Oh, yaudah kalo gitu.. Terus sekarang kita mau kemana?"


Winda melirik ke arah tas milik Vanya yang sengaja Winda buat agar ditinggalkan di dalam mobil sebelum berkata.


"Pulang aja pak.."

__ADS_1


Pak Doyo pun menganggukkan kepalanya kemudian segera melajukan mobilnya.


Winda pun akhirnya benar-benar berlalu pergi dari sana. Meskipun selama dalam perjalanan, Winda harus merasakan kegelisahan yang menyelimuti hatinya.


*****


Di sisi lain...


Menyadari Winda yang tak kunjung kembali, lantas membuat Vanya melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya.


"Udah hampir 15 menit loh ini.. Kok dia belum balik juga ya?"


Gadis itu bergumam seraya memegang saku depan celana yang dia pakai, dia bermaksud untuk mengambil ponselnya guna menghubungi Winda.


Namun sayangnya, ponsel miliknya itu tidak ada di sana.


"Ah iya, lupa gua.." Vanya menepuk pelan jidatnya. "Hp gua di dalem tas.."


Vanya lantas memutuskan untuk kembali turun ke bawah, gadis itu berniat untuk menyusul Winda karena dirinya juga sudah cukup melihat-lihat semua hal yang ada di sana.


Namun, ketika Vanya hendak membuka pintu, dia sedikit mengernyitkan dahinya karena pintu itu tidak bisa terbuka.


Yang mana, hal itu seketika saja membuat pikiran buruk tiba-tiba menggelayut di kepalanya.


"Ga mungkin kan dia sengaja ngunciin gua di sini?"


Vanya bergumam seraya kembali mencoba untuk membuka pintu.


"Ck, sial..an emang!! Harusnya gua ga luluh sama bocah itu!!"


Vanya lantas memutuskan untuk kembali menyusuri tempat itu guna mencari jendela yang sekiranya bisa dia gunakan untuk keluar dari tempat itu.


"Tujuan dia ngunciin gua di sini apa coba?"


Vanya masih saja memikirkan maksud dari tujuan Winda mengurunnya di tempat itu. Dengan matanya yang terus menyusuri setiap sudut tempat itu.


Tapi sayangnya, mau berapa kali pun Vanya menyusuri setiap sudut tempat itu, dia tetap saja tidak bisa menemukan satu jendela pun yang bisa dia gunakan untuk keluar dari tempat itu.


Karena ya, tempat itu merupakan museum galeri. Meskipun museum itu bersifat pribadi, tapi tetap saja, bangunannya sama persis seperti bangunan museum pada umumnya yang jendela kacanya tidak bisa di buka.


Hanya saja, bedanya, museum galeri milik Om Heru ini tidak sebesar museum yang bersifat publik.


Vanya yang sudah merasa lelah pun akhirnya memutuskan untuk beristirahat dengan duduk di anak tangga pertama. Gadis itu menyandarkan kepalanya pada pegangan tangga seraya memikirkan bagaimana caranya agar dia bisa keluar dari tempat itu.


Hingga tiba-tiba saja, Vanya sedikit berjengkit kaget karena mendengar suara dentangan jam besar yang tergantung di dinding.


"Oh Tuhan.. Jantung gua hampir aja copot."


Vanya mengatur nafasnya seraya menatap jam itu yang kini sudah menunjukkan pukul 20.00 WIB.

__ADS_1


Sampai ketika jarum panjang dari jam itu beralih menuju menit pertama yang berarti menunjukkan pukul 20.01. Vanya lagi-lagi harus berjengkit kaget karena lampu museum galeri itu tiba-tiba saja padam.


"Anjiiirrrr!! Apa lagi sih ini..!!!"


Vanya tidak tahu kalau Om Heru sengaja mendesign lampu museum itu agar mati otomatis ketika waktu sudah menunjukkan pukul 20.01.


"Sumpah!! Ini ga lucu!!"


Vanya lantas memejamkan matanya untuk sejenak guna mengendalikan efek trauma yang mungkin saja sebentar lagi akan menghinggapinya.


Beruntungnya, cahaya malam sedikit menyinari ruangan itu melalui celah jendela yang ada sehingga Vanya masih bisa melihat sedikit bias cahaya.


Namun, sekuat apa pun Vanya menahan, efek traumanya itu tetap saja kambuh. Hal itu terbukti dari keringat dingin yang kini mulai membasahi telapak tangan dan dahinya.


Gadis itu lantas menyandarkan tubuhnya pada pegangan tangga seraya mengatur nafasnya yang kini mulai sedikit tersengal-sengal.


Ya, setelah kejadian di mana Vanya di kurung oleh Ayu di gudang belakang rumahnya hingga dia mengalami halusinasi. Menyebabkan Vanya kini mengalami trauma akan kegelapan dan ruang sempit.


Jadi, ketika gadis itu berada di ruang sempit atau pun di dalam kegelapan, gadis itu akan berkeringat dingin dan mengalami gangguan pernafasan spontan.


Selama ini, jika dia dalam keadaan seperti itu, dia akan segera menanganinya dengan menggunakan *Inhaler.


*Note : Inhaler / Ventolin adalah obat untuk pernafasan yang di semprotkan ke mulut.


Namun, untuk saat ini, tidak ada yang bisa di lakukan oleh Vanya selain terus berusaha mengatur nafasnya karena obatnya berada di dalam tas.


Namun sayangnya, semakin Vanya mencoba untuk mengatur nafasnya. Alih-alih menjadi lebih baik, hal itu justru membuat Vanya semakin kesulitan untuk bernafas. Dengan keringat dinging yang semakin membasahi seluruh tubuhnya.


Bahkan kini, Vanya mulai tidak bisa mengendalikan kesadarannya karena kepalanya mulai berdenyut dengan sangat kuat.


Yang mana, hal itu membuat bayang-bayang halusinasi yang di alaminya waktu itu terulang kembali.


"Apa mungkin gua bakalan mati hari ini?" Vanya bergumam seraya menatap refleksi dirinya yang tergantung di dekat jendela.


Tepat setelah Vanya menggumamkan hal itu, Vanya kini benar-benar kehilangan kesadarannya.


Tubuh gadis itu perlahan terjatuh ke belakang hingga membuat kepala belakangnya sedikit terbentur pada pinggiran anak tangga.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕

__ADS_1


Bye bye..


__ADS_2