
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Saat Haidar dan Nisa hendak menghampiri Vanya, Rima segera menahan tangan Nisa.
"Udah, kamu di sini aja.." Ucap Rima.
Nisa pun mau tidak mau hanya bisa menganggukkan kepalanya meskipun dengan bibir yang sedikit mencebik sebal.
Sedangkan Haidar, pria itu menyunggingkan senyumnya tat kala melihat Vanya yang masih mengerjapkan matanya.
"Hai babby.. How you feel?" Haidar bertanya saat Vanya sudah berhasil menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam penglihatannya.
Vanya menoleh pada Haidar kemudian membalas senyuman pria itu. "Hai.. I'm good.."
Gadis itu lantas hendak beringsut dari tidurnya untuk bersandar pada sandaran tempat tidur.
Haidar yang melihat hal itu pun dengan sigap membantu Vanya.
"Mau minum?" Tanya Haidar kemudian.
Vanya menganggukkan kepalanya.
Haidar lantas memberikan segelas air mineral yang terletak di atas meja kepada Vanya.
Vanya pun menerima segelas air itu.
"Makasih.." Ucap Vanya kemudian mulai meneguk air itu.
Setelah menghabiskan setengah air mineral dari gelas itu, Vanya kembali menyerahkan gelas itu pada Haidar.
"Ada yang lu butuhin lagi?" Haidar bertanya seraya kembali meletakkan gelas itu di atas meja.
Vanya tersenyum kemudian menggelengkan kepalanya.
"Engga mau makan atau ngemil gitu?" Tanya Haidar.
Vanya kembali menggelengkan kepalanya.
Haidar pun menganggukkan kepalanya. "Okay.."
"Apa aja yang udah lu lakuin selama gua ga ada?" Haidar bertanya seraya menggenggam tangan kanan Vanya menggunakan tangan kanannya.
Haidar mengelus punggung tangan Vanya menggunakan ibu jarinya.
"Uhmm.. Apa ya.. Ngobrol sama dokter Rizal.. Jalan-jalan ke taman sama tante Rima.." Sahut Vanya.
Mendapat respon yang begitu cepat dari Vanya, membuat Haidar tak kuasa menahan senyum bahagianya.
Karena ya, selama beberapa hari terakhir ini, jangankan untuk merespon, bahkan hanya untuk sekedar mendengarkan apa yang di katakan oleh Haidar saja sepertinya Vanya tidak bisa melakukan hal itu.
"Kalo gitu.. Mau jalan-jalan lagi ke taman sama gua ga? Kan jalan-jalan sama guanya belum.." Kata Haidar seraya melirik ke arah Rima seolah meminta persetujuan.
__ADS_1
Karena ya, wanita itu merupakan orang yang lebih mengerti akan kondisi Vanya sebab dia orang yang lebih banyak menghabiskan waktu bersama Vanya di bandingkan dengan Javer.
Rima yang mengerti akan hal itu pun mengangguk kecil pertanda mengijinkan Haidar untuk membawa Vanya jalan-jalan di taman.
"Uhmmm..." Vanya tampak berpikir untuk sejenak sebelum akhirnya menganggukkan kepalanya. "Boleh.."
"Mau sekarang apa nanti?" Haidar bertanya seraya melihat jam yang terpasang di pergelangan tangannya.
Di mana waktu kini sudah menunjukkan pukul 14.47 WIB.
Vanya lantas melihat cuaca di luar sana lewat jendela kamarnya. "Sekarang aja gimana? Ini udah mulai sore kan?"
Haidar menganggukkan kepalanya. "Yaudah yuk.."
Vanya pun segera turun dari atas ranjangnya dengan Haidar yang selalu sigap membantunya.
"Mau jalan apa mau pake kursi roda?" Tanya Haidar.
"Jalan aja.." Sahut Vanya cepat.
Haidar mengangguk kecil. "Okay.."
"Jangan lama-lama ya.. Nanti jam 5 Vanya ada pemeriksaan soalnya." Kata Rima.
Haidar pun menganggukkan kepalanya.
Haidar lantas meminta Vanya untuk menggandeng lengannya sebelum mereka benar-benar keluar dari ruangan itu.
Karena kebetulan Vanya bukan pasien yang memiliki penyakit fisik, jadi gadis itu tidak memakai infus. Hal itu memudahkan Haidar untuk membawa Vanya berjalan-jalan di sekitaran taman karena mereka tidak harus mendorong tiang penyangga infus.
Ketika Haidar dan Vanya melewati lorong yang menuju taman, banyak dari para suster yang melihat ke arah mereka. Karena ini adalah kali pertama Haidar membawa Vanya keluar dari ruangan.
Namun, ada juga yang sebagian merasa iri kepada Vanya hingga menganggap kalau Vanya tidak lah pantas mendapatkan Haidar Terlebih lagi dengan kondisi mental Vanya yang seperti itu. Membuat mereka yang merasa iri pada Vanya semakin merasa tidak suka akan hubungan yang di jalin oleh keduanya.
Bahkan, ada salah satu suster magang yang berani berbisik dengan cukup keras hingga Haidar dan Vanya dapat mendengarnya.
"Cantik sih emang, tapi sayangnya sakit mental!!" Kata si suster magang itu.
Namun, saat Haidar hendak menegur suster itu, Vanya segera menahannya. Vanya tidak ingin terjadi keributan hanya karena hal yang memang benar adanya.
"Udah, biarin aja.. Kan mental gua emang sakit.." Vanya berkata lembut seraya menyunggingkan senyum kecilnya pada Haidar.
"Tapi Vaaaa.. Kalo ga di tegur, nanti tambah kelewatan!" Sahut Haidar dengan sedikit emosi.
"Udah si ah, biarin aja.. Nanti yang ada malah kita ga jadi jalan-jalan ke taman.."
Haidar yang tidak ingin mendebat Vanya pun hanya bisa menghela nafasnya. "Yaudah iya.. Biarin aja.."
"Duduk di sana yuk.." Vanya berkata seraya menunjuk salah satu kursi yang ada di bawah pohon yang cukup rindang.
Haidar menganggukkan kepalanya kemudian meminta Vanya melepaskan lengannya.
Vanya yang merasa sedikit bingung akan hal itu pun menatap Haidar dengan dahi yang mengernyit.
Namun, ketika pria itu merangkul pinggang ramping Vanya dengan cukup erat. Seketika saja membuat Vanya mencubit pelan pinggang Haidar.
__ADS_1
"Ini di rumah sakit Daaar... Orang-orang pada ngeliatin.." Vanya berkata dengan sedikit gemas seraya berusaha untuk melepaskan tangan Haidar yang melilit pinggangnya.
"Ya terus kenapa kalo di rumah sakit? Ada aturan yang ngelarang gua buat ngerangkul pinggang cewek gua? Engga kaaaan.."
"Terserah lah.." Pasrah Vanya.
Haidar pun hanya mengangkat bahunya acuh seolah tidak peduli dengan orang-orang yang menatap ke arah mereka. Pria itu lantas segera menuntun Vanya untuk mendekati kursi yang di maksud.
"Are you happy?" Tanya Haidar ketika mereka sudah duduk di kursi itu.
"Hmm.." Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Terus, tadi ngobrolin apa aja sama dokter Riza??" Pria itu bertanya seraya merangkul bahu sempit Vanya.
Vanya lantas menyandarkan kepalanya pada dada Haidar yang cukup bidang untuk pria seusianya.
"Hmm.. Apa ya.. Banyak sih.." Vanya berkata kemudian.
"Salah satunya deh.."
Namun, saat Vanya hendak menyahuti perkataan Haidar. Gadis itu tiba-tiba saja terdiam mematung tat kala melihat seseorang yang sangat di kenalnya tengah berdiri cukup jauh di hadapannya.
Hingga saat Vanya melihat orang itu menolah padanya dengan seulas senyum licik yang tersungging. Seketika saja membuat Vanya sedikit kesulitan untuk bernafas.
Haidar yang menyadari hal itu pun segera meminta Vanya untuk duduk dengan tegak.
"Va, are you okay?" Haidar bertanya dengan di penuhi rasa panik yang sangat tinggi.
Vanya menggelengkan kepalanya dengan mata yang terus tertuju pada orang itu.
Haidar yang merasa penasaran pun lantas melihat ke arah pandang yang di tuju oleh Vanya.
Namun sayangnya, sesaat sebelum Haidar berhasil menemukan orang yang membuat Vanya seperti ini. Orang itu sudah lebih dulu pergi sehingga Haidar tidak tahu siapa orang itu.
Mendengar nafas Vanya yang semakin tersengal-sengal seketika saja membuat rasa panik Haidar semakin menjadi.
"Va.. Tarik nafas pelan-pelan okay.." Haidar mencoba untuk bersikap tenang.
"Tarik nafas, buang.. Ikutin gua ya.. Pelan-pelan, okay.." Haidar mencoba agar Vanya bisa sedikit mengontrol nafasnya.
Namun sayangnya, alih-alih membaik, Vanya justru semakin kesulitan untuk bernafas.
"Haish. Shi...T." Haidar mengumpat tat kala Vanya tiba-tiba saja lemas.
Haidar yang sudah tidak bisa lagi mengendalikan rasa paniknya pun memilih untuk menggendong Vanya ala bridal kemudian segera membawa gadis itu menuju ruang UGD.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
__ADS_1
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..