Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Kembali Mengakrabkan Diri


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Hari ini adalah hari minggu, hari di mana menjadi hari libur untuk sebagian besar orang yang memiliki pekerjaan.


Salah satunya adalah Vanya. Gadis itu kini melewati hari liburnya dengan bermalas-malasan di kamar kos miliknya dengan di temani oleh Winda.


Ya, Winda.. Setelah hari-hari berlalu, Vanya dan Winda kini mulai mengakrabkan diri kembali.


Meskipun vanya masih belum bisa sepenuhnya mempercayai Winda, atau bahkan mungkin Vanya tidak akan pernah bisa mempercayai Winda hingga kapan pun itu. Namun Vanya tetap tidak menutup diri untuk kembali akrab dengan Winda.


Karena selain Winda sudah berjanji untuk tidak melakukan kesalahan yang sama, Winda yang sebelumnya Vanya kenal merupakan gadis yang baik dan juga selalu bersikap apa adanya. Membuat Vanya akhirnya mau mengakrabkan diri kembali dengan Winda.


Winda yang selama 2 jam terakhir ini menghabiskan waktunya dengan bermain ponsel seraya memakan beberapa camilan pun sudah mulai merasa bosan.


"Kak.." Ucap Winda.


Setelah menjeda film yang sedang dia tonton, Vanya yang saat ini tengah berbaring di kasur pun menoleh pada Winda yang sedang duduk di sofa yang terletak di dekat jendela.


"Hmm?" Sahut Vanya.


"Bikin makan yuk, aku laper.."


Vanya seketika saja mengernyitkan dahinya. "Laper?"


Winda menganggukkan kepalanya.


Vanya semakin mengernyitkan dahinya. "Kamu dari tadi ngemil ga kenyang?"


Winda menggelengkan kepalanya.


"Ck, ck, ck, ck, ck.." Vanya menggeleng-gelengkan kepalanya. "Kakah heran deh sama kamu.. Kamu tu badannya kecil, tapi porsi makannya ngelebih-lebihin kuli.."


Meskipun menggerutu, namun Vanya tetap beranjak dari kasurnya guna membuatkan makanan untuk Winda.


Winda yang melihat hal itu pun hanya bisa menampilkan cengiran lebarnya. Gadis itu lantas beranjak dari sofa kemudian mendekati Vanya yang tengah berkutat dengan bahan-bahan makanan di dapur kecil yang ada di kamar kosnya.


"Kakak mau bikin apa?" Tanya Winda.


"Bikin omlete mau? Kakak cuma punya mie instan sama telur. Kakak belum sempet belanja, males pergi ke pasarnya."


Winda menganggukkan kepalanya. "Yang penting bisa bikin kenyang."


"Yaudah, kalo gitu kamu pecahin telurnya terus campurin bumbu mie nya ke telur. Kakak rebus mie nua dulu."


"Ok." Ucap Winda kemudian melakukan apa yang di katakan oleh Vanya.


Mereka pun memasak dan menikmati hasil masakan mereka dengan khidmat, mereka duduk di lantai dengan beralaskan karpet yang cukup tebal.


"Aaahh, kenyang.." Winda berkata kemudian menyandarkan punggungnya pada sofa.


"Yakin kenyang?" Tanya Vanya.


"He em.." Winda mengangguk-anggukkan kepalanya.


Vanya lantas segera merapikan alat-alat makan yang sebelumnya mereka gunakan. Vanya lalu mendekati meja komputernya untuk mengambil sebungkus rokok dan pematik api yang dia simpan di dalam laci mejanya.


Gadis itu kemudian duduk di ambang pintu masuk kosnya dengan menghadap ke arah luar untuk menikmati pemandangan luar kosnya.


Vanya lalu mengeluarkan sebatang rokok kemudian mulai menyesap rokok itu setelah sebelumnya dia nyalakan.

__ADS_1


Winda yang melihat hal itu pun seketika menatap Vanya dengan di penuhi rasa penasaran.


"Kak?" Ucap Winda.


"Hm?" Vanya menyahut tanpa mengalihkan pandangannya dari pemandangan luar kosnya.


"Boleh nanya sesuatu ga?" Winda bertanya dengan sedikit ragu.


"Nanya apa?"


"Sejak kapan kakak mulai ngerokok?"


"Sejak kelas 2 SMP kalo ga salah." Vanya menyahut seakan tanpa beban.


"Sejak kelas 2 SMP?" Winda menatap Vanya dengan wajah melongo tak percaya.


Vanya menoleh pada Winda kemudian menganggukkan kepalanya.


"Emang masalah kakak se berat itu ya?" Winda menatap Vanya dengan sedikit sendu.


Namun, Vanya hanya menanggapinya dengan mengangkat bahunya acuh.


Melihat hal itu, lantas membuat Winda menghela nafasnya untuk sejenak. Gadis itu meraih tasnya kemudian mengeluarkan memori card yang sebelumnya di berikan oleh Nisa.


"Ini punya kakak." Ucap Winda seraya menyerahkan memory card itu pada Vanya.


Vanya menatap memori card itu dengan sedikit bingung. "Memori card?"


Meskipun merasa sedikit bingung, namun Vanya tetap memori card itu. Melihat ada coretan pena berbentuk X yang tertera di atas memori card itu, seketika saja membuat Vanya menatap Winda dengan alis yang menukik tajam.


"Kamu dapet memory card ini dari mana?" Tanya Vanya cepat.


"Dari kak Nisa." Winda menyahut dengan sedikit lirih.


Winda perlahan menganggukan kepalanya.


Melihat Winda yang menganggukkan kepalanya, seketika saja membuat Vanya menghela nafasnya dalam-dalam.


"Maaf ya kak.." Lirih Winda.


"Kita udah sepakat buat ga bahas masalah ini lagi loh.."


Winda mengangguk-anggukkan kepalanya. "Ok.."


"Eh Win, kakak mau nanya deh sama kamu."


"Nanya apa kak?" Tanya Winda.


"Emangnya di sekolah ga ada rumor tentang kakak yang ga lulus sekolah? Kok kayaknya kakak ga pernah denger temen-temen kamu ngomongin hal ini."


Winda menggelengkan kepalanya. "Setauku sih engga kak. Mereka cuma bahas tentang alesan kakak ga ada di hari pengumuman peringkat kelulusan."


"Yakin?"


"He em." Winda mengangguk dengan mantap.


Karena ya, entah kenapa dan entah bagaimana, sama sekali tidak ada rumor yang mengatakan kalau Vanya tidak lulus sekolah.


Meskipun di saat pengumuman ranking kelulusan tidak ada nama Vanya yang di sebutkan, namun tidak ada satu pun orang yang membahas tentang hal itu.


Jangankan Vanya, bahkan Winda saja benar-benar merasa bingung kenapa hal itu bisa terjadi.


"Kok aneh ya?" Vanya bergumam seraya berpikir tentang penyebab apa yang membuat rumor itu tidak terjadi.

__ADS_1


"Jangankan kakak, aku aja bingung. Padahal kan waktu pengumuman peringkat kelulusan itu kakak ga ada." Sahut Winda.


"Tapi kak, beberapa hari sebelum pengumuman peringkat itu, kak Haidar sama ada 1 orang om-om dateng ke ruangan kepala sekolah." Tutur Winda.


"Om-om?" Vanya menatap Winda dengan sedikit bingung.


Winda menganggukkan kepalanya. "Iya kak, om-om.. Cakep, gagah, mirip sih sama kak Haidar."


"Apa mungkin itu papahnya kak Haidar?" Tanya Winda.


Mendengar hal itu, lantas membuat Vanya berpikir untuk sejenak. "Apa jangan-jangan? Ah, ga mungkin deh.." Gadis itu bergumam di dalam hatinya.


"Ah, udahlah, ga usah di bahas.. Biarin aja, kakak ga terlalu mikirin hak itu juga.. Toh kakak juga udah ga sekolah di sana." Vanya berkata seraya beranjak dari sana.


Vanya mendekati kasur kemudian merebahkan tubuhnya di atas kasur itu.


"Tapi kak, terus gimana caranya biar kakak dapet ijazah?" Tanya Winda.


Vanya menyunggingkan senyum kecilnya kemudian berkata. "Kakak masih bisa ikut ujian buat dapetin ijazah pake C."


"Berarti kakak masih bisa kuliah dong?" Winda menatap Vanya dengan penuh antusias.


Vanya menoleh pada Winda kemudian menganggukkan kepalanya.


"Bagus deh kalo gitu.." Ucap Winda kemudian merebahkan tubuhnya di samping Vanya.


Winda lantas memiringkan tubuhnya agar menghadap ke arah Vanya.


"Kak?" Ucap Winda.


"Hm?"


"Boleh peluk ga?" Winda bertanya dengan sedikit ragu.


Vanya seketika saja menaikkan sebelah alisnya. Tapi, meskipun begitu, Vanya tetap menganggukkan kepalanya.


Mendapat ijin dari Vanya, lantas membuat Winda segera memeluk Vanya.


"Rasanya kayak punya kakak.." Ucap Winda.


"Kok gitu?" Tanya Vanya cepat.


"Aku sama kak Wulan ga gitu deket, jadi ga pernah se akrab ini." Lirih Winda.


"Yaudah, kalo gitu anggep aja aku sebagai kakak kamu."


"Makasih kak.." Ucap Winda seraya semakin mempererat pelukannya.


Vanya seketika saja terkekeh kecil kemudian membalas pelukan Winda.


...-TBC-...


THanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..

__ADS_1


__ADS_2