
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah Vanya memberikan beberapa rekomendasi tempat wisata untuk mereka datangi, Vino pun memutuskan untuk mengajak Vanya mendatangi hutan pinus.
Kini, mereka tengah berjalan menyusuri jalan setapak yang memang di buat untuk para pengunjung yang ingin menyusuri setiap sudut hutan pinus itu.
"Va, kamu sering dateng ke sini?" Vino mencoba untuk memecah keheningan.
"Ya?" Vanya menoleh pada Vino yang berjalan di samping kanannya dengan mata yang mengerjap. Gadis itu merasa sedikit kikuk karena Vino tiba-tiba saja mengubah panggilannya yang semula 'Elu' menjadi 'Kamu'.
"Kamu sering dateng kesini?" Vino mengulangi pertanyaannya.
Meskipun Vino menyadari kalau Vanya merasa sedikit kikuk atas dirinya yang tiba-tiba saja mengubah panggilannya, namun Vino sengaja mengabaikan hal itu. Vino sengaja ingin lebih mendekatkan diri dengan Vanya dengan cara mengubah panggilannya menjadi 'Aku' dan 'Kamu'. Lagi pula, bukan kah itu terdengar lebih manis jika di bandingkan dengan 'Elu' dan 'Gua'?
Melihat Vino yang bersikap biasa saja, lantas membuat Vanya berusaha mengabaikan hal itu. Meskipun terdengar sedikit aneh, namun Vanya tetap mengikuti apa yang Vino inginkan. Anggap saja Vanya sedang bersikap lebih sopan pada Vino.
Toh, sedari awal juga Vino yang memintanya untuk berbicara dengan Vino menggunakan 'Elu' dan 'Gua'. Jadi, jika Vino ingin mengubah hal itu menjadi 'Aku' dan 'Kamu', Vanya pun akan menurutinya.
"Aa, itu.. Engga terlalu sih.. Cuma beberapa kali aja.."
Vino mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Mau beli minum ga?" Tanya Vino kemudian.
"Emm, boleh.." Sahut Vanya.
Mereka pun mendatangi salah satu pedagang yang ada di sana.
Setelah memesan minuman, mereka pun duduk di salah satu meja yang memang di sediakan oleh pedagang itu.
"Va, kamu punya pacar ga?" Tanya Vino.
Vanya yang mendengar pertanyaan tiba-tiba dari Vino, seketika saja menoleh pada pria itu dengan sedikit bingung.
"Ha?" Vanya mengerjapkan matanya.
Entah kenapa, hari ini otak Vanya tiba-tiba menjadi lambat dalam mencerna setiap kalimat yang di ucapkan oleh Vino.
__ADS_1
"Aku terlalu to the point ya?" Vino mengusap tengkuknya canggung.
"A, ha ha.." Vanya tertawa canggung. "It's okay, no problem." Gadis itu kembali menatap pemandangan hutan pinus yang menyegarkan matanya.
"So?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Aku ga punya pacar."
Vino seketika saja menyunggingkan senyum kecilnya, rasa senang tiba-tiba saja melingkupi hatinya.
"Tapi, kamu udah pernah pacaran kan?" Tanya Vino.
Vanya mengangguk perlahan. "Udah."
Sudah cukup, Vino tidak akan mengorek lebih jauh lagi. Mendengar jawaban kalau Vanya tidak memiliki kekasih saja sudah lebih dari cukup untuk Vino. Karena dengan begitu, Vino memiliki kesempatan untuk mendapatkan gadis itu.
"Kakak sendiri gimana, punya pacar?" Gadis itu menoleh pada Vino.
Vino menggelengkan kepalanya. "Udah putus 2 tahun yang lalu."
Vanya pun ber 'Oh' ria. "Oooh.."
Vanya menatap Vino dengan menaikkan sebelah alisnya. "Kenapa? Kakak ngerasa tua."
"Tcih!" Vino memalingkan wajahnya dengan smirk yang tersungging di bibirnya, dia sedikit tidak mengira kalau Vanya ternyata memiliki mulut yang cukup pedas.
Vanya lantas terkekeh kecil. "Engga dulu deh, mau fokus kerja dulu. Pengen memperkaya diri sendiri dulu, biar ga ada yang ngeremehin. Punya banyak duit aja terkadang masih suka di remehin, apa lagi kalo jadi orang ga punya. Makin makin.."
Vino mengangguk setuju, karena meskipun Vino merupakan orang kaya dan memiliki banyak harta. Terkadang, orang masih saja kerap kali memandang rendah dirinya.
"Engga nyari cowok yang kaya aja gitu?"
Vanya menggelengkan kepalanya. "Tapi kalo emang dapetnya yang kaya sih, ya bersyukur. Anggap aja itu bonus." Gadis itu menampilkan cengirannya. "Tapi kalo untuk sekarang sih, aku masih pengen fokus kerja, belum ada niatan buat mikirin pacar. Masih agak males buat mikirin hubungan."
"Tapi, kalo misal ada cowok yang ngedektin kamu dalam waktu dekat, kamu akan ngerasa ga?" Vino bertanya dengan sedikit ragu.
Entah kenapa, hari ini Vino tiba-tiba saja menjadi orang yang memiliki rasa penasaran yang sangat tinggi. Biasanya, Vino bukanlah orang yang seperti ini. Ah, entahlah.. Selama lawan bicaranya adalah Vanya, Vino rela berubah menjadi orang yang banyak berbicara.
"Kalo untuk itu sih, aku bingung harus jawab apa. Tapi kalo emang dalam waktu dekat ada cowok yang ngedeketin aku, aku sih ga akan mempermasalahkan. Toh, cuma deket kan.. Ga ada salahnya juga buat deket sama cowok. Cuma kalo cowok itu ngajakin pacaran, aku psti mikir-mikir dulu.. Soalnya, kalo buat aku pribadi. Nerima cowok buat jadi pasangan itu ga semudah kayak kita nerima seseorang buat jadi temen kita. Terkadang, kita mau nerima seseorang buat jadi temen aja masih mikir, apa lagi kalo buat jadi pasangan." Tutur Vanya.
Sejujurnya, tanpa harus di jelaskan pun, Vanya sudah mengetahui maksud dari pertanyaan yang di lontarkan oleh Vino. Namun, meskipun begitu, Vanya tetap akan berusaha menanggapi Vino dengan sebaik mungkin.
__ADS_1
Vanya tidak ingin terlalu memberikan harapan kepada Vino, tapi Vanya juga tidak ingin menyinggung atau pun menyakiti perasaan Vino. Oleh sebab itu, Vanya berusaha memberika penjelasan yang sekiranya akan mudah di pahami oleh Vino.
Toh, pada kenyataanya, Vanya memang belum siap jika harus memulai kembali suatu hubungan. Bukan karena Vanya masih mengutamakan perasaannya pada Haidar, tapi karena Vanya memang masih merasa enggan untuk kembali beradaptasi dengan suatu hubungan yang di namakan dengan pacaran.
Vino pun mengangguk-anggukkan kepalanya. Meskipun jawaban yang di berikan oleh Vanya terdengar seperti penolakan secara tidak langsung, namun Vino tetap tidak akan menyerah untuk menjadikan gadis itu sebagai pasangannya.
Bukan lagi karena rasa penasarannya, melainkan karena rasa yang kini perlahan benar-benar mulai tumbuh di hatinya. Rasa yang tumbuh itu bukan semata-mata karena visual Vanya yang di atas rata-rata gadis indonesia pada umumnya, melainkan karena kepribadian dan pola pikir gadis itu yang sedikit sulit untuk di temukan dari para gadis yang ada.
Lagi pula, Vino juga merasa kalau dirinya sudah cukup untuk melajang selama 2 tahun terakhir ini. Vino kini sudah siap untuk kembali memulai suatu hubungan yang baru. Jadi, Vino akan berusaha sebaik mungkin agar bisa membuat Vanya menjadi kekasihnya.
Ya, meskipun hal itu terdengar sedikit sulit. Namun Vino tetap akan meyakinkan dirinya sendiri kalau hal itu bisa menjadi kenyataan.
"Mau jalan lagi ga?" Tanya Vino kemudian.
"Emm.. Boleh.." Sahut Vanya.
Gadis itu lantas beranjak dari duduknya untuk membayar minuman yang sebelumnya mereka pesan.
Namun, Vino segera menghentikannya.
"Ga usah, aku aja.. Kan aku yang ngajak jalan, jadi biar aku aja yang bayar." Kata Vino.
"Ok." Ucap Vanya.
Vino lantas segera membayar pesanan mereka.
Setelahnya, mereka pun kembali berjalan menyusuri hutan pinus.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1