
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed......
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Vanya menghela nafas untuk yang ke sekian kalinya, dia menatap sekeliling rungan bercatkan warna abu-abu itu dengan tatapan lesu.
Tidak ada banyak hal yang terdapat di dalam ruangan itu. Bahkan, ruangan itu tidak memiliki jendela atau pun fentilasi udara.
Di dalam ruangan itu hanya ada 1 kasur berukuran kecil, 1 sofa, dan satu meja yang terletak di sudut ruangan. Sofa yang di mana kini tengah Vabya duduki.
Selagi Vanya sendiri, dia kini berusaha untuk berpikir keras bagaimana caranya dia untuk meloloskan diri dari orang-orang itu.
Ya, Vanya kini tidak lagi bersama dengan beberapa orang yang tadi.
Tepat setelah salah satu dari 4 pria itu keluar dari ruangan, Palkan meminta salah satu pria lainnya untuk membawa Vanya ke dalam ruangan ini.
Beruntungnya, Vanya kini sudah tidak dalam keadaan terikat. Sehingga kini dia bisa merenggangkan otot tangan dan kakinya yang terasa kebas akibat terlalu lama di ikat.
Sebenarnya, Vanya merasa sedikit penasaran tentang apa yang kini tengah di rencanakan oleh orang-orang itu untuknya. Karena samar-samar, Vanya dapat mendengar kalau seseorang akan membelinya.
Vanya kembali menghela nafasnya, dia menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa.
Apa kah hidupnya benar-benar harus berakhir menjadi budak dari seseorang?
Kenapa hidupnya harus berakhir tragis seperti ini?
Apa dosa yang dulu pernah dia lakukan sehingga dia kini mendapatkan penderitaan hidup yang tiada habisnya?
Pertanyaan demi pertanyaan itu lagi dan lagi muncul di dalam benak Vanya.
Belum sempat Vanya selesai merilekskan pikirannya, dia harus kembali di buat lelah karena 2 orang pria tadi sudah kembali datang menemuinya.
Vanya pun hanya bisa mengleha nafasnya tanpa ada niat untuk memberontak sedikit pun.
Hal itu mampu membuat kedua orang pria itu tidak lagi bersikap kasar pada Vanya.
Mereka kini memperlakukan Vanya selayaknya seorang manusia.
"Kamu laper ga?"
Tanya pria berbaju biru.
Vanya menoleh pada pria itu, menggelengkan kepalanya.
"Cuma haus.." Lirih Vanya.
Pria berbaju hitam pun memberikan sebotol air mineral pada Vanya.
Vanya menatap botol itu dengan sedikit ragu.
"Tenang aja, ini masih baru. Dari pada nanti kamu dehidrasi."
Vanya pun menerima botol itu. Karena sejatinya, Vanya memang sudah benar-benar merasa haus. Bahkan tenggorokannya sudah terasa sangat kering.
__ADS_1
"Kamu ga ada niat buat ngelawan?"
Vanya menoleh pada pria berbaju hitam kemudian menyunggingkan senyum kecilnya.
"Buat apa? Bukannya percuma ya? Ngelawan juga tetep bakalan ada di sini. Dari pada buang buang tenaga yang pastinya bakalan nyakitin diri sendiri, mending diem kan."
Pria berbaju hitam itu mengusap tengkuknya, dia tidak bisa menanggapi perkataan Vanya. Karena mau bagaimana pun, memang begitulah adanya.
Pria berbaju biru lantas mengeluarkan tali dari dalam saku celananya.
"Di iket lagi ga papa kan? Saya cuma nurutin perintah."
Vanya menganggukkan kepalanya, dia menjulurkan kedua tangannya untuk di ikat oleh pria itu.
"Ini pertama kalinya saya ketemu sama cewek kayak kamu. Ga ada rasa takut, ga ada keinginan buat ngelawan. Coba aja kalo semua cewek kayak kamu, mungkin saya juga ga bakalan nyakitin mereka."
Vanya hanya bisa menyunggingkan senyum kecilnya. Dia tidak bisa menyalahkan pria itu.
Vanya tau, itu sudah menjadi pekerjaannya. Dia hanya melakukan apa yang sudah menjadi tugasnya.
Di jaman sekarang, mencari pekerjaan memang bukan lah hal yang sangat mudah. Jadi wajar saja jika pria itu memilih bekerja di tempat ini.
Hingga tiba-tiba saja..
"Oh, sh**it!!"
Vanya mengumpat tat kala pandangan matanya tiba-tiba saja menjadi buram.
Vanya lantas menatap kedua pria itu dengan sangat nyalang.
Sungguh, Vanya benar-benar merasa menyesal atas kebodohan yang dia lakukan sendiri.
"Maafin saya ya.."
Hanya sederet kalimat singkat itu yang menjadi kalimat terakhirnya yang Vanya dengar.
Karena setelahnya, Vanya benar-benar kehilangan kesadarannya.
.......
.......
.......
The Luxe Hotel...
"Hngghh!"
Vanya menghela nafas seraya memejamkan kedua matanya dengan sangat erat, dia mencoba untuk menahan kepalanya yang terasa sangat berdenyut.
Tapi sedetik kemudian, Vanya membuka kedua matanya lebar-lebar saat merasakan betapa nyamannya kasur tempat di mana dia kini tengah berbaring.
Netranya menangkap langit-langit kamar berwarna putih yang terlihat sangat bersih.
Tunggu dulu, di mana dia sekarang? Kenapa tempat ini nyaman sekali? Apa dia benar-benar sudah di jual?
__ADS_1
Mengingat hal itu, Vanya seketika saja menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya.
Masih utuh?
Vanya mengernyitkan dahinya melihat pakaiannya yang masih terpasang dengan rapi. Bahkan tubuhnya pun tidak merasakan sakit barang sedikit pun.
Vanya tiba-tiba saja merasa penasaran, jika dirinya benar-benar di beli oleh seseorang. Pria macam apa yang membeli dirinya? Juga, berapa harga yang pria itu keluarkan untuk membeli dirinya?
Kenapa pakaiannya masih utuh? Bukan kah pria itu bisa saja memanfaatkan kesempatan saat Vanya tidak sadarkan diri?
"Aku bukan cowok baji**ngan yang bakalan memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan Va.."
Vanya seketika saja terdiam kaku, jantungnya berdetak dengan sangat cepat seolah akan bergeser dari tempatnya.
Demi Tuhan, suara pria yang baru saja berbicara terdengar sangat familiar di telinga Vanya.
Jujur saja, Vanya merasa penasaran akan sosok pria yang baru saja berbicara. Namun Vanya terlalu takut untuk menoleh. Vanya juga tidak tahu, kenapa rasa takut itu tiba-tiba saja datang menghinggapinya.
Vanya berusaha untuk menahan rasa penasarannya. Tapi.. Tidak bisa.. Vanya tidak bisa menahan rasa penasarannya.
Perlahan, dia menoleh ke arah sumber suara.
Waktu seolah berhenti saat itu juga, Vanya benar-benar terdiam kaku melihat sosok pria yang sebelumnya berbicara.
Apa kah saat ini dia tengah bermimpi? Apa kah saat ini dia tengah berhalusinasi? Jika ya, tolong sadarkan Vanya dari mimpinya. Tolong sadarkan Vanya dari khayalannya.
Karena di sana, di atas sofa yang terletak di sudut ruangan, tengah duduk seorang pria yang sangat di kenalinya. Seorang pria yang sempat mewarnai kehidupannya yang suram.
Seorang pria yang sempat membuat Vanya bisa tersenyum. Seorang pria yang sempat membuat Vanya bisa tertawa terbahak-bahak. Seorang pria yang 3 tahun lalu sempat mengisi ruang kosong di hatinya.
Ah, tidak.. Kalau boleh jujur.. Pria itu masih ada di dalam hatinya hingga saat ini.
"Haidar?" Lirih Vanya.
Ya.. Pria itu tidak lain dan tidak bukan adalah Haidar.
Pria yang tidak hanya mampu membuat Vanya merasa bahagia. Tapi juga pria yang mampu membuat Vanya merasakan sakit yang amat luar biasa.
*Note : Anggap aja dia duduk di sofa ya wakk :D Ingat, gambar hanya sekedar ilustrasi..
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1