
...Happy reading π...
...Hope you enjoyed......
...----------------...
The Bull Cafe...
"Ooooh.. Jadi itu yang namanya Vino."
Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya, tangan kanannya terus saja memainkan minuman miliknya, dengan tangan kirinya yang menopang kepalanya dengan bertumpu pada meja. Pandangan mata gadis itu tidak teralihkan dari gelas bersisi minuman yang tengah mainkan.
Entah apa yang ada di pikiran Vanya saat ini, wajahnya terlihat sedikit murung selepas bertemu dengan Vino dan ibunya.
"Lu mikirin apa sih Va?"
Vanya menggeleng kecil. "Ga papa."
"Ga papa gimana? Lu dari tadi murung kayak gitu. Itu juga apa tu, minuman tu di minum, bukan cuma di ubek-ubek ga jelas kayak gitu."
Vanya meliril Nisa sekilas, dia lantas menghela nafas kemudian menegakkan tubuhnya.
"Gua jahat banget ga sih?"
Nisa mengernyitkan dahinya. "Jahat? Maksudnya?"
"Kalo di pikir-pikir lagi nih ya, sadar atau ga sadar, gua tu udah ngasih harapan yang besar loh buat kak Vino."
"Ooooh.. Jadi karena itu?"
"Hu um." Vanya mengangguk-anggukkan kepalanya. "Lu ga liat apa muka dia tadi kayak gimana setelah denger gua mau nikah. Gua kayak ngerasa bersalah aja gitu karena selama ini udah ngasih harapan yang besar. Soalnya, gua juga ngilangnya tanpa kabar. Ga ada pamit, ga ada ngomong, gua tiba-tiba ga bales chat dari dia, ga ngangkat telpon dari dia. Gua ngerasa kayak jadi udah ngasih harapan palsu tau ga. Masalahnya tu, dia udah pernah ngungkapin perasaannya ke gua."
Nisa terdiam untuk sejenak. "Ya parah sih emang kalo kayak gitu mah. Kalo emang ga ada niat buat ngejalanin hubungan lebih jauh, harusnya lu ga usah ngasih harapan sama dia dari awal."
Vanya seketika saja mengernyitkan dahinya, dia merasa janggal dengan apa yang di katakan oleh Nisa.
"Eh be**go!! Lu ya yang ngajarin gua buat kayak gitu! Katanya suruh di jalanin aja dulu, kek mana sih.. Kok malah sok-sokan ngasih tau gua kayak gitu."
"Eeeeehhh..." Nisa sedikit memundurkan tubuhnya, dia menatap Vanya dengan sengit. "Ya tapi kan gua ga ngajarin lu buat pergi kayak gitu aja Va.. Lagian juga kan itu posisinya kita ga tau kalo Haidar bakalan balik. Gua kan sebagai temen lu mencoba untuk membuat lu bangkit kembali. Gimana sih!"
"Bangkit? Lu kira gua mati apa?"
"Sebelas dua belas lu sama orang mati."
"Tcih!"
Vanya memalingkan wajahnya dengan mulut yang terus saja menggerutu.
"Tapi yaudah si Va.. Yang penting kan lu ga minta dia buat nunggu kan?"
"Ya engga sih, gua cuma bilang kalo belum siap. Dia bahkan bisa nebak dengan sangat tepat sasaran kalo alasan gua nolak dia karena gua masih terjebak dengan masa lalu."
"Terus terus?"
"Ya ga terus terus.. Yaudah gitu aja.. Lagian juga gua udah mulai hilang komunikasi sama dia semenjak Haidar dateng. Toh, si Vino juga sempet ketemu sama Haidar. Pastinya sih dia secara langsung udah tahu kalo masa lalu yang gua maksud tu ya si Haidar."
"Haaa??!!" Nisa mengerjapkan matanya. "Mereka pernah ketemu? Lu temuin gitu?"
__ADS_1
"Ga lah, gila aja.. Ga sengaja ketemu kita tuuu.. Cafe tempat biasa kita nongkrong tu ternyata punya tantenya dia. Nah ya gitu lah pokoknya.."
"Tapi kalo di pikir-pikir, kesian juga ya anak orang, elu php in. Tapi yaudah si Va, yang udah ya udah.. Ga usah di pikirin.. Toh udah berlalu juga kan. Fokus sama apa yang mau lu jalanin aja, si Vino juga pasti paham kok."
Vanya menghela nafasnya untuk sejenak. "Mudah-mudahan lah ya..."
Drrrrrtttt!! Drrrrtttt!!!
Vanya meraih ponselnya yang tiba-tiba saja bergetar.
"Siapa?" Nisa menatap Vanya dengan sangat penasaran.
Vanya pun menunjukkan layar ponselnya yang menunjukkan kalau Haidar lah yang saat ini sedang menelponnya.
"Bentar ya, gua angkat dulu."
Nisa menganggukkan kepalanya.
Vanya pun segera mengangkat panggilan itu.
"Halo?"
π (Halo sayang.. Kamu di mana?)
"The Bull Cafe. Kenapa?"
π (Yang di jalan xxx apa yang di jalan xyz?)
"Yang di jalan xxx. Kenapa emangnya?"
"Eemm.." Vanya tampak berpikir untuk sejenak. "Ngapain? Aku ga pernah kesitu loh."
π (Kesini aja dulu.)
"Terus Nisa gimana? Aku sama dia kan satu mobil."
π (Minta tolong sama Nisa buat nganterin kamu ke kantor. Nanti kamu pulangnya bareng sama aku.)
"Ok deh."
π (Yaudah, aku tunggu ya..)
"Hmm.."
Sambungan pun terputus.
"Apa katanya?"
"Gua di suruh ke kantor."
"Tumben, ada apa?"
Vanya mengedikkan bahunya. "Ga tau, cuma di suruh ke sana aja."
"Yaudah kalo gitu, ayo gua anterin, terus gua tinggal. Nanti lu baliknya pasti bareng Haidar kan?"
Vanya menganggukkan kepalanya seraya menatap Nisa dengan tidak enak hati. "He em.. Ga papa?"
__ADS_1
"Ck! Ga papa.. Kayak sama siapa aja."
Vanya pun menyunggingkan senyumnya. "Yaudah yok kalo gitu."
.......
.......
.......
Di sisi lain..
OT Company...
"Vanya suka ga ya?"
Haidar menatap kalung berlian yang baru saja dia beli untuk Vanya dengan tatapan penuh keraguan.
Tidak, Haidar tidak ragu untuk memberikannya pada Vanya. Hanya saja, Haidar merasa ragu kalau Vanya akan menyukai kalung itu. Terlebih lagi, Vanya adalah tipikal seorang gadis yang tidak terlalu menyukai barang mewah.
Bahkan, saat ini saja Vanya hanya memakai aksesoris berupa anting dan cincin pertunangan mereka. Cincin pertunangan mereka pun hanya cincin sederhana yang memang di pilih langsung oleh Vanya.
Haidar terkadang merasa bingung, kenapa Vanya terlalu berbeda dari kebanyakan gadis yang lainnya. Di saat kebanyakan gadis di luaran sana sibuk shoping dan bermain, Vanya justru memilih untuk sibuk dengan pekerjaannya.
Jika seperti itu terus, lantas untuk apa Haidar mencari uang dengan susah payah?
Ayolah.. Haidar mencari uang tidak untuk dirinya sendiri. Dalam bayangan Haidar, Vanya akan terus memakai uang yang di hasilkan Haidar untuk kesenangan gadis itu.
Tapi, apa yang di bayangkan oleh Haidar benar-benar jauh di luar ekspetasinya. Bukannya berkurang, uang yang di miliki Haidar semakin lama justru semakin bertambah.
Ah, jangankan berkurang, hilang satu peser pun tidak. Bagaimana akan berkurang jika Vanya saja lebih memilih untuk menggunakan uangnya sendiri dari pada meminta dari Haidar.
Tapi ya sudahlah, mau bagaimana lagi, memang sudah seperti itu. Mungkin saja Vanya merasa tidak enak hati untuk meminta uang padanya karena mereka belum menikah.
Ya, mungkin saja seperti itu..
Kalau mereka sudah resmi menjadi suami istri, Haidar akan memaksa Vanya untuk memakai uang yang dia hasilkan. Kalau Vanya tetap tidak ingin memakai uang yang di hasilkan Haidar, Haidar bersumpah, dia akan mengurung Vanya di kamar sampai Vanya mau menggunakan uang yang dia hasilkan.
Haidar tiba-tiba saja terkekeh geli memikirkan rencana konyol yang terbentuk di benaknya.
"Hah.. Sudahlah.."
Haidar beranjak dari kursinya, dia pun berlalu pergi dari ruangannya untuk menunggu kedatangan Vanya di lobby.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Dan jangan lupa beri dukungan berupa like juga follow..
Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..
Pokoknya.. Salam sayang dari sensi π
Bye bye..
__ADS_1