Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)

Ivanya Basudewi (Belenggu Kehidupan)
Teman Yang Selalu Bisa Diandalkan


__ADS_3

...Happy reading 💕...


...Hope you enjoyed......


...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...


Vanya pun memutuskan untuk segera pergi dari sana. Namun, saat dia membalikkan tubuhnya, dia tidak sengaja menyenggol mobil lain yang terparkir di sana sehingga menimbulkan suara yang cukup nyaring. Yang mana, hal itu seketika membuat Haidar dan Wulan melihat asal suara.


Haidar sungguh merasa terkejut setengah mati ketika melihat Vanya yang kini tengah menatapnya dengan tatapan yang sulit di artikan.


"Fuc..k." Haidar mengumpat tat kala melihat Vanya yang berlalu pergi dari sana.


Haidar lantas menatap Wulan dengan sangat tajam. "Murahan!!" Ucap pria itu dengan sangat sarkas kemudian berlari untuk mengejar Vanya.


Meninggalkan Wulan yang kini menatap kepergian Haidar dengan air mata yang mulai mengalir membasahi pipinya.


*****


"Sia..lan!! Bang..sat!! Anjing lah!!" Haidar terus mengumpat tat kala dirinya benar-benar kehilangan jejak Vanya.


Pria itu lalu memutuskan untuk kembali ke tempat parkir kemudian mengemudikan mobilnya untuk menuju tempat kost Vanya dengan kecepatan penuh.


Namun sayangnya, saat Haidar sampai di tempat kos Vanya, dia sama sekali tidak melihat tanda-tanda keberadaan Vanya.


Haidar lalu menghampiri beberapa penghuni kos yang kebetulan sedang berkumpul di halaman.


"Misi, mau nanya. Penghuni kamar no 7 ada di kamarnya apa engga ya?"


Salah satu penghuni kamar kos itu pun menyahut. "Maksud masnya, Vanya?"


"Iya," Haidar menjawab seraya menganggukkan kepalanya.


"Kayaknya engga ada di kamar deh, mas. Soalnya dari kemaren juga belum keliatan."


Haidar yang mendengar hal itu pun menghela nafasnya. "Yaudah kalo gitu, permisi."


Haidar pun kembali masuk ke dalam mobilnya. Pria itu lagi-lagi menghela nafas kemudian mengusap wajahnya dengan kasar sebelum akhirnya kembali melajukan mobilnya menuju kediaman Nisa dengan perasaan yang tidak menentu.


Selama dalam perjalanan, Haidar terus mencoba untuk menghubungi Vanya. Namun sayangnya, Vanya sama sekali tidak bisa di hubungi karena gadis itu mematikan ponselnya.


Haidar yang merasa sangat frustasi pun melemparkan ponselnya ke kursi penumpang yang ada di sampingnya dengan sangat emosi. Proa itu lalu menambah kecepatannya agar segera sampai di kediaman Nisa.


Sesampainya di kediaman Nisa, Haidar segera turun dari mobil lalu melanglah menuju pintu. Pria itu menekan bel rumah Nisa dengan sedikit tergesa-gesa.


Setelah menekan bel untuk yang ke sekian kalinya, terlihat Nisa yang membukakan pintu dengan wajah yang sedikit bingung karena mendengar bel rumahnya yang berbunyi secara terus menerus.


Nisa yang melihat Haidar berada di rumahnya pun merasa semakin bingung karena tidak biasanya Haidar datang ke rumahnya.


"Tumben lu kesini, ngapain?" Nisa bertanya dengan dahi yang sedikit mengernyit.

__ADS_1


"Vanya ada di sini ga?" Sahut Haidar cepat.


Nisa yang mendengar hal itu pun semakin mengernyitkan dahinya. "Ga ada, Vanya ga kesini. Kenapa? Kalian berantem ya?"


Tangan kanan Haidar seketika terangkat untuk memijat pelipisnya. "Susah jelasinnya.." Pria itu lalu menatap Nisa dengan penuh harap. "Kira-kira lu tau ga Vanya ada di mana? Atau tempat kaya apa kek gitu yang bakalan di datengin sama Vanya?"


Nisa menggelengkan kepalanya. "Gua ga tau, lu tau sendiri kan kalo gua sama Vanya ga pernah pergi kemana-mana selain ke perpustakaan kota."


Haidar yang mendengar hal itu pun semakin merasa frustasi. "Yaudah kalo gitu, thanks ya." Haidar berkata kemudian berlalu pergi dari sana.


Namun, Haidar menghentikan langkahnya tat kala Nisa memanggilnya.


"Dar.."


Haidar pun menoleh pada Nisa.


"Gua ga tau masalah kalian apa. Cuma gua mohon banget sama elu, kalo emang elu udah ga sayang sama dia, jangan di selingkuhin ya. Di putusin aja. Se engga nya, nanti sakit hatinya ga bakalan terlalu parah. Toh kalo nanti dia nangis, dia masih punya bahu gua kok buat bersandar." Tutur Nisa.


Haidar yang mendengar hal itu pun seketika mengernyitkan dahinya. Haidar sungguh merasa sedikit janggal dengan perkataan Nisa yang seolah tau tentang permasalahan yang tengah di hadapinya dan Vanya.


Yang mana, hal itu membuat Haidar kini berpikir, apa jangan-jangan Nisa menyembunyikan keberadaan Vanya?


"Kok lu ngomong gitu Nis?" Haidar bertanya dengan tatapan mata yang memancarkan rasa curiga.


Namun, Nisa yang menyadarinya pun mengedikkan bahunya lalu berkata. "Gua cuma pesen aja, ga ada maksud apa-apa kok.. Inget, gua dari kecil udah hidup bareng sama Vanya. Dan gua tau banget, Vanya bukan tipe orang yang bakalan marah gitu aja buat hal yang sepele. Jadi ya, meskipun elu ga bilang ke gua masalahnya apa. Gua bisa nebak, kalo masalah kalian ada hubungannya sama orang ke 3."


Mendengar penjelasan Nisa yang cukup masuk akal, membuat kecurigaan yang Haidar rasakan seketika menghilang.


Nisa menganggukkan kepalanya.


Haidar pun segera pergi dari sana.


Setelah memastikan Haidar benar-benar pergi dari rumahnya, Nisa kembali masuk ke dalam rumah kemudian menghampiri Vanya yang kini tengah duduk di sofa ruang televisi.


Flashback On..


"Duh, siapa sih.. Ganggu istirahat aja ah.." Nisa menggerutu seraya beranjak dari kasurnya saat mendengar bel rumahnya yang terus saja berbunyi.


Namun, Nisa seketika merasa terkejut saat dirinya membuka pintu dan melihat Vanya yang menatapnya dengan mata yang sedikit berkaca-kaca.


"E,eh, lu kenapa? Sini masuk.." Nisa berkata seraya menarik tangan kiri Vanya untuk masuk ke dalam rumah.


Setelah menutup pintu, Vanya lalu mengganti sepatunya dengan sandal rumah yang memang sudah tersedia di dekat pintu.


"Mau cerita sekarang apa nanti?" Nisa bertanya setelah mereka duduk di sofa ruang televisi.


Namun, Vanya tidak menanggapi pertanyaan Nisa. Gadis itu hanya diam dan menatap layar televisi yang mati dengan tatapan sendu.


Nisa yang melihat hal itu pun hanya menghela nafasnya. "Yaudah, kalo gitu gua ambilin minum dulu ya." Gadis itu berkata seraya hendak beranjak dari duduknya.

__ADS_1


Namun, Nisa segera menghentikan niatnya itu tat kala Vanya menggenggam tangannya.


"Gua ngeliat Haidar ciuman sama temen kantor gua." Vanya berkata dengan sangat lirih.


Nisa yang mendengar hal itu pun seketika merasa sangat terkejut. "What? Gua ga salah denger kan?"


Vanya lalu menoleh pada Nisa yang duduk di samping kirinya. "Gua liat pake mata kepala gua sendiri."


"Terus lu ga ngelabrak mereka gitu?"


Vanya menggelengkan kepalanya. "Gua langsung pergi, tapi mereka ngeliat gua. Kayaknya Haidar sekarang lagi nyariin gua."


"Ish, kenapa ga elu labrak aja sih!! Hajar aja sekalian kalo bisa!!" Nisa berkata dengan sedikit bersungut-sungut.


"Gua nge blank, jadi gua pergi gitu aja." Sahut Vanya.


"Terus sekarang lu mau gimana?"


Namun, saat Vanya hendak menjawab, dia menelan kembali kalimatnya tat kala mendengar suara bel rumah yang terus berbunyi.


"Haidar kayaknya." Ucap Vanya.


"Yaudah, gua bukain pintu dulu."


"Jangan bilang kalo gua ada di sini ya."


"Ok," Ucap Nisa kemudian beranjak dari duduknya.


End of flashback..


"Orangnya udah pergi, katanya sih salah paham.. Dia minta lu buat ngangkat telponnya, biar dia bisa ngejelasin semuanya." Nisa berkata seraya duduk di samping Vanya.


Vanya lalu menoleh pada Nisa. "Tapi.."


"Udah ah, jangan di pikirin dulu.." Nisa menarik Vanya untuk masuk ke dalam pelukannya. "Mending sekarang lu tenangin hati sama pikiran lu dulu." Gadis itu berkata seraya menepuk-nepuk punggung Vanya dengan lembut.


"Kalo mau nangis, nangis aja ga papa, hmm.. Gua juga udah lama banget ga pernah liat lu nangis."


Vanya pun membalas pelukan Nisa dengan isakan kecil yang mulai keluar dari mulutnya.


...-TBC-...


Thanks for reading..


Jangan lupa kritik dan saran..


Dan jangan lupa beri dukungan..


Karena sesungguhnya, semangat sensi dalam membuat karya adalah dukungan dari wakk wakk sekalian..

__ADS_1


Pokoknya.. Salam sayang dari sensi 💕


Bye bye..


__ADS_2