
...Happy reading 💕...
...Hope you enjoyed.....
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Setelah membaringkan Vanya di kasur milik Nisa, Rima segera mencari minyak kayu putih untuk sedikit membantu agar gadis kecil itu cepat sadar. Setelah menemukannya, Rima lantas menyerahkan botol minyak kayu putih itu pada Nisa.
"Nis, kamu bangunin Vanya ya. Mamah bikinin teh anget dulu" ucap Rima.
Nisa pun menganggukkan kepalanya seraya menerima botol minyak kayu putih itu.
Rima pun segera berlalu menuju dapur untuk membuatkan segelas teh hangat.
"Vanya.." ucap Nisa seraya mendekatkan botol minyak kayu putih itu pada hidung Vanya.
Hingga tak lama kemudian, gadis kecil yang kini sedang terbaring itu terlihat mulai mengerjapkan matanya.
"Eunghh" Vanya sedikit melenguh kecil tat kala merasakan kepalanya yang sedikit berdenyut.
"Maaah.. Vanya sadar" ucap Nisa dengan sedikit berteriak.
Mendengar teriakan Nisa, Rima pun segera datang dengan membawa segelas teh hangat. Setelah meletakkan teh hangat itu di atas meja, Rima segera duduk di tepi kasur ketika melihat Vanya yang terlihat sedang menahan rasa sakit.
"Dimana yang sakit sayang?? Bilang sama tante, hmm" ucap Rima.
"Vanya pusing tante" ucap Vanya. Tangan gadis kecil itu terangkat untuk memegangi kepalanya yang terasa kian berdenyut.
"Duduk dulu yuk, minum teh anget biar pusingnya agak ringan" Rima berkata seraya membantu Vanya untuk duduk.
Nisa pun segera memberikan segelas teh hangat itu pada Vanya yang langsung di tenggak habis oleh gadis kecil itu.
"Makasih" ucap Vanya seraya menyerahkan gelas yang sudah kosong pada Nisa.
"Masih pusing banget ga?" tanya Rima seraya memijat kepala Vanya dengan lembut.
__ADS_1
Vanya menatap Rima lalu tersenyum. "Udah agak mendingan kok tan, makasih"
Nisa yang sudah meletakkan gelas itu ke atas meja pun segera naik ke kasur lalu duduk di samping Vanya.
"Iv.. Kamu kenapa kok bisa jadi kaya gini sih?" Nisa bertanya seraya menatap Vanya dengan mata yang terlihat sedikit berkaca-kaca.
Gadis kecil itu merasa sangat khawatir dengan kondisi temannya yang tidak baik-baik saja.
"Kalo kamu ga siap cerita sekarang ga papa kok sayang, mending kamu istirahat aja dulu" ucap Rima dengan suara yang sedikit tertahan.
Karena sungguh, Rima tidak bisa membayang tentang hal apa yang sudah di alami gadis kecil itu hingga membuat kondisinya yang kini terlihat sangat memprihatinkan.
Sejenak, Vanya menatap Nisa kemudian beralih menatap Rima, hingga tak terasa, air mata tiba-tiba mengalir membasahi pipinya. Tangan gadis kecil itu terangkat untuk menghapus air matanya sebelum akhirnya mulai menceritakan semua kejadian yang di alaminya selama ini.
Namun, gadis kecil itu tidak menceritakan tentang halusinasi yang sempat di alaminya. Biarkan dia menyimpan hak itu untuk dirinya sendiri.
Hingga saat Vanya selesai menceritakan semua hal yang di alaminya, tangan Rima tergerak untuk menarik gadis kecil itu ke dalam pelukannya.
"Ya ampun Vanya, kamu kenapa ga nyeritain hal ini dari dulu sih sama tante" ucap Rima dengan air mata yang juga mulai mengalir membasahi pipinya.
"Bener kan mah apa kata Nisa. Vanya tu pasti ga baik-baik aja. Setiap Vanya ga masuk sekolah, hati nisa tu pasti gelisah kepikiran Vanya" Nisa berkata dengan suara yang sedikit tersendat-sendat.
Setelah menghapus air matanya, Nisa kembali berkata. "Kamu kenapa sih Iv kok ga nyeritain hal ini dari dulu.. Kamu tu sebenernya nganggep aku temen apa bukan sih.. Meskipun aku ga bisa ngebantuin kamu, tapi se engga nya kan kamu agak ngurangin beban pikiran kamu"
Vanya lantas melerai pelukannya dengan Rima lalu menghapus air matanya. "Justru karna kamu itu temen aku, makanya aku ga berani verita ke kamu. Aku cuma ga mau bikin kamu khawatir sama keadaan aku"
"Terus papah kamu gimana?" tanya Rima.
"Papah kayanya udah ga sayang sama Vanya, soalnya papah ga pernah belain Vanya. Papah malah ikut-ikutan mukulin Vanya, padahal Vanya cuma ngelakuin kesalahan kecil. Makanya Vanya nekat kabur dari rumah" gadis kecil itu menjawab dengan air mata yang lagi-lagi mengalir membasahi pipinya.
Mendengar jawaban dari Vanya, seketika membuat Rima menghela nafasnya. Dia sungguh tidak menyangka, jika Bagas yang terlihat begitu lembut dan penyayang itu bisa melakukan hal se keji ini pada darah dagingnya sendiri.
Karena, meskipun dulu mantan suaminya juga merupakan orang yang tempramental, tapi setidaknya pria itu tidak pernah berani main tangan.
Rima pun lantas menggenggam tangan Vanya dengan lembut. "Yang udah terjadi biarin berlalu aja, yang penting sekarang kamu udah ada di sini dalam keadaan selamat. Untuk sekarang, bahkan sampai kapan pun kamu mau, kamu boleh tinggal di sini bareng sama tante sama Nisa. Kamar di rumah tante juga ada 3 yang kosong, sayang kalo ga di tempatin. Tante juga udah anggep kamu kaya anak tante sendiri, jadi jangan sungkan buat tinggal di sini. Anggep aja ini rumah kamu sendiri. Siapa tau papah kamu besok dateng nyari kamu kesini, hmmm.."
__ADS_1
"Iya Iv, lagian kalo kamu engga tinggal di sini, kamu mau tinggal di mana lagi.. Kalo kamu tinggal di sini kan kita bisa ngapa-ngapain bareng-bareng" Nisa menimpali perkataan Rima.
Vanya yang mendengar hal itu pun seketika berhambur ke dalam pelukan Rima.
"Makasih banyak tante, makasih banyak Nis.. Kalian bener-bener baik banget sama Vanya, Vanya ga tau harus ngebales kebaikan kalian pake cara apa." Vanya berkata dengan suara yang sedikit tersendat-sendat.
"Ga usah mikirin hal itu.. Tante seneng bisa ngebantu kamu.. Yang penting sekarang itu pikirin tentang masa depan kamu. Dengan kamu senyum aja udah bisa ngebales apa yang Tante kasih ke kamu, apa lagi kalo kamu bisa hidup sehat buat ngejar cita-cita kamu. Itu udah lebih dari cukup buat ngebales apa yang Tante kasih ke kamu" Rima berkata seraya menepuk-nepuk punggung Vanya dengan lembut.
Mendengar penuturan Rima, membuat Vanya semakin terisak pilu. Dia merasa sangat bersyukur karena menemukan orang yang mau merangkulnya dengan ikhlas.
Mulai saat ini, Vanya berjanji dalam hati, dia akan hidup dengan baik dan mengejar cita-citanya hingga sukses supaya kelak bisa membalas semua kebaikan yang telah di lakukan oleh Rima kepadanya.
"Udah udah, jangan sedih lagi, kan udah ada tante sama Nisa yang mulai saat ini bakalan selalu ada buat kamu" ucap Rima.
"Vanya ga sedih kok tante, Vanya bahagia banget bisa ketemu tante sama Nisa yang udah baik banget sama Vanya" ucap Vanya.
"Aaaaa sedih.. Ikut pelukan" ucap Nisa seraya ikut masuk ke dalam pelukan Rima.
Namun, sedetik kemudian, mereka tiba-tiba tertawa tak kala mendengar suara yang sedikit familiar di telinga mereka.
"Kamu laper ya Va, perut kamu keroncongan" ucap Nisa kemudian.
Vanya pun lantas melerai pelukannya lalu menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Hehe.. Iya, aku udah 2 hari belum makan"
"Yaudah yuk ke dapur, tante masakin nasi goreng buat kamu" ucap Rima.
...-TBC-...
Thanks for reading..
Jangan lupa kritik dan saran..
Salam sayang dari sensi 💕
Bye bye..
__ADS_1